oleh

Kado dari Rantau di Tangan Thomas

-Feature-302 views

BUKU Membangun Tanpa Sekat tak hanya mengelilingi beberapa negara. Buku ini juga menyapa ribu ratu di kampung halaman, Lembata. Terbit sebagai kado peringatan 21 otonomi Lembata tahun 2020. Isinya refleksi perjalanan Lembata selama 20 tahun.

Ada sejumlah penulis ambil bagian berbagi refleksi ikut merayakan kegembiraan bersama pemerintah dan masyarakat menyongsong milad tanah Lepanbatan. H. Rumah Aspirasi Sulaeman Hamzah, sesepuh masyarakat Flobamora di Provinsi Papua asal Lembata juga turun gunung mengulas Lembata dan kepemimpinan melayani, termasuk sekilas sejarah otonomi dan tipikal pemimpin (bupati) setiap berganti rezim di kampung halaman, lewotana, leu awuq.

“Satu-satunya bupati yang berhasil menerjemahkan kerangka dasar pembangunan berkelanjutan yang dicanangkan para pendiri otonomi Lembata tersebut adalah Petrus Boliona Keraf. Beliau berhasil meletakkan dasar pembangunan sehingga Lembata dinilai layak menjadi kabupaten. Sayang sekali, waktunya hanya setahun memimpin Lembata, tetapi karyanya yang monumental patut kita acungkan jempol. Terima kasih, ama Piter Keraf. Karyamu diapresiasi pada jamannya dan tetap dikenang sampai kapanpun,” kata H. Sulaeman Hamzah (hal. 9 buku Membangun Tanpa Sekat).

Orangtua Haji Sulaeman Hamzah tak sekadar berhenti memantau dinamika pembangunan Lembata di bawah kemimpinan Piter Keraf yang kekuasaannya seumur jagung. Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Papua ini juga menyentil rezim Bupati Andreas Duli Manuk hingga Eliaser Yentji Sunur yang disebutnya juga perlu diapresiasi sembari menghargai pula perbedaan pendapat yang membandingkan tingkat keberhasilan mereka selama mengemban mandat ribu ratu selama perjalanan Lembata hingga usia daerah otonom itu merapat ke angka 21 tahun.

“Membangun daerah dibutuhkan perencanaan matang, SDM yang unggul dan sudah pasti dengan mempertimbangkan kekayaan alam daerah serta kearifan lokal. Oleh karena itu saya mengajak kita semua, masyarakat Lembata baik yang ada di lewotana maupun di rantau melihat kembali filosofi likat matan telo dan wayong liman lema. Keadaan Lembata saat ini dapat diterawang dengan jelas, memperlihatkan sesuatu yang hilang. Rasa kebersamaan antara agama, adat, dan pemerintah sebagai tiang yang kokoh ternyata pincang dan juga tidak gampang meraih wayong liman lema karena pemerintah tidak transparan dalam memanfaatkan dana pembangunan,” kata H. Sulaeman Hamzah, anggota Komisi Pertanian DPR RI.

Melkhior Koli Melky Baran, aktivis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dalam buku itu juga menyodorkan sejumlah “buah otonomi” Lembata selama 20 tahun dalam refleksinya. Penulis buku produktif asal Desa Posiwatu, Wulandoni menyetir testimoni para penumpang bus warga Wulandoni dan Fidelis, supir bus Karunia Indah rute Lewoleba ke Lamalera, desa nelayan yang juga merupakan destinasi wisata dunia. Di musim kering, kata seorang penumpang, sama saja. “Masuk keluar lubang. Kami dari selatan sudah biasa di jalan seperti ini. Apalagi om Fidelis (sopir Karunia Indah). Dia sangat hafal jalan ini,” kata seorang penumpang bus.

Kata Melky Baran, jika mesti memanen hasil otonomi setelah 20 tahun, kita bisa bangga bahwa ada orang Lembata jadi bupati, jadi anggota DPRD dan berbagai jabatan birokrasi. Para pejabat ini pula yang bisa berkesempatan meloloskan sanak keluarga dan kerabat jadi pegawai, minimal KSO serta siap tunduk dan diam di tengah rintihan rakyat. Rakyat kebanyakan hanya bangga bahwa minimal untuk segala urusan pembangunan tidak mesti ke Larantuka.

“Jika kabupaten lain berpesta ria menikmati bentangan jalan hotmix puluhan kilo meter, biarlah impian ini boleh berharap setetes aspal panas yang disiram di atas hamparan kerikil kali lalu ditutupi pasir di atasnya. Aspal mempersingkat lama perjalanan. Jangankan di wilayah pedalaman, wajah kota Lewoleba saja seperti kota kabupaten lain di Flores tahun 1970-an,” kata Melky.

“Di usia 20 tahun, hampir tidak ada yang istimewa kecuali para pejabat, mantan pejabat, keluarga dan koleganya para pejabat berganti penampilan. Rata-rata pemimpin hasil pilihan rakyat nyaris gagal membangun Lembata. Dalam hal memilih Bupati dan DPRD Lembata, misalnya, rakyat menyerahkan haknya untuk dipecah belah bahkan diadu domba. Uang dan jabatan adalah alat pemecah kedaulatan,” kata Stephie Kleden-Beetz, bekas koresponden Deutsche-Welle Jerman dalam Prolog buku Membangun Tanpa Sekat.

Pagi ini, saya menemukan foto dokumen Thomas Ola Langoday, pejabat sementara Bupati Lembata memegang buku Membangun Tanpa Sekat. Thomas adalah salah seorang pejabat di Lembata yang menerima buku ini. Sejak awal, saya dan magun Justin L Wejak selaku editor buku sudah memetakan kepada siapa saja buku ini bermuara, selain tentu juga sejumlah sekolah dan aparat pemerintah desa. Karena itu, buku tersebut juga sampai di tangan Kapolres dan Wakapolres Lembata, Sekretaris Daerah Paskalis Tapo Baly, Ketua DPRD Petrus Gero, dan sejumlah pejabat.

“Dua eksemplar buku untuk Bapak Bupati Yance diarahkan untuk saya serahkan ke pramu tamu. Maaf, saya belum bisa memenuhi harapan editor agar kalau berkenan buku itu saya serahkan langsung kepada Bapak Bupati. Saya akan berusaha lagi bertemu beliau,” kata Dion Ola Wutun, penulis buku Membangun Tanpa Sekat, yang bermukim di Lewoleba.

Pasca Thomas ditugaskan Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Laiskodat mengemban tugas sementara setelah Bupati Eliaser Yentji Sunur berpulang, Thomas dan Justin Wejak saling berbalas surat di media. Surat berbalas dua putra Lembata berlatar akademisi tentu juga penting agar selalu hadir check and balances dalam praktik kehidupan berpemerintahan. Rakyat yang bersuara melalui magun Justin Wejak, meski lokus domisili nun di Melbourne, negara bagian Victoria, Australia dengan Thomas sebagai pengemban mandat rakyat perlu dijembatani dalam komunikasi produktif demi memacu gerak pembangunan ke arah lebih baik, meruntuhkan aneka sekat non produktif demi ribu ratu dan lewotana, leu awuq. Atau meminjam judul buku: membangun tanpa sekat. Judul ini tentu diharapkan agar digemakan Thomas di sisa masa tugas formalnya sebelum berakhir dan Lembata menentukan pemimpin baru pada hajatan politik tahun 2024. Selamat siang. Salam dari rantau. Lewotana, leu awuq melihat kita semua. Tuhan berkati.

 

Jakarta, 22 Juli 2021
Oleh: Ansel Deri
Orang udik dari kampung:
Editor Membangun Tanpa Sekat

Komentar

Jangan Lewatkan