oleh

April Kelabu, Satu Tahun Seroja

-EDITORIAL-126 Dilihat

APRIL kelabu, air mata duka berguguran membasahi kepulauan mungil nan indah di nusa terselatan NKRI. Peristiwa 4 April 2021, masih membekas di ingatan mereka yang dirundung pilu. Peristiwa yang membuat Presiden Joko Widodo ikut larut, meneteskan air mata di Nusa Tadon Adonara dan Lomblen Lembata.

Badai siklon tropis Seroja menerjang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) meluluhlantakan bangunan rumah penduduk dan fasilitas umum lainnya serta menelan korban jiwa sekira 182 dan kurang lebih 80 ribu warga mengungsi.

Banjir bandang akibat siklon tropis Seroja di NTT menyebabkan sekira 182 orang meninggal dunia. Jumlah korban meninggal dunia itu tersebar di 10 kabupaten dan kota di NTT, yakni: Flores Timur 72 orang, Lembata 46, Alor 29, Kabupaten Kupang 12, Malaka 11, Kota Kupang 6, Sabu Raijua 3, Rote Ndao 1, Ende 1 dan Sikka 1 orang. Sementara itu, dan korban hilang 48 orang tersebar di 6 kabupaten dan kota. Fasilitas umum rusak 3.494 di 21 dari 22 Kabupaten dan kota terdampak.

Pemerintah Provinsi NTT mendata 52.793 unit rumah rusak di 17 kabupaten dan kota akibat bencana besar yang terjadi awal April itu. Diketahui, penyaluran bantuan uang perumahan bagi warga terdampak siklon tropis Seroja di NTT terkendala data.

Bantuan perumahan bakal diberikan dengan kategori rusak ringan sebesar Rp10 juta, rusak sedang Rp25 juta dan rusak berat Rp50 juta. Penentuan rumah yang mengalami rusak ringan, sedang, dan berat dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota melalui dinas Pekerjaan Umum dan Pemukiman Rakyat (PUPR).

Namun, tersiar kabar hingga satu tahun berlalu bantuan tersebut tak kunjung tiba di tangan mereka. Masih banyak warga yang sudah terdata dan diversifikasi tapi belum mendapatkan bantuan perumahan. Semoga di ulang tahun pertama ini bisa segera terwujud harapan perbaikan rumah bantuan Seroja. Agar tidak sampai berulang tahun yang kedua.

Pengalaman selalu menjadi guru yang baik agar kita belajar membangun sistem manajemen bencana yang efektif.

Dunia saat ini memasuki tantangan hebat di mana bencana secara kuantitatif  mengalami eskalasi sebagai fenomena tak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Bencana menguji daya tahan dan daya juang manusia serta kekuatan sistem budaya dan pemerintahan.

“Bencana terjadi karena bencana sebelumnya terlupakan.” Mari sadar dan tangguh bencana dengan meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan bencana karena bencana bisa terjadi setiap saat dan tidak bisa dihindari tetapi bagaimana agar bisa mengurangi risiko bencana.

Komentar