oleh

Kemiskinan dan Stunting Lonceng Kematian Generasi Emas

RADARNTT, Editorial – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) selalu menempati ranking teratas kemiskinan dan stunting di Indonesia. Kedua masalah ini punya sebab akibat dan saling terkait erat ibarat dua sisi mata uang. Kemiskinan yang absolut hampir terjadi di tanah yang kaya raya ini, kemiskinan juga dipengaruhi oleh dimensi yang lain.

NTT memiliki presentase penduduk miskin tertinggi ketiga di Indonesia, setelah Papua dan Papua Barat. Ini sesuai hasil analisa Badan Pusat Statistik (BPS) selama kurun waktu bulan September 2018 hingga Maret 2019.

Data olahan BPS NTT, secara rata-rata, rumah tangga miskin di Provinsi NTT pada Maret 2019 adalah 5,84 orang anggota rumah tangga. Besarnya garis kemiskinan per rumah tangga miskin secara rata-rata adalah sebesar Rp.2.183.704, per rumah tangga miskin per bulan.

Sementara untuk garis kemiskinan, pada Maret 2019 tercatat sebesar Rp.373.922,- per kapita per bulan dengan komposisi garis kemiskinan makanan sebesar Rp.292.305,- per kapitaper bulan (78,17 persen). Dan garis kemiskinan bukan makanan sebesar Rp.81.617,- per kapita per bulan atau 21,83 persen.

Selain soal kemiskinan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Provinsi NTT pada Februari 2019 mengalami kenaikan 3,10% dibandingkan Februari 2018 dan Agustus 2018 dengan kenaikan masing-masing sebesar 0,12% poin dan 0,09% poin. Tingkat pengangguran terbuka di NTT juga mengalami peningkatan mencapai 3%.

Prevalensi stunting bayi berusia di bawah lima tahun (balita) di Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 40,3 persen, tertinggi jika dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia. Angka tersebut di atas prevalensi stunting nasional sebesar 29,6 persen.

Prevalensi stunting di NTT terdiri dari bayi dengan kategori sangat pendek 18 persen dan pendek 22,3 persen. Demikian hasil Pantauan Status Gizi (PSG) tahun 2017 yang telah dipublikasi. Hingga kini belum ada penanganan khusus terhadap balita penderita stunting.

Stunting erat kaitannya dengan masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun.

United Nations Childrens Fund (UNICEF) mendefinisikan stunting sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran World Health Organization (WHO).

Selain pertumbuhan terhambat, stunting juga dikaitkan dengan perkembangan otak yang tidak maksimal, yang menyebabkan kemampuan mental dan belajar yang kurang, serta prestasi sekolah yang buruk.

Stunting dan kondisi lain terkait kurang gizi, juga dianggap sebagai salah satu faktor risiko diabetes, hipertensi, obesitas dan kematian akibat infeksi.

Masalah ketiadaan lapangan kerja membuat orang tidak bisa bekerja dan menganggur, seseorang menganggur maka tidak mempunyai penghasilan atau pendapatan, yang akan mengakibatkan seseorang menjadi miskin.

Orang miskin tentu tidak layak hidupnya, orang tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar sandang, pangan dan papan. Kondisi ini membuat ibu hamil, menyusui, bayi dan balita tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup.

Ketidakcukupan asupan gizi sangat berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental dan otak sejak janin dalam kandungan. Maka penderita stunting menjadi teman dekat kemiskinan.

Pemerintah daerah, provinsi dan kabupaten/kota se-NTT perlu punya kesamaan visi dan satu irama gerak untuk mengentaskan kemiskinan dan stunting. Masalah ini harus menjadi prioritas yang perlu segera dieksekusi dalam kebijakan program kegiatan dan anggaran tanpa ditawar lagi.

Jika kita tidak ingin mengalami situasi lost generation pada periode tertentu di masa depan, kemiskinan dan stunting diberi porsi yang adil dan perhatian serius dalam jangka waktu 5-10 tahun ke depan, memberikan alokasi anggaran yang cukup dalam APBD dengan target kinerja yang jelas dan terukur maka kita telah menyelamatkan sebuah generasi bangsa dan daerah.

Namun, jika kemiskinan dan stunting masih sebagai slogan, wacana dan isu politik semata maka kita sedang membunyikan lonceng kematian generasi emas. (Suara Redaksi)

Komentar