oleh

Larangan dan Kebutuhan

Pandemi Covid-19 sedang menggerogoti semua sendi kehidupan, yang semakin panjang dan seakan tak berujung. Bagi sebagian besar masyarakat kita, ini lah hari-hari yang buruk.

Dampak Covid-19 ini sangat dirasakan oleh para buruh, tukang bangunan, pedagang kecil, pedagang kaki lima, pemulung dan petani. Larangan atau imbauan untuk tidak keluar rumah atau di rumah saja, menjadi sangat berat bagi hidup mereka dan keluarga. Mereka yang bekerja di sektor informal, harus bekerja hari ini untuk makan hari ini.

Data BPS Provinsi Nusa Tenggara Timur, tahun 2019 menunjukkan bahwa dari status pekerjaan utama, sebagian besar masyarakat bekerja di sektor informal yaitu sekitar 1.833.828 orang (76,04%), sedangkan di sektor formal hanya sekitar 577.705 orang (23,96 %).

Kebutuhan ekonomi setiap hari, membuat mereka harus melanggar protokol kesehatan pemerintah, yang mengimbau agar tetap jaga jarak, pakai masker dan di rumah saja. Ketidakdisplinan mereka, bukan berarti membangkang terhadap larangan atau imbauan pemerintah, bukan juga mereka tidak ingin ikut bekerja sama untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Tetapi karena, kebutuhan ekonomi, membuat mereka harus keluar untuk mencari dan mencukupi kebutuhan setiap hari.

Kebutuhan ekonomi yang mendesak membuat mereka tidak takut pada ancaman Covid-19. Para ayah rela menerobos bahaya untuk menyelamatkan istri dan anak-anak, buat mereka lebih penting. Rintihan dan tangisan karena lapar, istri dan anak-anak terdengar sangat menyayat hati. Kondisi ini, membuat mereka lebih takut pada kelaparan karena tidak ada makanan yang bisa mereka makan, daripada Covid-19 yang mematikan.

Mereka memang sangat membutuhkan, perhatian dari pemerintah dalam mengatasi kebutuhan ekonomi di masa-masa sulit ini. Dalam masa sulit ini, mereka harus didata dengan baik dan benar, agar bantuan pemerintah tidak salah sasaran, tidak nyasar ke orang yang sepatutnya tidak berhak mendapatkannya. Perlu diingat pula, ini situasi bencana bukan normal sehingga standar baku pengukuran kemiskinan tidak bisa diberlakukan saat ini.

Bantuan pemerintah yang dikucurkan saat ini melalui berbagai anggaran, harus dirasakan manfaatnya oleh mereka yang benar-benar membutuhkannya. Budaya malu menerima yang bukan hak kita, harus ditanamkan dalam diri kita masing-masing, agar saudara-saudara kita yang sangat membutuhkan tetap merasakan seperti kita rasakan. Memutus mata rantai penyebaran Covid-19 adalah tanggungjawab kita bersama dengan berbagai cara dan cara masing-masing.

Dan sudah kurang relevan lagi untuk membagi masker, disinfektan, tong air cuci tangan. Kini saatnya langkah penanganan dampak orang kehilangan pekerjaan dan ketiadaan pendapatan, tidak bisa makan dan minum yang layak.

Bukankah imunitas tubuh seseorang diperoleh dari asupan makanan bergizi?

Bukankah imunitas tubuh yang kuat sebagai sumber kekuatan membunuh virus?

Ayo mari sembari menjalankan protokol kesehatan dengan satu tekad memutus rantai penyebaran virus demi berakhirnya pandemi corona. Kita terus berupaya memenuhi kebutuhan pangan rakyat yang terdampak Covid-19.

Jaga jarak
Pakai masker
Jauhi kerumunan
Di rumah saja

Komentar

Jangan Lewatkan