oleh

STKIP Weetebula di Sumba Barat Daya Gelar Acara Wisuda Perdana.

RADARNTT, TambolakaHari Senin Tanggal 28 Januari 2019 merupakan hari istimewa dan hari bersejarah bagi Kampus STKIP Weetebula yang ada di Kabupaten Sumba Barat Daya, dimana 75 Mahasiswa/i diwisuda perdana pertama yang berlangsung di Gedung Serba Guna (GSG) Weetebula-SBD.

Dari 75 Mahasiswa/I yang diwisuda terdiri dari 4 program studi yang ada di Kampus STKIP Weetebula dan telah terakreditasi sesuai peraturan Kemenristidikti, diantaranya : Program Studi Pendidikan Matematika sebanyak 9 orang, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia sebanyak 15 orang, Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) sebanyak 41 orang, dan Program Studi Pendidikan Fisika sebanyak 10 orang.

Wisuda perdana ini dihadiri oleh Prof.Dr. I Nengah Dasa Astawa  M.Si selaku Kepala L2DIKTI, Uskup Weetebula Mgr. Edmund Woga, CSsR., Ketua Yayasan Nusa Cendana (Yapnusda) Romo Marsel P. Lamunde, Pr., dr. Kornelis Kodi Mete salah satu pendiri Kampus STKIP Weetebula, Bupati Sumba Barat Daya Markus Dairo Talu, SH.,dan pimpinan OPD Sumba Barat Daya serta orang tua dari wisudawan/i.

Penyampaian Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (L2 DIKTI) Prof.Dr I Nengah Dasa Astawa M.Si, mengatakan dalam sambutannya bahwa ia sangat senang dan bangga karena dirinya saat ini sedang berada di Kabupaten Sumba Barat Daya.

“Saya sangat senang berada di Pulau Sumba ini meskipun banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan, karena potensi alamnya yang sangat luar biasa,” ujarnya

Kepala L2 DIKTI ini juga menceritakan kedatangannya di Pulau Sumba yang sudah berkali-kali dengan tujuan untuk membantu, membina dan mengendalikan perguruan tinggi yang ada di tempat ini.

Selanjutnya Kepala L2 DIKTI menerangkan, bahwa Kabupaten Sumba Barat dan Sumba Barat Daya merupakan daerah potensi yang luar biasa sampai di pelosok-pelosok, maka dari dasar itulah Kepala L2 DIKTI mengajak seluruh pemerintah daerah yang ada di Pulau Sumba untuk mendukung dan membantu perguruan tinggi STKIP Weetebula menjadi lebih besar atau menjadi Universitas.

“Suatu daerah akan maju, apabila hadirnya pendidikan mulai dari tingkat bawah sampai di tingkat perguruan tinggi yang bisa mengangkat martabat daerah,” ungkap Dasa Astawa.

Kepala L2 DIKTI dalam sambutan juga menegaskan, jika ada dukungan dari pemerintah daerah dari 4 kabupaten yang ada di Pulau Sumba ini untuk memberikan rekomendasi, maka dirinya berjanji akan mengeluarkan rekomendasi agar STKIP Weetebula menjadi Universitas “jika ada dukungan dari pemerintah daerah yang ada di Pulau Sumba ini untuk merekomendasikan STKIP Weetebula menjadi Universitas, maka dalam tempo yang singkat ini saya akan keluarkan rekomendasi kalau STKIP ini dijadikan sebagai Universitas Weetebula, tak ada jalan lain karena di Sumba ini banyak SMA/SMK.” 

Beberapa pesan Kepala L2 DIKTI, yakni:

  1. Dalam waktu dekat ini menunggu Civitas Akademika STKIP Weetebula untuk merekomendasikan menjadi Universitas;
  2. Kepada yayasan civitas akademika, bahwa untuk mengelola Universitas sangat mudah, kuncinya adalah para pengurus yang bergerak di perguruan tinggi harus taat pada Permenristekdikti Nomor 50 tahun 2018 tentang perubahan atas Permenristekdikti nomor 44 tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi.

  3. STIMIKOM yang ada di Sumba Barat Daya ini juga bisa bergabung bersama dengan STKIP agar banyak Program studi yang ada di STKIP ini jika sudah berubah menjadi Universitas.

Diakhir sambutannya Kepala L2 DIKTI itu dengan penuh canda mengatakan,  “Semua wisudawan/i yang telah wisuda hari ini, mulai besok pagi jam 6 jangan lagi minta uang kepada orang tua, mulai bekerja untuk mencari uang sendiri dan cukup orang tuang tua memberikan numpang makan agar jangan kurus kering seperti tiang listrik.”

Penyampaian Ketua STKIP Weetebula Wilhelmus Yape Kii, M.Phil mengatakan, hadirnya STKIP Weetebula ini karena kurangnya tenaga guru di Pulau Sumba.

Menurut Wilhelmus Yape Kii, STKIP Weetebula didirikan pada tahun 2009 dan dicetuskan oleh Keuskupan Weetebula, Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Barat Daya, dan Yayasan Nusa Cendana (Yapnusda).

Ketua STKIP menceritakan keberadaan STKIP Weetebula sejak didirikan sampai saat ini hingga mencetak lulusan sarjana,
Menurut Yape Kii dalam sambutannya mengatakan, “Saat ini, STKIP Weetebula memiliki 1717 mahasiswa yang terinput dalam data PDDIKTI.”

Yape Kii juga mengapresiasi para pendiri STKIP Weetebula yang berani berpikir dan berbuat hal-hal yang tidak biasa, berkomitmen untuk terus berjuang, memanfaatkan semua kesempatan agar ijin pendirian bisa diperoleh.

Ketika STKIP dalam kondisi terpuruk, karena meninggalnya Ketua STKIP yang pertama tahun 2011 atas nama Alm.Norbet Ama Ngongo, M.Pd., menurut Yape Kii didera isu karena status yang belum jelas, desakan mahasiswa dan masyarakat yang terus menerus mempertanyakan kejelasan nasib mahasiswa, para pendiri tersebut tetap berdiri paling depan. Setelah ijin pendirian dan ijin operasional STKIP Weetebula diterima pada 25 Oktober 2013, STKIP mulai menerima mahasiswa baru sebanyak 153 orang dan angkatan pertama ini mulai kegiatan akademik pada bulan Maret 2014. Sebagian dari angkatan pertama tersebut hari ini dikukuhkan sebagai sarjana pendidikan.

Saat ini, STKIP Weetebula merupakan anggota APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik Indonesia). Melalui Asosiasi ini, STKIP Weetebula mendapat kesempatan untuk bekerjasama dengan sesama anggota APTIK seperti Universitas Katolik Atmajaya Indonesia Jakarta, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Universitas Katolik Parahiyangan Bandung, Unika Soegijapranata Semarang, dan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan akademik dan non-akademik STKIP Weetebula. STKIP Weetebula juga bermitra dengan Universitas Osnabrueck dan Universitas Cologne Jerman.

Penyampaian Ketua Dewan Yayasan Nusa Cendana (Yapnusda) Romo Marsel P. Lamunde, Pr., sebagai ketua Yapnusda dan salah satu pendiri STKIP Weetebula merasa sangat bangga dan senang , bahkan menurutnya hati bukan hanya saja berbunga-bunga tapi berbuah-buah karena kampus STKIP Weetebula telah mencetak lulusan sarjana pendidikan sebanyak 75 orang guru baru.

Menurut Romo Marsel, “dari 75 orang guru baru telah dihasilkan  dihasilkan dari rahim STKIP, bukan karena kehebatan sendiri Pendiri dan pengelola STKIP melainkan ada begitu banyak pihak yang terlibat.” (Antonius/Set/RN)

Komentar