oleh

Pastor Aleksander Koker Beding SVD

-Feature-135 Dilihat

PASTOR Aleksander Koker Beding SVD ditahbiskan jadi imam di Nita, Maumere, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur 24 Oktober 1951. Dua puluh tahun setelah tahbisan baru saya lahir. Tepatnya, Rabu 22 Oktober 1969 dan di hutan pula, tak jauh dari stasi/kampung Boto, kota Kecamatan Nagawutun, Lembata.

Belakangan, Boto, kota kecamatan Nagawutun pindah ke Loang, hingga saat ini. Saat itu, bapa dan mama saya tentu masih muda. Bisa saja belum baku suka, pacaran. Mungkin Almahrum bapa saya masih pendekatan dengan calon mertua di dusun Belabaja (Boto).

Nama Alexander Koker Beding atau Pater Alex Beding SVD setelah banyak pemuda dan pemudi dari Paroki Lamalera, termasuk stasi Boto memilih menjadi pelayan Sabda: pastor, suster, bruder maupun frater tak kedengaran dari banyak guru dari Lamalera yang mengajar di Sekolah Rakyat (SR) Boto periode tahun 1950 hingga 1960-an.

Selain tentu Pastor Arnold Dupon SVD, Pastor Bruno Phel SVD maupun Pastor Yohanes Prasong Bataona SVD. Pastor terakhir ini juga baru saya ketemu pertama kali dan mengikuti Misa Syukur 25 Tahun Imamat Pastor Petrus Payong Reko SVD (Alm) di Stasi Boto tahun 2010.

Nama komplit Pastor Yohanes Prasong Bataona SVD juga sebatas tuan (sebutan pastor di kampung saya) Ani Prasong. Nama tuan Ani Prasong sedikit lebih familiar karena ayahnya, Petrus Atalema Bataona mengajar di SR Boto tahun 1950-an. Guru Atalema adalah sosok yang disiplin, tegas, dan tidak neko-neko, hal yang bisa saja terbawa dalam diri banyak anak kampung dari Boto.

Setelah itu diikuti guru-guru lain dari Lamalera seperti Daton Keraf. Atau Mama Nika Batafor, isteri Alm Prof Dr Gregorius Perawin Keraf, ahli Bahasa Indonesia dan Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Termasuk Valentinus Blida Batafor, guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris di SMP Lamaholot Boto (kini SMP Negeri 2 Nagawutun) tahun 1984-1987.

Perjumpaan jarak jauh saya dengan Pastor Alex Beding SVD terjadi tatkala melalui group WA Ata Lembata (AL) saya dan magun Dr Justin L Wejak, dari Lewokukung-Baolangu menggagas buku ‘Membangun Tanpa Sekat’ (selanjutnya MTS) dalam rangka HUT ke-21 Otonomi Lembata.

Sebagai admin AL tugas tambahan saya adalah setelah koordinasi dengan penulis hingga cetak di Penerbit Ikan Paus adalah mengirim buku kepada para penulis yang tinggal di pulau berbeda. Misalnya Lembata, Timor, Flores, Jawa hingga benua Australia, tepatnya di Melbourne, kota negara bagian Australia Utara. Setelah tiba di Larantuka, kota Kabupaten Flores Timur, MTS bergerak ke arah Flores bagian barat seperti Ruteng dan Maumere.

Maumere menjadi alamat tujuan MTS. Dua penulis hebat dan rendah hati: mantan Sekretaris Komisi Liturgi KWI Pastor Dr Bernardus Boli Ujan SVD dan Rektor Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero Pastor Dr Otto Gusti Madung SVD juga menerima MTS. Beliau berdua (tuan Nadus & tuang Otto) berkenan menulis dalam buku ini setelah saya meminta kesediaan menulis sebagai bentuk kecintaan kepada kampung halaman, tanah Lembata.

Tak pernah terbayang kalau buku karya putera-puteri Lembata di rantau juga sampe di tangan dua imam dan penulis hebat: Pastor Alex Beding SVD dan filsuf Dr Leo Kleden SVD.

“Saya serahkan buku MTS kepada Pater Alex Beding dan Pater Leo Kleden. Pater Gusti kabarnya menitip dua eksemplar di Perpustakaan Ledalero sebagai bahan bacaan mahasiswa. Kalau Pater Alex Beding saya serahkan langsung pas ulang tahun beliau ke 97 tanggal 13 Januari 2021 di Komunitas Simeon Ledalero. Saat saya serahkan, saya bilang, ‘Pater harus hidup 120 tahun’. Dengar saya omong ‘harus hidup 120 tahun’ begitu beliau tertawa,” kata Pastor Boli Udjan.

Pater Alex Beding senang dan pesan kepada para penulis pemula dari lewotana (kampung halaman, Lembata) agar jadilah pewarta kabar baik untuk orang lain. Jadilah penulis yang baik; jangan arogan atau merasa diri hebat. Biasa-biasa saja karena yang paling hebat itu hanya Tuhan. Tentu pesan ini menjadi rambu-rambu, panduan bagi kami generasi muda lebih rendah hati; tak boleh sok-sokan. Sesuatu yang kerap dilupakan banyak penulis dari udik.

Dari Pater Alex Beding SVD, sebagai orang yang lahir di udik, hal ini selalu saya pegang dan jaga. Pastor Alex Beding SVD, seperti juga sang adik, wartawan KOMPAS Marcel Beding (Alm) atau Pastor Bosko Beding SVD (Alm) dan para penulis hebat dari Lembata bagian selatan baik awam maupun klerus adalah sosok yang menginspirasi banyak kami anak-anak kampung di selatan Lembata.

Pater Alex Beding SVD adalah pendiri Surat Kabar Mingguan (SKM) DIAN maupun Majalah KUNANG-KUNANG milik SVD Ende. Pater Alex Beding adalah tokoh pers yang sangat berjasa bagi umat dan masyarakat NTT di masanya di mana media pewartaan di daerah itu masih jadi barang langka. Meloi DIAN, KUNANG-KUNANG atau TIME di tangan pastor di Paroki Santu Joseph Boto kala itu sudah sangat luar biasa.

TIME adalah majalah yang selalu dipegang Pastor Nicholas Strawn SVD, misionaris asing yang tugas di Boto kelahiran Oelwein, Amerika Serikat. Meski jaman itu nama Pastor Bosko Beding SVD sedikit lebih familiar karena pernah menjabat Pemimpin Redaksi DIAN, nama Pastor Alex Beding SVD agak samar-samar karena mungkin tengah jadi misionaris di Roma, Italia.

Minggu 24 Oktober 2021, Pater Aleksander Koker Beding SVD merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-70 Imamat. Sungguh sebuah usia pelayan Sabda tergolong langka. Berkat dan karya Tuhan atas Pater Alex Beding SVD sungguh nyata. SVD Sedunia bahkan SVD Ende dan para konfrater Pastor Alex Beding SVD tentu sangat bersyukur memiliki sosok Pater Alex Beding SVD, imam bersahaja yang berjasa memajukan pers di NTT di awal-awal perkembangan pers tanah Flobamora.

Namun siapa sangka, lewat DIAN (kini sudah almahrum) lahir banyak penulis dan wartawan hebat. Selamat Ulang Tahun Imamat ke-70, bapa tuan Alex Koker Beding SVD. Alepte soro moe berkat aja aja (Tuhan merahmatimu berkat berlimpah). Terima kasih, SVD Ende. Ngga’E berka. Malam bae.

 

Jakarta, 24 Oktober 2021
Oleh: Ansel Deri
Orang udik dari kampung;
‘WTS’ (Wartawan Tanpa Surat/Kartu Pers) semasa kuliah

Komentar