oleh

Meluaskan Cakrawala

-Edukasi-141 views

“Budi keren. Keren abiss” Demikian disampaikan Bu Erna Witoelar, setelah sy menyampaikan materi. Tampaknya, tugas sy sebagai narasumber telah tertunaikan dengan baik. Saya bersyukur. Apresiasi yang spontan dan ekspresif adalah tanda kejujuran. Namun dalam sesi tanya jawab, saya tetap mendorong lebih jauh. Kesempitan pemikiran adalah awal bencana, jadi tugas saya adalah meluaskan cakrawala..

Sebelum ke substansi, mari melihat sosok Erna Witoelar. Seperti kita tahu, beliau lahir di keluarga intelektual. Kakak kandung Bu Erna adalah Ibu Nafsiah Mboi. Bu Nafsiah adalah mantan menteri kesehatan yang 24 karat persistensi dan konsistennya. Beliau juga istri dari Ben Mboi, Gubernur NTT yang legendaris. Bu Erna juga sosok yang persisten. Beliau adalah pioner YLKI, WALHI dan aktivis lingkungan yang konsisten, serta pernah menjadi menteri. Suaminya adalah Rachmat Witoelar, juga mantan menteri. Kini Bu Erna, banyak aktif di dunia filantropi.

Sebenarnya, saya agak enggan mengisi di hari minggu itu. Bukan soal hari minggunya, tapi saat itu saya dalam perjalanan panjang mau berziarah ke makam ayah dan leluhur. Hampir 2 tahun tidak berziarah, rasanya ada yang kurang dan ingin berdoa secara khusuk bagi yang telah berpulang.

Sebenarnya saya juga mau mendelegasikan staf, tapi setelah tahu akan dipanel Bu Erna Witoelar langsung saya urungkan. Waduh, bisa kualat saya kalau mendelegasikan. Jadi saya mengisi acara sambil dalam perjalanan darat.

Disrupsi teknologi informasi memang luar biasa, di sepanjang jalan tol saya mengisi acara. Tapi, ternyata ada beberapa blank spot dan internet tak stabil. Terpaksa kami menepi ke rest area. Ibu, kakak dan adik pun terpaksa harus terinterupsi dan mengikuti webinar..

Saya menulis ini karena ketemu, rekaman webinar ternyata ada di youtube. Lalu saya lihat lagi. Wah, meskipun menghadapi berbagai persoalan teknis, tampaknya saya masih mampu menyampaikan dengan baik. Syukurlah dan senang mendapat apresiasi Bu Erna.

Di webinar, ada pertanyaan yang karena lewat chat jadi mungkin kurang terartikulasikan dengan baik dan terlihat pandangannya sempit. Pertanyaannya kira-kira, jika negara menjalankan sustainable development goals (SDGs) apakah negara akan mendapatkan laba/profit?

Peserta webinar terutama adalah mahasiswa/i ekonomi pembangunan dan cukup banyak, kalau tidak salah sekitar 180 orang. Dan kemudian saya baru memperhatikan, ternyata penyelenggaranya disamping Universitas Jenderal Soedirman ternyata bekerjasama dengan Ikatan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan. Kembali ke pertanyaan. Saya lalu menjawab dengan mendudukkan dalam konteks yang lebih besar, serta meluaskan cakrawala pemikiran dan horizon berpikir.

Saya menyampaikan secara tegas, ❞ ❞. . Tentang “social development is economic development”, saya mengargumentasikan itu dalam buku “Pembangunan Inkusif”. Soal “environmental development is economic development”, saya beberapa kali menulis di Kompas tentang hal ini. Bisa dilacak.

Ketika dulu saya belajar ilmu ekonomi di salah satu universitas terbaik negeri ini kemudian merasakan, kok ilmu sosial ini rasanya seperti ilmu pasti, seperti ketika saya sebelumnya belajar teknik (mesin) dulu. Saya kagum dengan ambisi ilmu ekonomi yang ingin mengkuantifikasi semuanya. Namun perlu disadari dia berada di ruang sosial kompleks yang tidak bebas nilai dan tidak semua bisa digeneralisasikan, sehingga bukan sebuah tabula rasa.

Kerisauan itu saya baca juga dari peraih nobel ekonomi (penghargaan tertinggi dan prestisius pada ekonom) Ronald Coase, dia mengatakan “… (ilmu) ekonomi, selama bertahun-tahun, menjadi semakin abstrak dan terpisah dari peristiwa di dunia nyata. Para ekonom, pada umumnya, tidak mempelajari cara kerja sistem yang sebenarnya. Mereka berteori tentang hal itu. Jika para ekonom ingin mempelajari kuda, mereka tidak akan pergi dan melihat kuda-kuda itu. Mereka akan duduk di ruang belajar mereka dan berkata pada diri mereka sendiri, “Apa yang akan saya lakukan jika saya adalah seekor kuda?”

Dalam perjalanan seumur jagung ini, saya juga kemudian makin menyadari yang disampaikan Prof Sajogyo “Jika anda ingin mengerti perekonomian negeri kami, kajilah kebudayaan dan sistem politik kami. Jika ingin memahami kebudayaan dan sistem politik kami, kajilah perekonomian kami.”

Multidisplin keilmuan kini bahkan makin penting. Kalau merujuk kebutuhan skill abad 21, maka kemampuan memecahkan persoalan kompleks (complex problem solving skills) adalah kebutuhan paling utama. Tentu saja, skill itu mensyarakatkan kemampuan berpikir lintas disiplin keilmuan.

Mau contoh konkret dan mau jadi triliuner? Lihat Gojek. Kemampuan melihat budaya ojek dan kebutuhan pasar adalah kejelian luar biasa melihat peluang. Tak semua orang bisa melihat peluang itu, lalu juga punya keberanian berinvestasi pada sistem (apps).

Nadiem mampu melihat itu dan berani mengambil resiko. Kini Gojek nilainya triliunan dan bahkan berekspansi pada beberapa negara. Bila Nadiem tidak ke lapangan dan mempelajari kebiasaan pengojek, tak mungkin Gojek akan lahir.

Anyway busway, kembali ke webinar. Saya senang tandem dipanel dengan Bu Erna. Kami saling bisa mengisi. Silakan bagi yang berminat. Saya berani menjamin, anda yang berminat soal pembangunan pasti akan sangat banyak mendapat insight. Silakan akses ke https://bit.ly/3m7E0Dv

 

________________________________

Pernyataan Ronald Coase dalam bahasa Inggris “… economics, over the years, has become more and more abstract and divorced from events in the real world. Economists, by and large, do not study the workings of the actual system. They theorize about it ….. If economists wished study the horse, they wouldn’t go and look at the horses. They’d sit in their studies and say to themselves, ”What would I do if I were a horse.

Oleh: Setyo Budiantoro

Komentar

Jangan Lewatkan