oleh

BLT Kalahkan Corona?

Masyarakat berbondong-bondong memadati kantor desa dan kantor pos untuk menerima Bantuan Lansung Tunai (BLT) yang merupakan keputusan pemerintah membantu masyarakat dalam situasi pandemi Corona saat ini. Bantuan ini adalah cetusan ide pemerintah ketika menyingkapi situasi karantina masyarakat dalam suasana Covid-19 yang menyebar hampir di seantero bumi.

Cetusan ide keberpihakan pada keadaan masyarakat ini adalah bentuk cinta kasih dan keprihatinan pemerintah terhadap masyarakat yang ruang geraknya dibatasi karena pendemi Corona. Pembatasan gerak ini berlaku di seluruh tanah air Indonesia, maka pemerintah juga mengeluarkan peraturan dan atau himbauan kepada masyarakat agar mengurangi gerak yang menimbulkan perkumpulan atau perhimpunan banyak orang.

Ditegaskan bahwa dalam situasi pandemi Covid-19, aktivitas yang menyangkut kerumunan banyak orang dibatasi. Merujuk pada alur pemikiran ini maka, pembagian BLT juga harus pandai menelidik perkumpulan masyarakat. Artinya BLT tidak menjadi alasan bagi pemerintah untuk melanggar.

Melanggar aturan atau himbauan tentang pembatasan gerak dan menghindari perkumpulan manusia. Sejauh pengamatan yang terjadi di desa-desa saat ini, semacam aturan karantina dan pembatasan perkumpulan sedikit dilanggar. Bahkan pihak kecamatan dan Polsek pun turut hadir untuk memberi semacam arahan untuk masyarakat. Apakah pihak kecamatan dan Polsek sudah lupa tentang situasi Corona atau lupa tentang himbauan dan aturan yang berlaku dalam situasi Covid-19 ini?

Kalau kegiatan kerohanian dibatasi maka seharusnya kegiatan BLT juga memposisikan diri yang tepat. Ada wilayah yang namanya dusun, RT, RW yang bisa dikoordinasikan untuk terima BLT di wilayahnya masing-masing. Sehingga kita sama-sama junjung tinggi peraturan atau himbauan yang sedang berlaku saat ini. BLT bisa diterima di dusun masing-masing atau RT/RW masing-masing sehingga tidak terjadi kerumunan massa.

Komentar

Jangan Lewatkan