oleh

Gunakan Otak Bukan Otot, Budi Bukan Body

Tidak seperti hari-hari kemarin. Suara brisik siswa-siswa jeda semester terdengar. Hampir di sekitar ruangan kerja. Hari ini di teras ruang bukan suara itu yang terdengar. Terdengar suara dari video singkat.

Suara seorang ibu dalam nada sangat kasar mengumpat, dengan kata-kata tak senonoh. Lebih miris lagi dari video yang kemudian diketahui kisah pengeroyokan sang kepala sekolah bersama isteri dan bodyguard terhadap seorang guru SD di kabupaten Kupang. Berita heboh itu pun sudah ditangani polisi.

Video berdurasi beberapa menit itu kemudian ditanggapi sebagai sebuah perilaku keji. Banyak orang berpendapat. Tentu yang sangat dicederai bukan oknum guru yang dikeroyok oleh kepala sekolah bersama isteri juga lainnya, tetapi guru-guru pada umumnya.

Andai saja terjadi kemelut di sebuah sekolah antar kepala sekolah dan para guru biasanya diselesaikan dengan akal sehat bukan akal bulus. Diselesaikan dengan otak bukan otot, juga dengan otak dan hati bukan dengan kepalan tinju dan kata-kata tak terpuji.

Apalagi kata-kata itu dari mulut seorang ibu yang bukan guru, tetapi isteri kepala sekolah. Memang aksi yang satu ini memagut hati, memprovokasi guru, juga mencederai hati para guru umumnya.

Tanggapan para guru tidak saja perilaku preman kepala sekolah tetapi juga kepada sang isteri yang berteriak sambil menghujat bahkan mendamprat seorang guru yang masi berdinas. Sungguh perilaku yang menohok hati siapapun yang menonton video keji tersebut.

Dalam sebuah grup media sosial, ribuan netizen yang rata-rata guru, juga menanggapi peran anak kepala sekolah alias pelaku kekerasan yang terkesan membela perilku ayahandanya.

Dia memang memilki argumen-argumen terstentu. Sayangnya, dia sendiri tidak menganulir perilaku ayahnya yang tergolong tidak santun dan berperikemanusiaan tersebut. Akhirnya dia pun mendapat cercaan dari seluruh nitizen.

Tanggapan netizen di antaranya menyebutkan jika sang kepala sekolah telah menjadikan sekolah milik pemerintah sebagai sekolah milik keluarga. Hal itu lantaran urusan sekolah juga menjadi urusan keluarga (isteri dan anak-anak), juga sang bodyguard.

Namun demikian, hari-hari ini “sekelompok preman itu” kini menjadi pesakitan di hadapan polisi. Syukur jika hanya jadi saksi, miris jika kemudian menjadi terdakwa.

Video singkat yang tersebar telah menjadi konsumsi publik. Siapapun memberi tanggapan selain guru, walau tidak mengetahui asal muasal penyebab. Asumsi saya, tentu ada akar persoalan. Ibarat ada asap tentu ada api. Semisal sedang berada di sebuah hamparan sabana, seseorang sedang meilhat asap mengepul dari kejauhan.

Dia tentu menanggapi kepulan asap hitam, atau bahkan hanya berwujud asap yang sedang-sedang saja. Dengan kepulan asap, dapat diduga jika api membakar hutan, sampah, atau bahkan rumah.

Sampai sejauh sini, netizen pun belum mengetahui ikhwal sebab musababnya. Hal mana hanya diketahui polisi dari keterangan para saksi yang juga pelaku kekerasan.

Memang nitzen hari-hari sedang menghakimi dengan caranya sendiri melalui media sosial, tetapi bahwa mengetahui sebab musabab tindak kekerasan itu terjadi juga menjadi penting. Dengan demikian akan menjadi pembelajaran penting, tentu bagi guru dan orang nomor satu di sebuah sekolah.

Apakah mungkin tindakan kepala selokan di laur akal sehat ini merupakan titik kulminasi dari “gesekan-gesekan” kecil sebelumnya? Sebuah asumsi tetapi itu mungkin juga hal itu ada.

Urusan panjang ini tentu berdampak luas. Situasi di sekolah dasar yang dipimpin sang kepala sekolah hati-hari ini mungkin belum kondusif. Dalam keluarga kepala sekolah yang hari-hari di balik jejuri besi, lebih tidak kondusif pula, apalagi jika sang isteri “ yang berteriak-teriak” sebagaimana dalam video singkat itu juga harus jadi saksi lalu menginap di hotel pordeo.

Sungguh memprihatinkan memang. Tetapi semua mesti mengambil hikmah dari kejadian ini. Biasanya penyesalan selalu datang terlambat. Siapa pun itu, kepala sekolah, sang isteri dan anak juga bodyguard, dan tentu juga guru yang menjadi korban kekerasan. Belajar dari pengalaman yang menjadi guru terbaik, tentu pula menjadi sebuah refleksi. Bagi pelaku dan korban mesti mengais hikmah dari peristiwa ini.

Bukan sebaiknya mendesain strategi pembelajaran setelah hampir dua tahunan dilanda pandemi Covid-19? Apakah soal kopi dan teh dalam kegiatan Penilaian Akhir Sekolah (PAS) menjadi lebih penting dari harkat dan martabat seseorang? Begitu banyak pernyataan reflektif dari perisitiwa ini.

Dalam hal ini, siapapun orangnya mesti mengelola emosianalnya. Ia harus mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerja sama) dengan orang lain. Ini bagian ilmu-ilmu kecil yang bisa diasup melalui buku-buku. Itu berarti literasi dasar menjadi tuntutan.

Mungkinkah ikhwal ini sebagai dampak kurang berliterasi? Bahan bacaan bisa menjadi nutrisi bagi seseorang dalam bekerja atau mengabdi, termasuk seorang pimpinan. Asupan-asupan psikologi semisal emosi, boleh jadi diketahui melalui sumber-sumber bacaan atau buku-buku.

Sebagai contoh, hari-hari ini pelaku kekerasan di balik jeruji besi. Ia mungkin takut sebelumnya. Pertanyaannya, apakah yang ditakutkan adalah perbuatan melawan hukum atau takut dipecat sebagai kepala sekolah dan atribut ASN-nya, atau takut kalau-kalau korban membalas dendam.

Jika mengetahui hal-hal takut psikologis ini (dari buku-buku bacaan), ia tentu memproteksi diri dengan perbuatan-perbuatan tercela.

Jika terjadi di rumah disebut KDRT, yang ini adalah KDLS alias Kekerasan Dalam dan Luar Sekolah.

Salam Literasi

 

Oleh: Joni Y Liwu

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *