oleh

Pemabuk di Bawah Pohon Kenari Tua

-Feature-425 views

“Menyenangkan sekali rasanya duduk di bawah pohon nan rindang. Seandainya kita masih memiliki kesadaran, kau dan aku tidak perlu membuang banyak langkah untuk menikmati suguhan alam yang sejuk dan gratis ini”. Kata-kata bahagia bercampur kesal di atas memecah heningnya hutan Kenari yang tidak perawan lagi saat gelas plastik berisi laru merah lepas dari bibirnya.

Di ufuk barat mentari yang berkelana dari timur terlihat pasrah menerima sambutan ke dalam rahim malam sambil mengecet jingga punggung-punggung bukit Surga Tersembunyi, namun tidak seperti biasanya. Di sana sini masih terasa panas menyengat. Aroma debu kental tumpah ke udara, menyelinap masuk menggantikan asap rokok yang bertebaran keluar dari mulut kami.

Saya selalu senang bergaul dengan si pemabuk tua ini, sebab ia bukan pemabuk semabarang. Setiap realita depan mata selalu ia tangkap penuh kritis. Tak penting kata orang tentang apa yang selalu ia utarakan. Sebab prinsipnya hanya satu “I’ll keep my land as I keep my eyes“.

Umurnya yang kini telah memasuki setengah abad lebih, membuatnya semakin gigih untuk terus berbagi tentang pengalaman perjalanan hidupnya. Banyak dari pengalamannya tidak saya lewatkan. Semuanya menarik. Namun kali ini ada satu yang saya kira sangat menarik untuk disimak dan diperjuangkan.

Gelas plastik berisi laru merah kembali berputar, giginya pun kembali berbunyi. “Anak, berkat datang tidak selalu dalam dugaan yang kita buat. Yang diimpikan belum tentu berbuah kenyataan. Yang tidak pernah diharapkan sering kali hadir sebagai kenyataan baik. Itulah rahmat;gratia, grace, gratis. Pohon Kenari tua ini adalah rahmat. Kekayaan yang diberikan secara gratis oleh Sang Pemberi kepada kita melalui alam. Ia telah menjadi simbol pengenal bagiku selama mengarungi Nusantara sebagai perantau. Setiap perjumpaan, ketika ditanya dari mana asalku, selalu kujawab; Sa dar Alor, pulau di timur matahari, Surga Tersembunyi yang orang biasa bilang Pulau Kenari.

Di bawah Pohon Kenari tua ini, ayahku pernah berpesan “inilah kekhasan yang diwariskan dari nenek moyang kita yang meredam penilaian bibir-bibir yang matanya terlalu cepat menilai orang dari warna kulit. Perhatikan baik-baik warna kulit kenari ini! Warnanya hitam, sehitam kulitku dan kulitmu, dibalik hitam kulitnya ada lapisan yang kokoh, sekokoh perjuanganku dan perjuanganmu, dibalik kokoh lapisan ini, ada nikmat yang terjaga; putih mulus, gurih dan berminyak sedap. Itulah sejatinya kita.

Tetaplah berpegang teguh pada pesan ini. Ambil lah buah-buah kenari ini, tanamlah sebanyak mungkin untuk menjaga simbol dirimu dari kerakusan kaum perusak. Tetapi jika engkau tidak mampu menanamnya, jangan mampu untuk merusakinya. Tetaplah menjaganya dengan baik. Supaya nanti anak cucumu tidak mengisahkan apa yang tidak mereka lihat dan rasakan. Aku tidak mau suatu saat nanti generasiku merekat nama Nusa Kenari tanpa pohon kenari. Aku tidak mau suatu saat nanti di atas tanah bekas pohon-pohon kenari tumbuh kokoh mereka duduk dan menangis kehilangan jati diri. Jangan terus memperkosa keperawanan hutan ini. Sebab pemerkosaan adalah kasus paling liar yang dilakukan oleh orang yang paling liar. Terlepas apa saja yang diperkosa.

 

Riung, 14 Maret 2021
Oleh: Nius Manimau

Komentar

Jangan Lewatkan