oleh

See the Big Picture 

-Feature-592 views

Ini musim mangga jadi biar beta mulai dari mangga sa. Orang yang tanam dan piara mangga akan menghargai buah mangga. Orang yang kerjanya tukang pencuri mangga hanya mau enaknya. Lempar mangga, kasi patah takis dan ranting. Makan abis buang kulit. Kencing di bawah pohon lai.

Bisnis olahraga ju begitu. Yang benar-benar membina atlet, mengerti strategi pembinaan olahraga akan sangat menghargai atlet. Tapi yang mau enak saja biasanya nampang kalau atlet menang, tapi sehabis itu mengabaikan -kalau tidak mau dikatakan mencampakkan.

Ada banyak orang kecil di pelosok negeri yang mengabdikan diri untuk cabang olahraga tertentu karena minat dan kecintaan mereka pada cabang itu. Tak sedikitpun mereka dapat perhatian. Mereka merogoh kocek mereka sendiri demi olahraga yang mereka cintai itu. Mereka mengorbankan hidup mereka untuk membina orang-orang muda potensial. Orang-orang muda yang mungkin tak berpengharapan sebelumnya mereka asah menjadi permata berkilau. Nama-nama seperti Defry Palulu, Jansen Worahebi, muncul dari tangan-tangan dingin seperti itu.

Orang-orang yang mengabdi ini dianggap tak laku hanya lantaran mereka tidak suka pake baju seragam berlogo dan topi baseball mirip para petinggi olahraga. Ada pelatih tinju di Waingapu yang mengantarkan banyak petinju laki-laki dan perempuan ke ajang nasional. Tidak ada yang perhatikan.

Hanya uang tiket ke ajang kejuaraan saja kadang harus bengkok leher dengan orang pinjam sana sini. Uang makan di tempat kompetisi dihemat-hemat, tidur bertumpuk antara pelatih dan atlet dalam satu ruangan demi membawa harum nama negeri. Ada yang jualan ini itu supaya bisa ikut kejurda, kejurnas.

Ada yang jadi tukang tambal ban untuk bisa tetap melatih atlet-atlet muda potensil angkat besi. Mereka berhasil menciptakan banyak juara. Kadang mereka gagal juara bukan karena tidak siap bertanding tapi karena tidak punya ongkos tiket. Sakit dan sedih mendengarnya.

Sementara ada cabang olahraga yang mendapat segala fasilitas tapi tak pernah membawa pulang satu medali pun. Tapi kalau yang miskin perhatian itu juara, geger satu dunia dan pejabat paling duluan berfoto bersama.

Jadi biarlah kejadian nona Susanti Ndapataka, nyong Raju Sena Seran jadi pelajaran yang sangat berharga. Itupun kalau mau belajar. Jangan cuma lihat mangga masak saja baru air liur meleleh, tapi cari mangga, beli mangga, tanam mangga supaya kebanggaan ada isinya.

Kita yang ikut-ikut marah ju (juga) pikir. Marah boleh. Tapi cek baik-baik dulu supaya marah ada isi. Cepat-cepat berkata biasanya malu sendiri. Dan missleading media ini bukan baru sekali. Berkali-kali. Tapi kita memang lebih percaya yang sensasional. Kalau yang tak beres ngurus dan suka nampang, yang sudahlah. Memang sudah kebiasaan, sudah sifat.

Lebih baik mari kita lihat big picture daripada footage media yang sepotong-sepotong. Kalau footage yang tak utuh bisa diplintir ke mana saja. Apalagi kalau sudah tidak suka, pasti akan dibesar-besarkan. Tanpa sadar kita juga suka melihat small picture: seperti apakah atlet dijemput atau tidak, kalau atlet menang kita berharap diangkat jadi ASN, dapat KPR atau tidak, naik haji atau tidak dst. Itu semua wajar, namun hanyalah small pictures.

Big picture-nya adalah perhatian dan pembinaan olahraga memang buruk, teramat buruk. Sehingga tidak heran prestasi buruk. Alokasi dana nol kaboak. Fund raising cuma harap pejabat dan orang kaya. Pemilihan pengurus jadi politik. Boro-boro mau pikir tentang strategi dan pembinaan, boro-boro mau talent hunting. Boro-boro mau sports surveilance. Jauh om, tante. Jangan heran pembajakan atlet marak. Karena orang tahu kita kaya potensi tapi miskin fasilitas, miskin perhatian, miskin strategi dan lebih parah miskin kemauan baik.

Kalau soal potensi, kita kurang apa? Jangan pikir NTT cuma jago di olahraga yang terkesan keras seperti tinju, muaythay, kempo dst. Dalam olahraga yang bukan tradisi kita s cricket saja kita juara. Altit-atlit kita diajari mulai dari nol dlm cabang yg bergengsi di negara-negara Commonwealth itu dan kemudian menjuarai beberapa event nasional. Coba bayangkan atlet-atlet kita dilatih rugby. Saya yakin “putus kayu batu” itu.

Maka dari itu, kurangilah politicking dalam olahraga. Janganlah tiap kali saat ada event baru kita ribut. Orang-orang yang masuk ke induk organisasi olahraga harus benar-benar memahami sports management. Apalagi yang ada di national olympic body alias KONI. Janganlah jadi tempat menumpuk pejabat, melainkan harus profesional yang mengerti sports bussiness dan konstelasi sports nasional maupun dunia.

Persoalan sports kita bukan sekedar persoalan single layer seperti gizi atau bakat. Sukses tak suksesnya olahraga dipengaruhi oleh aspek multi layer. Selain itu, yang bisa me-manage olahraga bukan cuma mantan olahragawan saja. Itu masalah managemen, bukan masalah keahlian di arena.

Kita butuh manager, kita butuh wartawan, kita butuh pelatih, kita butuh sales, kita butuh fund raiser, kita butuh motivator dst dalam olahraga. Yang tidak kita butuhkan adalah tukang nampang, tukang bohong (mengaku mengerti olahraga padahal tidak mengerti) apalagi tukang pancuri mangga alias yang mau dapat enaknya saja dari keberhasilan atlet. Bilang mau go internasional tapi omong Inggris saja belepotan. Ehh !

Mari kita jadikan ajang PON kali ini sebagai ajang evaluasi menyeluruh dan kolektif terhadap pembinaan olahraga kita. Kasus Seran dan kasus Ndapataka yang keduanya memicu kemarahan publik, adalah bukti publik mempunyai keprihatinan dan mau yang terbaik.

Maka politisi dan pengambil kebijakanpun mulai pikir-pikirlah, untuk tidak saja berebut posisi di induk-induk olahraga dan KONI tetapi berpikir untuk bagaimana investasi bidang olahraga harus dilakukan secara sadar dan serius. Kalau bisa alokasi APBD untuk olahraga. Atau melibatkan sektor bisnis secara serius. Jangan sampai terjadi uang tiket saja atlet harus berhutang.

 

Oleh: Matheos Viktor Messakh / Mantan Editor Olahraga Harian The Jakarta Post

Komentar

Jangan Lewatkan