oleh

Berharap Pada yang Berani

Syukurlah, saya senang bisa memberikan impresi yang baik tentang Indonesia di negara-negara Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co-operation and Development-OECD). Framework keuangan berkelanjutan, inovasi keuangan (innovative financing) berikut orkestrasinya mendapat apresiasi yang baik. Terus terang, tidak mudah menyampaikan hal yang begitu kompleks dalam waktu 5-6 menit.

Memang mesti diakui, keterbukaan dan eksplorasi pada hal-hal baru, tanpa rasa apriori dan skeptis, sangatlah membantu memberikan wawasan. Dan juga ada syarat utama untuk hal itu, yaitu kerendahan hati. Tentu kita perlu yakin dengan apa yang kita lakukan, namun bukan berarti kepongahan dan menutup diri. Bila itu kita lakukan, itu adalah resep manjur dekadensi dan kemandegan. Kita berhenti berkembang.

Refleksi ini saya tulis karena antara pagi dan malam, saya mengikuti dua kegiatan yang kontras berbeda. Paginya memfasilitasi dan berdiskusi penuh empati dengan berbagai serikat buruh, menyerap berbagai kerisauan, keluh kesah dan kegamangan menghadapi pandemi dengan melihat ribuan rekan-rekannya harus berhenti bekerja.

Ini bagi saya juga bukan sekedar diskursus atau wacana. Kami juga bergumul dengan persoalan. Usaha kami kantin di pabrik juga harus tutup dan merumahkan karyawan. Tentu bukan hal yang mudah bagi kami memberhentikan karyawan yang sudah seperti keluarga, namun sayang pilihan memang terbatas. Pasti ini jauh dari mudah bagi karyawan-karyawan tersebut.

Malamnya, saya berinteraksi dengan para pelaku pasar modal atau pasar uang dari berbagai negara yang mungkin kalau pertemuan fisik, maka yang terbaui adalah parfum mahal dan berbagai setelan jas atau blus seharga beberapa bulan gaji buruh. Namun meski kecil-kecilan, saya bergumul juga dengan pasar modal dan pasar uang. Lalu, membiasakan diri juga membaca berbagai prospektus atau analisa pasar. Jadi sedikit banyak saya memahami bukan hanya dari pemahaman teoritis tentang pasar modal, namun juga yang menjadi concern para pelaku di dalamnya. Dan yang membuat saya senang, mereka berusaha agar pasar modal berdampak besar bagi lingkungan dan hidup orang banyak.

Dalam forum komunitas pasar modal dari berbagai negara itu ada pertanyaan yang tak terduga, namun sayavjuga mampu memberikan jawaban dengan sudut pandang berbeda. Untunglah ssya bergumul dengan komunitas filantropi maupun keuangan mikro yang mengatasi persoalan-persoalan riil di masyarakat bawah. Me-leverage pasar modal dengan filantropi saya sampaikan bisa berdampak sangat besar.

Sayang waktunya terbatas, kalau tidak saya bisa menyampaikan lebih panjang. Tapi syukurlah, perspektif yang bukan hanya text book thinking itu telah memercik ide dan kesadaran. Dari pengamatan saya, di Amerika atau Eropa antara ide dan realisasi biasanya sangat dekat. Kalau di Indonesia, biasanya itu hanya berada di ruangan seminar atau diskusi. Lalu mereka merasa dirinya paling pintar atau paling kritis sedunia.

Namun, saya melihat ada hal yang mulai berbeda di Indonesia yaitu pada para milenial. Mereka yang bukan hanya berpikir dan berwacana, tapi juga the doer. Mereka para pengambil risiko, yang penuh keberanian!!! Mereka para pelaku disrupsi.

 

Oleh: Setyo Budiantoro

Komentar