oleh

Anak Tukang Kayu dari Bantaran Anyar

-Feature-310 views

PROFESI Noto Miharjo tak beda juga dengan kebanyakan wong deso. Tak jauh dari sebelah utara Terminal Tirtonadi, kota Surakerto (Solo), sehari-hari Pak Noto Miharjo bersolo karir sebagai tukang kayu. Hidup dalam kesederhanaan, prihatin. Boleh jadi Noto bersama isterinya, Sujiatmi Notomiharjo, dan anak-anaknya setia memahami kemiskinan sebagai kenikmatan pemberian Gusti Alloh, Tuhan Sang Sabda. Atau Lera Wulan Tana Ekan, Tuhan penguasa langit dan bumi dalam terminologi masyarakat Lamaholot, etnis jumbo yang juga mendiami Pulau Adonara dan Lembata, ujung timur Flores alias nusa bunga “baptisan” kaum kolonial Portugis tempo doeloe.

Dua pulau “beradu bibir” di beranda Solor (bukan Solo), pulau nan eksotik bertabur menara Gereja dan Masjid bila dipandang dari Lereng Ile Boleng (Adonara) maupun Ile Lewotolok (utara Lembata), dua gunung yang tengah pula bermuram durja bersama ribu ratu, warga masyarakat akibat terjangan banjir lahar dingin pada Minggu, 4 April 2021 sekitar pukul 01.30 WIB. Namun, kisah kehidupan Noto Mihardjo dari bantaran Kali Anyar, di sebuah rumah kecil berukuran 7 × 30 meter puluhan tahun itulah, kelak rencana Tuhan menyata dalam sosok sang putera, Joko Widodo.

Setelah lahir di rumah Sakit Brayat Minulo, Solo, pada 21 Juni 1961, Noto membawa sang putra, Joko Widodo, ke daerah Srambatan, lalu bergeser ke kawasan Dawung Kidul di bantaran Kali Premulung. Di bibir sungai Premulung, dompet Noto tak kuat membayar sewa rumah kontrakan demi kenyamanan isteri serta anaknya. Noto melangkah lagi, bergeser ke Manggung di sekitar bantaran Kali Pepe. “Ya, namanya juga orang nggak punya, rumah berpindah-pindah dan selalu di bantaran sungai,” kata Joko Widodo kepada Bimo Nugroho dan Ajianto Dwi Nugroho dalam ‘Jokowi: Politik Tanpa Pencitraan’, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta (2012).

Ile Boleng dan Lewotolok

Jumat siang ini, Joko Widodo, anak tukang kayu ini menuju Adonara, Flores Timur dan Lembata. Tiba di Bandara Fransiskus Saverius Seda (diabadikan dari nama tokoh nasional & mantan menteri era Soekarno), siang ini dan melanjutkan perjalanan ke Adonara dan Lembata, di lereng gunung Ile Boleng dan Lewotolok, dua wilayah terdampak banjir pada Ahad, 4 April 2021 dini hari, doa orang-orang sederhana: petani, pedagang, nelayan, guru, pegawai, anak-anak kecil yang kehilangan kerabat, bakal mengalir dari bawah atap Masjid, Mushola bahkan di kaki Salib di altar Gereja maupun Kapel di tengah deraan batin akibat banjir yang ganas melumat tanpa ampun itu.

Kalau saja Jokowi menjalani sholat Jumat, entah di Adonara atau Lembata, lera wulan tana ekan, akan menyahut: menyatu bersama doa seorang Jokowi juga untuk ribu ratu, sesama anak bangsa dan tanah yang ia pijak hari ini. “Kami ke Lewoleba. Mau melihat dari dekat kbeleken nakre (orang besar dalam dialek Imulolo). Beliau pemimpin bersahaja, orang sederhana, baik hati, dan peduli dengan ribu ratu. Kakau Bapak Presiden Joko Widodo datang liat kami di kampung, kami bangga. Selama ini kami cuma liat wajahnya di televisi,” kata Lasarus Wuwur, Sekretaris Desa Puor B, Kecamatan Wulandoni, selatan Lembata, kemarin malam.

Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat boleh jadi adalah orang paling dikuras waktu dan tenaganya menyambut Jokowi dan rombongan di dua nusa nan eksotik itu. Selain bersama warga masyarakat Nusa Tenggara Timur memastikan kehadiran Joko Widodo aman dan nyaman, Viktor, mantan tukang dorong gerobak di belantara Jakarta, tentu tengah dibikin pusing akibat sebagian daerah dan warga masyarakatnya dihantam badai Seroja. Rumah-rumah warga, perkantoran, jalan dan jembatan tengkurap dihajar badai dan banjir lahar dingin. Namun, nestapa di tanah Flobamora bakal terhapus perlahan. Kehadiran Jokowi bakal menghapus lara di dinding hati korban dan warga tanah Flobamora.

“Bapa saya patah kaki sebelah. Untung segera ditarik dari dalam tanah. Saya tidak membayangkan kalau tak ada yang menolongnya saat itu. Saya terharu saat bapa saya dikunjungi Kepala BNPB Bapak Doni Monardo di Rumah Sakit Umum Lewoleba. Menteri Sosial Ibu Tri Rismaharini juga melihat langsung dan menyerahkan bantuan Presiden Jokowi bagi keluarga korban di Ile Ape. Kami sungguh berterima kasih kepada Pak Jokowi karena hari ini beliau ke lereng gunung Ile Boleng dan Lewotolok,” kata Wilhelmus Lawe Wiliam Wahang, warga asal Desa Lamawolo, Ile Ape, Lembata dari Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Ile Ape, Ile Ape di utara Lembata, dan Omesuri di timur Lembata pun menyuguhkan rona menyedihkan. Air menyapu tanpa ampun sejumlah desa. Banyak warga terjebak dalam tanah lalu menutup mata selamanya di tengah gelap yang masih pekat. Lewotolok dan desa-desa sekitarnya, pemandangan memilukan. Tuhan menggandakan nestapa pada Minggu (4/4 2021) dini hari setelah erupsi Lewotolok terjadi pada Minggu, 29 November 2020 di saat sebagian umat Katolik baru saja merayakan Misa Minggu di tengah deraan wabah korona yang mendunia. Bencana beruntun itu juga meluluhkan banyak pihak, termasuk putra asli asal Lembata di rantau. “Kita semua prihatin musibah itu. Banyak pihak juga baik hati membantu ribu ratu kita. Saya langsung menuju Lewotolok, kampung halaman. Saya datangi warga korban yang masih bertahan di posko pengungsian. Kita buat mereka senang. Saya sangat senang bisa menghibur dan membantu semampu saya,” kata H. Rumah Aspirasi Sulaeman Hamzah, warga asal Lewotolok dan anggota DPR RI Daerah Pemilihan Papua.

Begitu juga putra Lembata lainnya, Kepala Biro Pembinaan dan Operasional Badan Reserse dan Kriminal Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia Brigjen Pol Daniel Hyronimus Boli Tifaona, SIK, M.Si, bersama saudara serta saudari kandungnya ambil bagian membantu warga terdampak bencana erupsi Ile Lewotolok November 2020 lalu. Boli Tifaona, putera Alm Brigjen Pol Drs Anton Enga Tifaona, melalui Forum Lembata Memanggil bahkan mengajak para dokter dan tim medis datang ke Lembata memberikan bantuan medis. Perwira tinggi yang menjabat Karoops Bareskrim Mabes Polri juga memiliki kepedulian sangat tinggi terhadap Lembata, juga Imulolong, kampung halamannya. “Babe (ayahnya) selalu pesan agar kita berbuat baik kepada siapa saja. Termasuk kampung halaman dan orang-orang di sana. Kalau kita sudah berbuat baik, banyak berkat Tuhan lewat tangan sesama akan kita terima,” kata Daniel, mantan Kapolres Jakarta Utara dan Kapolres Kota Bekasi, Jawa Barat.

Pada Jumat hari ini Flores Timur dan Lembata dikunjungi Presiden Joko Widodo bersama rombongan. Kunjungan ini tentu merupakan penghormatan dàn penghargaan bagi ribu ratu, masyarakat di tengah gundah sebagian warga korban banjir. Bagi warga masyarakat, status sebagai daerah tertinggal tentu juga mendapat perhatian Presiden Joko Widodo. Perhatian itu terutama terkait infrastruktur jalan yang masih sangat minim. “Ruas jalan dari Lewoleba menuju destinasi wisata Lamalera nampak seperti zaman kolonial. Kita berharap Bapak Presiden Jokowi membantu dengan APBN. Barangkali ruas jalan itu dikerjakan dengan dana pusat. Imulolong hingga Lamalera itu kampung Jendral Anton Tifaona dan Prof Gorys Keraf, dua tokoh Lembata yang berjasa bagi Indonesia. Saya percaya saat SMA atau kuliah Pak Jokowi sudah membaca buku Tata Bahasa Indonesia karya Gorys Keraf,” ujar Petrus Bala Pattyona II, praktisi hukum asal Lembata.

Terima kasih, Bapak Presiden Jokowi karena sudah berkenan datang di Flores Timur dan Lembata. Terima kasih Kepala BNPB Bapak Doni Monardo, Kapolri Bapak Listyo Sigit Pabowo, Panglima TNI Marsekal TNI Dr. (H.C.) Hadi Tjahjanto S.I.P, Gubernur Nusa Tenggara Timur Bapak Viktor Bungtilu Laiskodat, Kapolda NTT Bapak Irjen Pol Lotharia Latif, Pangdam Udayana, Danrem Wirasakti, dan Kapolres Lembata Bapak AKBP Yoce Marten,S.H.,S.I.K.,M.I.K, atas kesetiaan mengawal kunjungan kerja Bapak Jokowi, anak Noto Mihardo, tukang kayu dari bantaran Kali Anyar. Selamat menunaikan ibadah sholat Jumat di kampung kami, Bapak Presiden. Insya Alloh, doanya juga untuk Indonesia dan warga Adonara serta Lembata. Matur nuhun, PakDe. Salam dari rantau. Salamalaikum.

 

Jakarta, 9 April 2021
Oleh: Ansel Deri

Komentar

Jangan Lewatkan