oleh

Politik dan Kejujuran

-Feature-306 views

KEJUJURAN adalah prinsip dan jiwa politik. Maka ia menjadi urgen dan penting. Apa yang dikatakan sesuai dengan hal sesungguhnya (fakta). Tidak menutupi kebenaran dengan kebohongan. Karena, sekali berbohong, orang akan berusaha menutupinya dengan kebohongan lainnya. Pada akhirnya, lahir kebohongan demi kebohongan baru. Kebenaran pun sulit ditemukan, terselubungi kebohongan.

Sebuah pesan etik dan moral luhur yang penting diperhatikan para politisi yang berkecimpung di dunia politik. Bahwa kejujuran itu akan membawa pada kebaikan. Sementara kebohongan akan membawa kepada keburukan. Pesan ini seperti menjadi semacam antitesis bagi anggapan bahwa kebaikan bisa lahir dari suatu keburukan. Justru, keburukan melahirkan keburukan lain. Semakin banyak keburukan, semakin banyak pula keburukan lain yang bermunculan. Politik hakikatnya adalah sesuatu yang mulia, pengabdian untuk mengurus kemaslahatan banyak orang. Politik, kata Aristoteles, adalah jalan menuju kebahagiaan.

Kejujuran adalah basis politik paling asasi dan menjadi prinsip atau jiwanya. Ketika kejujuran ini ditanggalkan bahkan dicampakkan, yang tinggal adalah raga politik tanpa jiwa. Raga yang selalu menjadi penyaluran bagi hasrat-hasrat destruktif yang tak pernah berhenti bereproduksi. Hasrat-hasrat yang tak pernah mengenal kata puas ibarat “makan namun tak pernah kenyang” dan “hasrat memiliki selembah penuh emas, dan saat itu telah didapatkan, muncul lagi tanpa pernah berhenti hasrat yang sama itu”. Hanya kematian yang mengakhirinya.

* * *

Ada anekdot begini. “Apa bedanya akademisi dengan politisi?” Akademisi boleh salah tapi pantang berbohong. Jika hasil penelitian menunjukkan kejanggalan mungkin telah terjadi kesalahan prosedur dalam pengambilan dan pengolahan data. Atau kurang tajam dalam melakukan analisis dan menarik kesimpulan. Namun, data tetap data yang tidak boleh diubah sesuai selera. Karena data yang dimanipulasi akan berbahaya jika digunakan sebagai bahan rekomendasi. Itulah akademisi.

Sementara politisi boleh bohong tapi pantang salah. Bohong sepanjang tidak ketahuan dianggap sebagai bagian dari politik yang sah. Namun, kebohongan itu harus dibuat sedemikian rupa sehingga tampak benar.

Mungkin pernyataan di atas sekedar lelucon para akademisi yang miris melihat perilaku politisi kita saat ini. Tapi, harus diakui sedikit banyak memang begitulah kenyataan yang terjadi. Kemampuan dan kejujuran sesungguhnya bukanlah dua hal yang harus dikontradiksikan. Bukankah kebohongan seringkali digunakan untuk menutupi ketidakmampuan? Ironisnya banyak politisi di negeri ini yang justru yakin kalau jujur pasti kalah sehingga kalau ingin menang harus menggunakan bahasa kaumnya. Berhadapan dengan kaum pembohong harus berbohong. Berhadapan dengan kaum yang curang harus curang.

Memang tidak mudah menghadirkan kejujuran dalam politik karena politisi hari ini umumnya terlanjur memahami politik sebagai wilayah abu-abu. Wilayah yang penuh ketidakjelasan. Kebenaran sejati tidak mungkin ditemukan. Oleh karenanya politisi yang bersih dan peduli mestilah bertekad untuk melakukan perubahan.

Kejujuran dalam politik adalah peradaban baru yang mesti diwujudkan. Karena kejujuran dapat memberikan keselamatan bagi semua. Selain itu, kemenangan yang diraih dengan kejujuran akan lebih memberi ketenangan.

* * *

Politik kejujuran akan menciptakan politik harmonis. Politik kejujuran dan keadilan merupakan kunci tegaknya demokrasi dan kemajuan peradaban bangsa. Politik kejujuran kadang memang sulit dilakukan. Apalagi ketika ada tekanan dari banyak pihak yang mempunyai kepentingan politik. Sebagian politisi beranggapan politik dengan kejujuran adalah ‘sok suci’. Namun hal itu harus dilawan dengan keberanian. Di negeri ini, yang jujur justru kalah. Sehingga jika ingin menang, harus melakukan suatu tindakan ketidakjujuran.

Ketika politik kejujuran diterapkan, itu menjadi hal yang langka. Padahal kejujuran para politisi bukan hanya keutamaan dasar yang harus kita tuntut, melainkan merupakan dasar kepribadian yang integral dan bertanggung jawab.

Ketika kejujuran ditinggalkan bahkan dicampakkan, yang tinggal hanyalah raga politik tanpa jiwa. Tidak akan berarti apa-apa. Tanpa kejujuran, agama tidak lengkap, akhlak tidak sempurna, dan manusia kehilangan keadaban.

* * *

Ongkos ketidakjujuran politik itu mahal. Bahkan jauh lebih mahal dari biaya Pilkada. Jadi, supaya tidak terkutuk oleh ketidakjujuran, berlakulah jujur bahkan sejak awal mulai berproses di politik.

 

Oleh: Isidorus Lilijawa

Komentar

Jangan Lewatkan