oleh

Nama yang Muncul di Kelapa Lima

-Feature-965 views
Spread the love

BENS Leo (69). Nama itu muncul dari Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisata (BPLP) Jasa Bakti, Kelurahan Kelapa Lima, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Dari ruang kuliah, Fransiskus Borgias Lawalu menyebut nama itu. Frans menyajikan materi kuliah Food and Beverage (F & B) kepada para mahasiswa di lembaga pendidikan milik Pak Pendeta Sam J Pandie, pria asal Pulau Rote, yang lama menetap di rumahnya, Kelapa Lima, persis tak jauh dari bibir pantai dengan Hotel Sasando, tempat Frans Borgias bekerja sambil menunaikan tugas tambahan sebagai dosen F & B di BPLP Jasa Bakti.

Sebagian rumah itu dijadikan ruang kuliah. Saya dan sahabat Bernard Bera Duan dari kampung melewati kuliah di situ. Bernad berhasil diyakinkan kerabat Rikard Daton Klobor, asisten dosen Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira, agar urung merantau di tanah jiran Malaysia dan mesti melanjutkan kuliah.dengan alasan kelak jadi orang. Sedang saya parkir sementara di BPLP Jasa Bakti setelah ditolak mentah-mentah panitia penerimaan calon mahasiswa baru di Undana.

Saya hanya menyetor copyan nilai ujian akhir dari SMA Negeri 468 Larantuka tanpa menyertakan ijazah asli dan copynya yang sudah dilegalisir dari Dinas Pendidikan Flores Timur. Maklum. Kala itu, tahun 1989-1990, SMA Kawula Karya Lewoleba, Lembata, nebeng ujian EBTANAS di SMA Negeri 468. Ijazah para peserta sekolah titipan diteken belakangan sehingga saya hanya bermodal daftar nilai tulisan tangan mendaftar di Undana sebelum akhirnya kandas.

Memilih kuliah sementara di Kelapa Lima terasa berat. Namun, perlahan mulai menyesuaikan diri setelah bertemu Frans Borgias, dosen lulusan Akademi Pariwisata Bandung. Dari tatar Sunda, tanah Parahyangan, Frans bercerita berteman dengan Bens Leo, seorang anak muda yang multi talenta di bidang musik. Sama-sama pemerhati.dan penikmat musik. Namun, Bens Leo lebih dari itu. Ia (Bens) tak sekadar piawai dalam praktik bermusik. Ia juga pengamat dan analis musik yang baik.

“Rasanya tak lengkap kalau membahas musik dan trend kelompok maupun musisi Bandung, tanah Parahyangan tanpa Bens Leo. Beliau teman akrab saya semasa tinggal dan kuliah di Bandung,” kata Frans Borgias Lawalu saat kami ngobrol santai usai kuliah.

Nama Bens Leo kian akrab dengan saya setelah membaca ulasan Bens di sejumlah majalah remaja tatkala saya menjadi penjual eceran koran dan majalah di Kupang. Seni dan sastra juga kian saya minati setelah akrab dengan beberapa media lokal dan terbitan luar NTT yang juga menyertakan nama-nama penulis muda lokal NTT dari almamater kala itu. Semisal sastrawan Bunda Mezra Pellondou, Anna M Nenoliu, Emil Karmin, dan lain-lain sebelum akhirnya saya juga memepet nama-nama itu hingga berhasil mengoleksi artikel saya di dua majalah terbitan Jakarta, selain di SKM Dian, Pos Kupang, Flobamora, NUSA Tenggara, dan HIDUP.

Selain Bens Leo, nama Harry Roesli, juga tak kalah tenar. Musik adalah bahasa jiwa universal. Ia (musik) adalah perekat paling efektif dalam relasi personal antar manusia. Ia pembasuh jiwa yang kerontang.

“Musik sudah menjadi bagian hidup dan karya Mas Harry. Rasanya belum lengkap hidup dan karyanya tanpa musik,” kata dr Oetami A Roesli, SpA, dokter di RS Sint Carolus Jakarta tatkala kakak kandung musisi Alm. Harry Roesli ini merawat putri saya setelah terserang sakit awal-awal saya tinggal di Jakarta.

Namun, nama harum Bens Leo dan ziarah panjang di dunia musik tanah Air segera berakhir. Selubung duka menggelayut di langit persada. Benedictus Benny Hadi Utomo alias Bens Leo kembali ke rumah-Nya. Bens Leo dikabarkan meninggal pada Senin, 29 November 2021 pukul 08.24 WIB saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan akibat terpapar Covid-19.

Nini Sunny, yang menulis buku bersama Bens Leo melalui akun Twitternya mengabarkan Bens Leo meninggal karena Covid-19. “Mas Bens Leo, sejak Kamis Minggu ll masuk RS Fatmawati krn Covid. Isteri & anaknya juga, namun sudah membaik. Hanya Mas Bens yang jadi sangat serius. Mohon doa untuk beliau. Mohon juga tetap jalani prokes. Covid masih ada!” kata Nini melalui cuitan di akun Twitter-nya. Bens Leo tak pernah bersua langsung. Berbeda dengan Harry Roesli yang sempat saya akrabi dalam sebuah acara konferensi pers penyerahan Kehati Award di Jakarta.

Namun Bens Leo dan Harry Roesli menyegarkan ingatan saya sejak dari Kelapa Lima dan Jakarta sebelum masuk Bandung. Bandung, kota Kembang itu adalah tempat yang nyentrik bagi para pemusik dan penikmatnya berpadu. Menelusuri jalanan di sejumlah sudut kota nan sejuk seperti Leuwipanjang, Dago hingga pelataran Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan Bandung di Ciumbuleuit (Cembuluit) membawa sensasi tersendiri. Ciumbuleuit masih asri.

Paling kurang saat saya menyapanya kembali Bandung mengikuti prosesi Wisuda S-2 Pak Rikardus Daton Klobor, kerabat ibu saya, yang menyelesaikan studi pada Program Pascasarjana FT Arsitektur Univeritas Katolik Parahyangan Bandung. Dan ingatan saya terkait nama Bens Leo sejak dari Kelapa Lima, Jakarta hingga Bandung, masih kuat. Selamat jalan, om Bens Leo. Bermusiklah bersama para Malaikat dari Surga. Damailah di sisi-Nya.

 

Jakarta, 29 November 2021
Oleh: Ansel Deri
Orang udik dari kampung;
Mengenang Bens Leo

Komentar

Jangan Lewatkan