oleh

Seorang Lulusan SLTP Kelola Rumah Makan Omzet 600 Juta per Bulan di Kupang

-Ekonomi, Info-1.782 views

RADARNTT, Kupang – Kisah sukses seorang lulusan SLTP yang mengelola rumah makan (RM) dengan omzet diatas 600 juta rupiah per bulan di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Vincent Gaspersz mengisahkan dalam keterangan tertulisnya ke radarntt.co, Jumat, (2/8/2019), tentang peristiwa yang dialaminya dari cerita sukses itu sebagai berikut.

Saya pribadi penasaran dengan kisah sukses pemilik RM Suka Ramai di Penfui Kupang–NTT, yang mencapai sukses dalam bisnis rumah makan spesialisasi dalam sea food hanya dalam waktu dua tahun. Untuk mengetahui latar belakangnya dan sebagai studi kasus manajemen kewirausahaan.

Saya mengajak beberapa orang yang terdiri dari mahasiswa yang sedang mempelajari Strategi Pemasaran, Kuliah Strategi Pemasaran di Program Magister Manajemen Universitas Katolik Widya Mandira pada hari Minggu, (31/7/2016) dan beberapa dosen termasuk sopir dan asisten rumah tangga serta staf bendahara yang menjadi mertua laki-laki dari pemilik RM Suka Ramai untuk makan malam bersama di RM Suka Ramai.

Kami sengaja datang sebelum RM dibuka agar bisa berdiskusi dan tanya-jawab dengan pemilik RM, dan saya berkesempatan bertanya sekitar 45 menit. Berikut ini sekelumit kisah nyata dan menjadi ceritera sukses di Kupang-NTT.

Pemilik RM Suka Ramai (sebut saja inisial J) berasal dari Flores dan merantau ke Batam. J hanya lulusan SLTP (pendidikan formal 9 tahun), namun memiliki keahlian sebagai koki (istilah keren Chef). Dia pertama kali datang ke Kupang hanya sebagai koki/chef dan bekerja sebagai karyawan dengan penghasilan normal bagi rata-rata lulusan SLTP, sekitar Rp. 3,5 juta per bulan.

Dalam perjalanan waktu, J melihat ada peluang/opportunity untuk beralih profesi dari karyawan menjadi pemilik (pengusaha). Saya bertanya kepada J, mengapa Anda berani mengambil risiko berpindah profesi dari karyawan menjadi seorang wira usaha (entrepreneur)? J menjawab dia memiliki tekad bahwa mengapa orang lain bisa sukses sebagai pengusaha, sedangkan saya (J) tidak bisa?

Wah saya terkejut dengan jawaban ini, karena saya juga selalu berpikir dari dahulu: jika orang lain bisa, maka saya juga harus bisa. Ini modal utama orang sukses, yaitu: memiliki Can Do Attitude (Sikap Dapat Melakukan hal yang orang sukses bisa melakukan). Ini Mindset luar biasa!

Pertanyaan saya berikut, tetapi Anda tidak memiliki modal uang yang cukup untuk berwirausaha? Lagi-lagi jawaban J mengejutkan saya, yaitu: saya yakin akan sukses karena saya telah belajar berdasarkan pengalaman sebagai karyawan, di mana hasil racikan (resep masakan) saya digemari pengunjung.

Wah jadi selama menjadi koki (chef), J selalu mempelajari karakteristik konsumen. Suatu naluri pembelajaran praktek sekaligus mengaplikasikan teori tentang perilaku dan kepuasan konsumen.

Memang modal awal dari Kewirausahaan (Entrepreneurship) adalah opportunity dan keyakinan (tekad) untuk sukses, bukan modal uang (Rp). J menggunakan modal pinjaman dari bapak mertua dan mulai berwirausaha dengan menyewa tempat sederhana sekitar Rp. 20 juta per tahun.

Sesungguhnya modal utama J yang hanya lulusan SLTP telah memenuhi persyaratan utama kewirausahaan, yaitu: (1) Memiliki mental Can Do Attitude, (2) mampu membaca selera (kebutuhan) konsumen, (3) menciptakan opportunity, (4) selalu berusaha belajar terus-menerus untuk memuaskan (meningkatkan kepuasan) konsumen, dan (5) selalu berhemat untuk meningkatkan modal usaha dalam bentuk uang (Rp).

J rajin berhemat, dari hasil keuntungan dia mampu mengumpulkan uang untuk pengembangan usaha agar meningkatkan kapasitas meja makan dan tempat duduk, karena di tempat yang berbentuk kios sederhana hanya ada delapan meja sedangkan banyak pelanggan yang antri.

Bermodalkan uang yang terkumpul, maka dia mengajukan kredit kepada Bank untuk membeli sebuah ruko berlantai tiga dengan kapasitas di lantai 1 dan bagian halaman belakang mampu memenuhi kapasitas 100-an orang sekali makan. Nilai ruko dan perbaikan/renovasi sekitar Rp. 5,5 M.

Saya mencoba berkalkulasi bahwa omzet per bulan dari J, pasti di atas 20–25 juta rupiah per hari, dan ia mengiyakan ketepatan kalkulasi saya. Kemudian saya menyatakan bahwa persentase keuntungan dari bisnis restoran jika laris bisa mencapai 75% – 100% bahkan bisa lebih. J lagi-lagi tersenyum dan menyatakan kok Prof. tahu?

He He berarti seorang Lulusan SLTP mampu menciptakan opportunity bisnis restoran dengan omzet minimum 600 juta per bulan dan keuntungan dapat mencapai 250–300 juta per bulan. Saya menyatakan bahwa kisah sukses RM Suka Ramai telah mematahkan mitos bahwa Kupang–NTT itu miskin dan tidak berpotensi untuk menjadi orang kaya di Kupang.

Memang bagi masyarakat lokal yang malas akan memplesetkan KUPANG sebagai Kumpul Uang Pulang, tetapi bagi mereka yang rajin, kreatif dan inovatif akan menyatakan KUPANG (Akronim) = Kalau Usaha Pasti Akan Nama Gemilang.

Para dosen-dosen manajemen bisnis dan kewirausahaan, juga mahasiswa yang mengambil program studi kewirausahaan, manajemen bisnis, dan lain-lain tidak perlu belajar dari buku-buku teks asing, tetapi langsung datang saja belajar kepada J seorang lulusan SLTP yang telah sukses menciptakan lapangan kerja bagi karyawan-karyawannya serta mengelola uang yang “lumayan besar” setiap bulan.

Semua yang ada dalam mindset J adalah teori-teori canggih yang langsung telah diterapkan secara naluriah. Demikian pengamatan dan ulasan dari saya seorang mantan sopir bemo (angkutan kota) periode 1974–1979 di Kupang-NTT.

“Rumah Makan Suka Ramai di Penfui Kupang – NTT telah dinobatkan sebagai “The best seafood restaurant In Town” oleh Tripadvisor”, tutup Vincent Gaspersz.

Guru Besar Total Quality and Operations Management ini sengaja mengangkat kembali peristiwa tiga tahun silam, sebagai success story untuk mengingatkan kita bahwa peluang/opportunity selalu ada di dalam setiap masalah atau tantang, asalkan setiap pribadi memiliki tekad kuat untuk berbuat apa yang dilakukan orang sukses. (TIM/RN)

 

Suka Ramai Seafood
Jl. Piet A. Tallo, Oesapa Selatan, Kelapa Lima, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Komentar

Jangan Lewatkan