oleh

Ada Apa Dengan Utang?

Utang? Mengapa tidak? Utang, tulis Goenawan Mohamad, adalah bagian penting dari sejarah. Tentang pentingnya utang, Goenawan Mohamad menulis — dengan gayanya yang khas dalam Catatan Pinggir — pendapat Anne Robert Jacques Turgot yang bilang begini, ”Tak ada pusat perdagangan di dunia ini di mana bisnis tak dijalankan dengan uang pinjaman. Tak ada seorang bisnis pun agaknya yang tak punya keharusan mendatangi kocek orang lain.”

Mungkin Turgot benar. Utang memang bukan tak terhindarkan, tapi sekaligus normal dalam kalkulasi ekonomi dan bagian penting dari sejarah. Tapi, yang normal itu bukan berarti tanpa pertimbangan dan kehati-hatian. Utang mungkin saja datangkan banyak masalah, apalagi utang yang pertaruhkan perut banyak orang.

Turgot sendiri alami itu ketika menjabat Jenderal Pengawas Keuangan di masa raja Louis XVI berkuasa di Perancis. Louis XVI menilai Turgot tak becus tangani masalah ekonomi Perancis yang kian sulit kala itu, salah satunya utang. Turgot pun dipecat. Hanya masalah Perancis tak selesai. Ekonomi semakin memburuk, utang kian menumpuk, dan rakyat semakin marah atas ketidak-setaraan dan ketidak-adilan. Yang terburuk, tiga belas tahun setelah pemecatan Turgot, meletus revolusi. Louis XVI dan Marie Antoinette dipancung. Monarki absolut yang berkuasa di Perancis selama berabad-abad hancur seketika.

Tentu jauh dari kesimpulan utang selalu berakibat buruk. Pun tidak bermaksud mengeneralisir konteks, seolah tempat lain pun sama kondisi dan akibatnya dengan yang terjadi di Perancis ratusan tahun lalu. Toh, kalau pun daerah ini misalnya ber-utang tentu bukan untuk hal yang tidak penting semisal membiayai ‘perang 7 tahun’-nya Perancis kala itu. Atau dalam konteks saat ini, kita tentu tidak bermaksud menggunakan utang sebagai ‘pundi-pundi dalam perang Pilkada’ berikutnya. Tentu bukan demikian. Kita percaya, utang — kalaupun tak terhindarkan — berdasar pertimbangan substansif untuk mencapai hasil dan datangkan kemanfaatan untuk perut banyak orang.

Hanya di situ persis soalnya. Konteks saat ini, percaya tidak lagi datang tiba-tiba. Rakyat tidak lagi ada dalam ruang gelap dan gua neanderthal, lalu hanya andalkan kesamaan imajinasi tentang sesuatu dan percaya sesuatu. Rakyat butuh sesuatu yang riil, yang bisa dan akan berproses dalam dan melalui kesadaran akal. Kesadaran akal inilah yang menjadi otoritas untuk berkesimpulan ‘percaya’ — bahwa utang atas nama perut rakyat itu mampu dikelola secara baik dan bertanggung jawab.

Itu saja soalnya. Utang itu tindakan ekonomi, wajar dan biasa saja. Tentang utang, itu bukan soal. Karenanya, pertanyaan “ada apa dengan utang” menjadi pratanda rendahnya tingkat kepercayaan rakyat terhadap kemampuan para pemimpin daerah ini dalam mengelola utang. Dan saat ini, percaya itu tidak pernah datang tiba-tiba. Bahkan kekuasaan berabad-abad monarki absolut Perancis bisa hancur seketika ketika rakyat tak lagi percaya.

Komentar

Jangan Lewatkan