oleh

Suara Hati Medis di Tengah Pandemi

Butuh dukungan moral dan peralatan bagi tenaga medis di garda terdepan menangani masalah corona virus disease 2019 (Covid-19) yang semakin hari semakin melonjak kasus positif dan meninggal.

“Alat pelindung diri (APD) standar medis untuk kami di garda terdepan lebih diperhatikan, biar insentif tidak sesuai tidak apa-apa”.

Hal ini terlontar dari mulut seorang tenaga medis, yang nampak kelelahan bertugas di posko Covid-19 sebuah daerah di Nusa Tenggara Timur dimana daerah itu semakin meningkat kasus positif Covid-19.

Ia menuturkan, sejak bulan Maret sampai dengan sekarang insentif untuk medis tim Covid belum dibayarkan dan tidak sesuai yang direncanakan awal sebesar Rp7,5 juta, diturunkan menjadi Rp2,5 juta tapi itu pun belum direalisasi hingga saat ini. Hanya janji saja.

“Tolong pak Presiden perhatikan kami karena sudah dinas dari bulan Maret sejak ada covid kami sudah bekerja sampai saat ini di pintu masuk,” pintanya.

APD yang kami pakai seadanya saja, jauh dari standar dan rasa aman, tak cukup memproteksi diri kami dari bahaya yang di depan mata. Apa menunggu ada tenaga medis yang meninggal baru diperhatikan.

“Sudah tidak ada lagi distribusi APD standar medis, lihat sendiri saja kami di bandara seperti apa, hanya masker dengan sarung tangan. Memakai masker bedah dan sarung tangan non steril,” terangnya.

Sejak awal kami hanya dua kali dibagikan masker bedah dan sarung tangan non steril.

“Kami tidak tahu, mau mengadu ke siapa, kami sudah menyerah. Kami punya keluarga, takut juga jika terpapar virus itu. Apalagi saya punya anak yang masih kecil,” keluhnya.

Kami tidak menuntut banyak, kami butuh dukungan APD standar medis, agar bisa digunakan setiap saat dibutuhkan.

Karena kami pakai APD seadanya yang seharusnya sekali pakai langsung dibakar tapi terkadang kami cuci dan pakai kembali, bahkan sering tidak menggunakan masker dan sarung tangan saat melaksanakan tugas.

Saat ini kasus positif Covid-19 di NTT semakin meningkat, kumulatif sudah 217 orang, sembuh 171 orang, meninggal 5 orang, masih dirawat 41 orang yang tersebar di 7 kabupaten/kota.

“Kami sangat membutuhkan dukungan peralatan yang standar, demi perlindungan diri dalam menangani pasien. Jaga dan jangan sampai kami menyerah,” imbuhnya penuh harap.

Komentar

Jangan Lewatkan