oleh

Constan Haki, Menyuling Sopi Meraup Sarjana

-Feature-602 views

ACARA syukuran wisuda di bilangan Petuk, Kolhua, Kota Kupang semalam menyiratkan idealisme dari seorang ayah. Constan Haki, seorang Bapak dari Desa Obe, Kecamatan Fafinesu A, Insana. Merayakan syukuran sederhana atas keberhasilan anaknya meraih gelar sarjana di sebuah perguruan tinggi di Kota Kupang.

Bahwa seseorang diwisuda dan menyandang gelar sarjana itu lumrah. Hampir setiap tahun perguruan tinggi di NTT mewisuda ribuan sarjana dari berbagai disiplin ilmu.

Tetapi bahwa cita-cita seorang petani sebagai penyuling sopi atau arak dan hendak menjadikan anaknya sarjana itu mungkin sesuatu yang luar biasa.

Betapa kondisi kehidupan di zaman yang selalu membutuhkan uang, banyak orang akan lebih memilih menginvestasikan seperti berdagang atau lainnya. Tidak demikian dengan Bapak Constan Haki, pria 70 tahun ini. Ia lebih memilih investasi masa depan. Invetasi masa depan yang dimaksudkan adalah menyekolahkan anaknya.

Oleh karena itu, dalam kondisi dililit utang sekalipun ia tetap memilih menyekolahkan anaknya. Alhasil, puteranya menuntaskan prgoram strata satu dan meraih gelar sarjana.

Ketika menjawab pertanyaan menggelitik soal sopi sebagai minuman beralkohol, ia hanya tersenyum dan berargumentasi.

“Namanya sopi pasti beralkohol, tapi itu sebuah budaya yang mesti dilestarikna,” demikian ia berargumen. Karenanya, di Kampung Obe, bersama beberapa orang lainnya, mereka masih menggeluti pekerjaan dengan menyadap nira pohon lontar. Nira-nira itu kemudian disuling menghasilkan minuman yang disebut sopi.

Bapak Constan yang berkepala tujuh ini pun lebih lanjut menjelaskan soal jenis pekerjaan yang tidak boleh dilihat sebagai yang lebih bermartabat atau tidak.

Baginya semua pekerjaan halal pasti mendatangkan berkat. Buktinya, melakoni pekerjaan sebagai penyadap nira juga penyulingan minuman beralkohol telah mencukupi kehidupan saya dan bisa menyekolahkan anak.

“Biar hanya jadi tukag iris, yang penting anak-anak mesti kuliah,” demikian bapak Constan Haki dengan kesahajaannya.
Bersama isteri dan sanak keluarga, mereka merayakan syukur secara sederhana.

Baginya bukan soal meriah atau tidaknya acara, tetapi mensyukuri keberhasilan. Moment yang mesti dirayakan sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan juga kepada sesama.

Menariknya, demikian Bapak Constan yang juga sesepuh di desa Obe, Kecamatan Fafinesu, Maubesi ini, menegaskan secara sadar atau tidak sebenarnya keberhasilan seseorang itu atas dasar doa dan dukungan dari sesama.

 

Oleh: Y. Joni Liwu

Komentar