oleh

Mengaktifkan Nasionalisme

-Esai-233 views

Bagi sebagian orang, nasionalisme adalah sebuah pedoman demi melangsungkan hidup bernegara, kendati sering sekali nasionalisme yang digunakan oleh beberapa pihak terlihat seperti Chauvinisme. Di mana, apa yang dikehendakinya adalah hal yang paling benar dan tidak terganggu-gugat lagi.

Hal itu juga disebabkan akan fanatisme yang terlalu menyelimuti pikiran-pikiran dari beberapa pihak tersebut. Sehingga kehidupan bernegara yang paling benar adalah kehidupan sebagaimana yang dikehendaki olehnya. Dan sangat jelas sekali, jika Chauvinisme dikaitkan dengan konteks Indonesia, bisa saja Chauvinisme mencerai-beraikan kerukunan hidup dalam bangsa ini.

Seiring waktu berjalan, nasionalisme sebagai ideologi seakan mencari jalan yang ia kehendaki, dan sesuai dengan keadaannya. Jika dahulu nasionalisme akan terlihat untuk melawan penjajah, tetapi kini nasionalisme mengubah jalurnya menjadi bentuk perlawanan menghadapi kelaparan. Tapi nasionalisme seperti ini belum terlihat pada pemimpin kita.

Nasionalisme seolah memilih untuk menjadi sebuah ideologi yang fleksibel dan lentur mengikuti keadaan, kendati pihak yang memproklamirkan diri mereka paling nasionalis belum mengerti kedudukan nasionalisme zaman ini, yaitu nasionalisme yang menjadi antitesis dari kelaparan serta kemiskinan. Artinya, nasionalisme lebih mengandung nilai-nilai utama dalam membantu sesama, agar tak lagi sakit, agar tak lagi miskin.

Beda nasionalisme kini dan dahulu adalah pergerakannya, seperti yang telah saya kemukakan di atas, Nasionalisme dahulu bergerak di dalam hal perlawanan terhadap penjajahan dari bangsa lain, sedangkan kini nasionalisme bergerak di dalam bidang memberi bantuan pada sesama yang kurang dalam hal ekonomi.

Dan Nasionalisme dahulu dengan saat ini sama saja tujuannya, yaitu: keadilan sosial. Dan seperti yang telah saya kemukakan, bahwa nasionalisme terlihat fleksibel dan lentur mengikuti keadaan.

Saya kira nasionalisme dengan pergerakannya saat ini, yaitu membantu sesama yang sedang ada di dalam kesulitan, juga adalah bentuk implementasi dari apa yang pernah diucapkan oleh Otto Bauer di dalam bukunya Die Nationalitatenfrage yaitu Eine nation ist eine aus chiksals-gemeinschaft erwachsene charaktergemeinschaft atau Nasionalisme adalah satu persatun perangai atau karakter yang timbul karena satu perasaan senasib. Nasionalisme semacam ini bisa dilihat buktinya dari gerakan warga bantu warga yang tengah santer dilaksanakan di seluruh penjuru republik untuk menghadapi pandemi.

Berbicara nasionalisme tidak akan pernah terlepas dari pembicaraan mengenai seberapa cintanya manusia itu terhadap bangsanya. Tentu jika hal itu ditanyakan langsung kepada publik, mungkin publik akan menjawab bahwa kecintaan terhadap bangsa tidak ada jumlahnya, karena ia bukan hitungan kalkulasi usia dari seberapa lama manusia itu tinggal dan hidup dengan bangsanya. Kendati banyak sekali permasalahan yang menerpa bangsanya, tetapi ia sebagai manusia yang lahir sebagai anak bangsa akan tetap mencintai bangsanya.

Bicara nasionalisme pun tidak akan terhindar dari soal pemimpin dan kepemimpinan. Dua hal yang berbeda posisi, pemimpin sebagai sosok dan kepemimpinan sebagai sifat. Mengapa nasionalisme itu tidak terlepas atau terhindar dari pemimpin dan kepemimpinan? Karena dalil pertama menjadi pemimpin adalah mampu dan mau memimpin.

Di dalam hal ini, pembahasan mengenai kepemimpinan dan pemimpin tidak lagi dipersoalkan mengenai seberapa cintanya ia terhadap bangsanya, tetapi pertanyaan itu akan berubah menjadi “Apa solusi dari Anda mengenai kelaparan dan kesenjangan ekonomi serta kerusakan lingkungan?” Pertanyaan ini akan muncul, karena yang akan dipersoalkan di kemudian hari adalah kelayakan hidup manusia, tidak lagi mempersoalkan kecintaan terhadap bangsa, karena itu ada pada setiap anak bangsa.

Tetapi, paradoks mengenai nasionalisme pun sering terjadi, di mana pemimpin mempromosikan nasionalisme palsu, seolah ia berhasil merebut sesuatu dari tangan mereka yang bukan sebangsanya. Dan hal ini terlihat sarat akan pengkultusan, di mana pemimpin terlalu dielu-elukan oleh pendukungnya karena mampu merebut apa yang menurut mereka hak bagi bangsanya.

Tetapi di sisi lain, apa yang telah direbut dari yang bukan sebangsanya memang sudah harus dikembalikan kepada bangsa itu sendiri, karena sudah sesuai dengan perjanjian atau kontrak yang telah disepakati dan dijalankan. Terlihat dari dalam soal ini, nasionalisme pun sarat akan terkena manipulasi.

Nasionalisme palsu pun sering sekali dipromosikan oleh mereka para pejabat publik yang kurang mampu bekerja untuk publik. Mereka santer memajang poster-poster yang memperlihatkan senyum dari si pejabat publik tersebut. Mereka tidak malu mempromosikan diri untuk menjadi calon pemimpin di tengah ketidakmampuan mereka menangani suatu permasalahan.

Di kita, sedang terjadi hal itu. Terlebih-lebih hal itu menunjukkan bahwa kita sedang menghadapi satu lagi permasalahan besar, yaitu crisis of leadership. Karena mereka yang memajang poster-poster besar tersebut adalah pejabat publik yang belum mampu menangani permasalahan yang disebabkan oleh pandemi.

Nasionalisme itu sendiri adalah hal yang perlu dirawat agar ia tidak melenceng dari jalan yang semestinya ia tempuh, di mana hakikat dan nilai dari kemanusiaan yang dijunjung.

Kita tentu pernah mendengar dan membaca ucapan dari tokoh revolusi India yaitu Mahatma Gandi. Gandi mengatakan, “My nationalism is humanity” atau “Perikebangsaan saya adalah kemanusiaan”. Nilai inilah yang perlu dipegang dan dijalankan oleh kita terkhususnya para pemimpin, agar tidak keliru menjalankan Nasionalisme.

Dalam sejarah kita, tahap awal Nasionalisme masih bercorak etnosentrisme, di mana keinginan untuk menjadi bangsa yang maju dan bermartabat sangat menggelora. Tetapi di sisi lain tokoh-tokoh kita belum bisa meninggalkan etnis dan kesukuannya. Hal ini bisa kita lihat dari berdirinya organisasi kepemudaan, yang sering mengadakan diskusi atau rapat untuk membahas kemajuan bangsanya.

Tetapi mengenai kesukuan, adalah bukan sebuah masalah bagi tokoh-tokoh kita, karena pada dasarnya prinsip yang dipegang adalah kemajuan bangsanya dan bukan untuk hal lain.

Artinya, prinsip dari nasionalisme kita sejak dulu bersifat universal bukan partikular. Hal itu terbukti dari budaya kita sebagai bangsa yang sering bercakap-cakap tentang keadaan negeri dan solusi yang baik untuk negeri, tanpa bertanya dari mana asal dan sukunya serta apa agamanya. Hal ini perlu dirawat dengan baik, karena sebagai bangsa, gotong-royong adalah hal penting dalam kemaslahatan hidup bersama.

Indonesia sebagai identitas nasionalismenya baru muncul pada 1925, saat di mana para mahasiswa kita di negeri Belanda mendirikan Perhimpunan Indonesia. Mereka mengeluarkan manifesto politik yang kemudian menjadi arah berkembangnya nasionalisme Indonesia. Manifesto politik mereka adalah: kesatuan nasional, solidaritas, nonkooperatif, dan swadaya.

Isi dari manifesto politik tersebut adalah untuk melawan penjajahan negeri Belanda dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Kita tahu kekuatan bangsa ini dari dulu adalah pikiran-pikiran yang bijak, dan itu tidak boleh tercoreng atau bahkan terhapuskan. Berkat dari kepeloporan anggota Perhimpunan Indonesia, nasionalisme Indonesia makin menemukan hakikatnya. Gerakan nasionalisme pun lebih terarah dan bersifat integratif.

Dalam sejarah tahap awal munculnya nasionalisme pada bangsa ini, para tokoh kita memiliki political will, sebuah keinginan memajukan bangsa dengan berpolitik yang sesuai dengan dalil-dalil kemanusiaan. Hal ini haruslah diketahui oleh seluruh pejabat publik kita—bukan hanya harus diketahui, tetapi akan lebih pasti jika dijalankan untuk menyelesaikan sebuah permasalahan.

Dalam konteks ini pula, civil society berkewajiban paham akan politik dengan hakikatnya sebagai alat memperjuangkan keadilan, dan mengontrol kekuasaan secara penuh, sebagaimana yang tertuang dalam konsep demokrasi, agar kebijakan-kebijakan yang dihasilkan mengandung nilai-nilai citizenship. Kepentingan warga negara lah kepentingan yang utama.

 

Oleh: Farhan Donganta Jaya / Mahasiswa STAIN Mandailing Natal

 

Artikel ini sudah dipublish di nalarpolitik.com

Komentar

Jangan Lewatkan