oleh

Literasi Akhir Pekan (2)

-Edukasi-187 views

Akhir pekan yang lalu, saya membahas secara khusus beberapa pertanyaan tentang pentingnya judul tulisan dan bagaimana mengembangkan ide menjadi suatu tulisan. Pada saat ini saya merespons dua pertanyaan dan pernyataan yang ada di kolom komentar dari saudara Teu Liurai Anunu dan Bapak Benediktus Lagho. Semuanya masih terkait literasi dasar point pertama, literasi membaca dan menulis.

1. Saudara Teu Liurai Anunu bertanya bagaimana metode saya dalam merampungkan tulisan ke media-media cetak?

Menulis untuk media cetak itu gampang-gampang susah dan susah-susah gampang. Tetapi kalau kita menulis dengan segenap hati, dengan penuh komitmen, tanpa keterpaksaan, menulis itu menjadi suatu kenikmatan tersendiri. Supaya tulisan kita bisa dimuat di media cetak, maka mesti perhatikan beberapa hal ini:

  • Harus mengenal karakter media yang akan kita kirimkan tulisan. Karakter setiap media itu berbeda. Kita harus tahu standar opini di media bersangkutan. Misalnya berapa karakter (jumlah) kata, issu-issu aktual apa yang sedang diperbincangkan di media tersebut, gaya penulisan seperti apa yang biasa dipublikan media terkait.
  • Tulisan kita mesti faktual (berdasarkan fakta atau membahas fakta tertentu), bukan hayalan. Tulisan juga harus aktual (pilih tema atau topik yang up tu date, kekinian). Tulisan kita juga mesti rasional (menjelaskan fenomen, fakta dan data) secara sistematis, dengan argumentasi terukur.
  • Tulisan mesti menggunakan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bukan bahasa kampung apalagi kekampung-kampungan.
  • Jika tulisan mengangkat suatu persoalan, maka sebaiknya disertakan saran-saran solutif.
  • Tetap menggunakan bahasa yang santun dan tidak provokatif.
  • Gagasan diramu dalam kalimat yang pendek, dengan bahasa yang ringan dan menarik. Perlu membaca lagi beberapa kali setelah selesai menulis untuk memastikan tulisan itu tidak ada kesalahan penulisan sekaligus memeriksa kerunutan argumentasi.

Menulis di media massa itu tidak sekali jadi. Bahkan harus berulang-ulang. Saya telah menulis banyak opini sebelum akhirnya opini saya bisa diterbitkan media massa. Ini juga ujian bagi penulis, apakah benar menulis dari kesungguhan atau hanya sekedar saja. Kalau orang yang menulis dari kesungguhan, sekalipun tulisannya ditolak, ia akan terus menulis. Tetapi untuk yang sekedar iseng-iseng, ketika tulisannya ditolak, ia akan patah semangat dan tidak mau menulis lagi.

2. Bapak Benediktus Lagho memberikan pernyataan tentang keterkaitan antara judul dan ide. Gagasan atau ide kalau tidak segera ditangkap akan mudah menguap dan hilang.

Ini benar. Untuk menulis, saya bisa mendapatkan ide di mana-mana dan kapan saja. Tetapi ide itu saya simpan agar tidak hilang. Sebelum menulis suatu topik, saya biasanya meluangkan sedikit waktu untuk merefleksikan topik itu. Jika perlu, saya harus membaca literatur baik buku ataupun informasi dari internet. Ini penting untuk memperkaya tulisan. Kita memang tidak bisa menulis banyak jika tidak membaca banyak. Karena itu prasyarat untuk menjadi penulis adalah jadilah pembaca yang baik. Orang yang sering membaca mempunyai perbendaharaan kata yang banyak. Dengan banyaknya referensi baik berupa kata maupun bahan bacaan, orang menjadi lebih mudah menulis. Rasanya ide seperti mengalir.

Membaca adalah suplemen bagi penulis. Tanpa banyak membaca, kita mungkin bisa menulis. Tetapi kita akan susah menyelesaikan tulisan karena sepertinya kita kehabisan kata-kata dan tidak tahu harus menulis mulai dari mana atau mau menulis apa. Bekal kita tidak cukup. Modal kita kurang. Bekal dan modal itu adalah membaca, membaca dan membaca. Maka, jadilah pembaca yang baik agar kita bisa menulis dengan baik.

Salam literasi….!!!
___________________

Literasi adalah kekuatan untuk berbagi dan mengisi. Ada pertanyaan, kita belajar dan menjawab bersama.

 

Oleh: Isidorus Lilijawa

Komentar

Jangan Lewatkan