oleh

Kenapa Cinta Seperti Maut?

-Esai-223 Dilihat

Kenapa Cinta Seperti Maut?: Kalau Sayang Adalah Pedang Maka Cinta Adalah Luka dan Kematian

(Melihat dimensi “kematian” dalam puisi T.S. Eliot; The Love Song of J. Alfred Prufrok)

Cinta merupakan suatu emosi atau perasaan dari dalam diri sesorang akibat faktor pembentuknya. Secara filosofis cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Karena itu tepatlah apa yang dikatakan para pujangga bahwa “hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga”.

Menurut Aristoteles cinta merupakan kekuatan penggerak yang tak tergerakan (Tuhan) sebagai yang dicintai dan sistem planet sebagai pencipta. Oleh karenanya sangat sulit untuk mendefinisikan makna cinta yang sesungguhnya, sebab segala unsur yang berkenaan dengan cinta mencakup ruang yang amat luas, dan melibatkan Tuhan dan seluruh tatanan dunia. Soren Kinkegaard dalam bukunya Works of Love menulis “Bagaimana segala-sesuatu dapat dikatakan dengan benar tentang cinta jikalau Engkau (Tuhan) dilupakan? ”Namun bukan berarti bahwa cinta merupakan suatu sifat yang jauh daripada manusia, cinta justru sangat dekat dalam kehidupan manusia. Bahkan kalau dibilang cinta merupakan unsur yang mewujud dalam diri manusia. Sangat mudah dan sederhana bagi manusia untuk merasakan cinta. Sehingga saya setuju dengan peribahasa bahwa yang paling sulit justru adalah yang paling sederhana.

Karena kedekatannya dengan manusia, cinta kemudian turut ambil bagian dalam segala dimensi kehidupan manusia. Yang saya maksudkan disini adalah bagaimana cinta sekaligus memiliki dimensi kehidupan, kematian, penderitaan, ketakutan, keresahan, dsb. Seorang ibu yang baru selesai bersalin, akan memandang anak yang dilahirkannya dengan penuh cinta, disinilah kita menemukan dimensi kehidupan dari cinta. Dimana kehidupan anak yang dilahirkan ibu itu membangkitkan cinta dalam dirinya. Atau ketika seorang pria yang harus merelakan kekasihnya pergi ke pangkuan pria yang lain, cinta akan kekasihnya kemudian menghadirkan dimensi penderitaan dalam dirinya. Dari sedikit contoh itu, bisa kita lihat bagaimana cinta justru ambil bagian dalam banyak dimensi kehidupan manusia. Sehingga kalau seseorang bersaksi bahwa ia tidak memiliki cinta, maka kemanusiaannya pun patut diragukan.

Seorang sastrawan besar Inggris T. S. Eliot dengan sangat apik menggambarkan dimensi lain dari cinta, yakni kematian. Dalam puisinya The Love Song of J. Alfred Prufrock (Senandung Cinta J. Alfred Prufrock), T.S. Eliot nampaknya ingin menelanjangi para penyair lain yang melihat cinta sebatas rasa yang menyenangkan, memberikan kenyamanan, atau rasa yang di idam-idamkan manusia. Dimensi kematian dalam cinta, justru menghadirkan ketakutan bagi manusia untuk tiidak terjerembab dalam cinta yang berbahaya tersebut. Disini penulis ingin melihat dimensi cinta yang membawa kematian dalam puisi karya T. S. Elliot tersebut.

Sekelumit Tentang T.S. Elliot

Thomas Stearns Eliot, lahir pada 26 September 1888, di St. Louis dari kalangan bangsawan yang sangat aktif dalam kegiatan keagamaan, komunitas, dan pendidikan. Eliot mengenyam pendidikan di Militon Academy, Massauchusetts, dan mempelajari filsafat di Universitas Havard ppada tahun 1906-1909, dan mendapat gelar dalam kurun waktu tiga tahun. Setelah menjadi asisten dosen filsafat di Havard, Eliot pindah ke Paris dan melanjutkan pendidikan di Sorbonne. Setelah perang dunia pertama pecah, ia mengungsi ke Inggris.

Di Inggris, Eliot menjadi penulis puisi dan drama yang sangat termasyur. Salah satu puisi yang terkenal adalah “Four Quarters” 1943, dan pada 1935 ia mementaskan dramanya “Murder in the Cathedral” yang kemudian melambungkan namanya sebagai seorang penulis drama terbaik pada zamannya. Eliot kemudian meninggal kakrena kesehatannya yang memburuk pada 4 Januari 1965. Ia lalu dikremasi di Golders Green Crematorium. Sebelum kematiannya, ia telah berpesan agar abunya dibawa ke St. Michael Curch di East Coker, sebuah desa tempat emigrasi nenek moyangnya.

Lagu Cinta Alfred Prufrok

Alfred Prufrok merupakan seorang tokoh rekaan yang digunakan Elliot dalam puisinya. Dalam tokoh Alfred, Eliot menggambarkan tentang pergolakan cinta Alfred yang bisa dikatakan “tragis” karena memadukan relasi intim antara cinta dan kematian. Kematian yang dimaknai dalam puisinya ini bukanlah kematian secara harafiah seperti yang kita ketahui, namun kematian yang lebih mengarah pada kondisi batiniah manusia. Cinta yang terpendam dan tak mampu diugkapkan, cinta yang dipenuhi warna kelabu rasa takut dan kecemasan, menjadi symbol kematian rasa cinta dalam pribadi manusia.

Dari malam-malam gelisah di hotel melati kelas rendah
Dan pada bar berserbuk gergaji tambah cangkang-tiram
Jalanan yang menjejak seperti dalih-berbelit
Dari maksud tersembunyi
Membawamu ke satu tanya penuh ragu
Oh, jangan kau tanyakan,” Apa gerangan?”

Lirik awal puisi “Senandung Cinta Alfred Prufrok” ini menggambarkan kondisi batin seorang Alfred yang meragu tentang cintanya. Kegelisahan yang dimaknai dengan jalanan yang menjejak seperti dalih-berbelah menggambarkan kegundahan hatinya yang merasa kesepian dan ragu. Rasa kesepian dan ragu membawanya kepada fase “kematian” akan harapan dalam dirinya, terlebih harapannya akan cinta.
Alfred merupakan tokoh yang tersinggung akan segala sesuatu disekitarnya. Eliot menggambarkan dengan sangat luar biasa mengenai kegundahan hati seorang Alfred yang merupakan kegundahan seluruh umat manusia dalam menghadapi ketidakpastian.

Di dalam bilik, sang wanita bolak-balik
Bertopik Micheangelo ia berbisik
Dan tentu akan tiba waktu
Untuk meragu, ”beranikah aku ?” dan,“beranikah aku?”
Waktunya kembali dan turuni tangga,

Dari lirik ini, kita dapat melihat apa yang menjadi ketakutan terbesar manusia. Manusia adallah pribadi yang takut akan segala sesuatu. Ketakutan terbesar manusia bukanlah berasal dari apa yang ada dari luar dirinya, namun ketakutan terbesar manusia adalah dirinya sendiri. Kecemasan dan keraguan yang bergolak dalam diri manusialah yang menjadikannya takut akan segala sesuatu. Oleh karenanya benarlah apa yang dikatakan para penyair bahwa “musuh terbesar bagi manusia adalah dirinya sendiri”. Pikiran manusia yang cenderung berfantasi lebih, membawa manusia kepada kekhawatiran-khawatiran lain yang sebenarnya belum tentu nyata adanya. Seseorang yang ingin mengungkapkan perasaannya kepada orang yang dikasihinya, akan bergulat dengan pertanyaan mengenai apakah ia akan diterima?apakah ia pantas untuk mencintai orang itu?atau apakah orang yang dicintainya itu mencintainya juga?. Pergolakan inilah yang kemudian menjadi “pedang” yang membunuh harapan dalam diri, meruntuhkan segala keyakinan batin dan membawanya pada kecemasan berlebihan. Inilah yang dimaksudkan Eliot sebagai posisi cinta yang “mati”.

Eliot menggambarkan Alfred sebagai pribadi yang takut akan cintanya. Sehingga segala sesuatu yang dilihat oleh Alfred memicu kebencian dan kecemburuannya. Bagaimana kondisi batinnya membuat mantelnya terasa sesak, atau tentang cangkir, selai jeruk, dan teh, yang seolah-olah “menelanjanginya” dengan pertanyaan apakah semua yang diusahakannya itu berharga?. Alfred melihat bahwa segala sesuatu yang berada disekitarnya seolah hidup dan menghakiminya. Menertawakan dirinya yang tragis, menertawakan cintanya yang tak terungkap, dan menertawakan dirinya yang cemas, ragu, dan takut dengan keadaan dirinya (cintanya).

Mantel pagiku — kerahnya menyesak hingga dagu
Dasiku mewah dan sederhana, namun dikait peniti biasa —
……..
Dan akankah itu bernilai, pada akhirnya,
Setelah cangkir, selai jeruk, teh,
Di antara porselen, di antara secuap dua pembicaraan kita,
Akankah itu berharga?

Seperti yang telah saya sampaikan tadi, “kematian” dalam konteks seorang Alfred adalah konisi dimana ia tak dapat mengungkapkan cintanya kepada yang dikasihinya. Inilah penggambaran otentik tentang bagaimana cinta bukan semata-mata membawa manusia kepada kehidupan yang indah dan berbunga-bunga, namun kepada kecemasan, ketakutan, kekhawatiran, yang seolah-olah menjadikannya sebagai pribadi hidup yang sekaligus mati. Alfred mengumpamakan dirinya seperti seorang yang “tertusuk peniti, dan tertancap di dinding”, artinya bahwa dia berada di posisi serba salah yang membuatnya tidak mampu melakukan apa-apa. Keadaan seorang Alfred sangat related dengan kondisi manusia, dimana manusia sewaktu-waktu akan mendapati dirinya terjerembap dalam keputus-asahan dan menjadikannya tak mampu melakukan segala sesuatu. Itulah kematian.

Lengan bergelang, putih dan polos
[Tapi di bawah cahaya lampu: dibingkai rambut cokelat terang!]
Apa harum dari gaun
Yang membuatku melantur-tertegun?
Lengan yang terkapar atas meja, juga tersaput selendang

Cinta membawa Alfred pada kematian. Lirik bait-bait pertengahan puisi ini menggambarkan kecintaannya terhadap wanitanya yang tak kesampaian. Dalam benaknya dia memfantasikan bagaimana lengan wanita itu membelainya, dan bagaimana harum gaun wanita itu dibauinya. Harum familiar gaun wanita yang dicintainya itu membuatnya melantur, namun akhir dari segalanya adalah kehampaan. Sebab ketika usai segala fantasinya ia kembali kepada posisi awal yang ragu akan cinta dan tidak mampu mengungkapkan cinta itu.

Dan sang senja, sang malam, terlelap tenteram!
Dibelai jemari panjang,
Lelap…lelah…atau sekedar berpura,
Telentang ia di lantai, di sisi kita berdua.

Alfred mengungkapkan tentang sore yang dibelai tangan wanita itu, dengan maksud bahwa dia ingin merealisasikan dirinya dalam suasana sore di antara sentuhan wanitanya, namun Alfred tidak punya nyali untuk mengungkapkannya. Sore yang dibelai tangan wanita merupakan metafor yang mengungkapkan kerinduan akan sentuhan wanitanya, namun ketika semuanya itu kembali kepada kenyataan dia akan mendapati dirinya “mati” dalam perasaan yang tak mampu diungkapkan.

Namun meski telah meratap aku, berpantang, puasa, serta berdoa tersedu,
Meskipun sudah kusaksikan kepala ini (rontok dan botak) diseret ke atas piring,
Aku bukan nabi dan itu bukan soal;
Telah kulihat masa jayaku terang-redup,
Dan telah kusaksikan pelayan meraih mantelku dan terbahak
Dan sekilas, aku cemas.

Alfred kemudian digambarkan sebagai sesosok lelaki yang kalah dengan perasaannya. Setelah segala sesuatu yang berkecamuk dalam dirinya, ia mendapati dirinya telah usai, redup dan mati dalam cintanya yang mendalam akan wanitanya. Kecemasan dalam dirinya kemudian membawanya kepada kesadaran akan kematiannya yang semakin nyata. Alfred menua bersama cintanya yang tak kesampaian, yang tak terungkapkan, dan tak membawakan hasil yang diharapkan. Hemat saya bahwa pokok dari semua persoalan Alfred disini adalah keraguan dan ketakutannya dalam mengungkapkan cintanya kepada wanitanya. Sebelum ia mati dalam kenyataannya, ia telah terelebih dahulu mati dalam pikirannya yang bergolak hebat.

Terkadang, konyol —
Terkadang tolol.
Aku menua… bertambah tua..
Mestinya kubalun bawah celana.
Mestikah kucampakkan rambutku ke belakang ? Bernyalikah aku mengunyah persik?

Salah satu hal yang menurut saya sangat luar biasa dari puisi Eliot ini adalah penggambarrannya yang realistis akan kondisi manusia yang justru “mati” oleh pikirannya sendiri, terlebih dalam persoalah cinta. Alfred yang tidak mampu keluar dari keterkekangannya akan cinta yang tak kesampaian membawanya kepada kondisi dimana ia menyalahkan dirinya sendiri dan menyesali segalanya. Menyesali ketakutannya, kecemasannya, terlebih menyesali cintanya.

Kematian Alfred Dalam Cinta Yang Tidak Kesampaian

Pengalaman intens yang dialami Alfred mengenai cinta yang tak kesampaian membawa pemahaman bahwa segala sesuatu tidak ada yang pasti, terlebih berkaitan dengan cinta. Pengalaman kematian yang diungkapkan dalam cinta Alfred oleh Eliot adalah cinta yang tidak pasti. Ketidakpastian itu membawanya kepada kematian batiniah yang mendahului kematiannya yang sesungguhnya. Kematian Alfred kemudian terkuak dalam lirik-lirik tentang hari tua.

Martin Sanjaya kemudian melukiskan bahwa puisi Eliot ini merupakan alegori yang menggambarkan kefanaan manusia. Dimana semuanya akan mati dan cinta itu bukan membuat manusia hidup abadi, tetapi mengapresiasi dan mensyukuri kefanaan manusia.

Puisi ini kemudian ditutup dengan keputusasaan yang sejalan dengan kenyataan yang dialami Alfred, dimana dia menggambarkan tentang Putri Duyung yang bernyanyi baginya tentang keindahan, masa lalu, dan cintanya yang telah usai. Tragisnya bahwa semua itu bukan nyanyian untuknya.

Telah kudengar putri duyung bersenandung, ke sesamanya

Rasaku, takkan bernyanyi mereka untukku.
Telah kupandang-lekat mereka melaut-mengombak
Menyisir rambut putih dari punggung-ombak yang terempas
Ketika angin mendesir, air menghitam, buih memutih
Kita tinggal-tetap di bilik lautan
Dikerumuni gadis laut bertatah ganggang merah dan cokelatTelah kudengar putri duyung bersenandung, ke sesamanya
Rasaku, takkan bernyanyi mereka untukku.
Telah kupandang-lekat mereka melaut-mengombak
Menyisir rambut putih dari punggung-ombak yang terempas
Ketika angin mendesir, air menghitam, buih memutih
Kita tinggal-tetap di bilik lautan
Dikerumuni gadis laut bertatah ganggang merah dan cokelat
Hingga suara-suara manusia membangunkan kita, kita tenggelam.

Puisi The Love Song of J. Alfred Prufrok ini dilukiskan bahwa cinta secara fundamental adalah pengalaman akan maut. Karena itu cinta dilukiskan sangat dekat dengan kematian. Maka tidak salah kalau orang-orang mengatakan bahwa cinta itu adalah sesuatu yang misterius dan sulit didefinisikan, karena mencakup semua dimensi hidup manusia. Cinta dekat dengan kematian, sehingga orang yang mwncintai harusnya tidak takut akan “kematian”.

 

Oleh: Zoterdino / Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

Komentar

Jangan Lewatkan