oleh

Usai Perjalanan Jurnalistik di NTT

-Feature-474 views

NOMOR baru muncul. Nama si penelpon nihil. Tak seperti biasa saya terima. Kalau mengirim pesan singkat (short message service) lebih dulu lalu kenalkan diri, saya akan menelpon balik. Tapi kali ini, saya menerima nomor baru. Bencana yang banjir dan longsor di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur dan Pulau Lembata pada Ahad, 4 April lalu, justru memaksa saya menerima si penelpon. Kerap ada yang menelpon sekadar meminta posko pengungsi muara bantuan para dermawan. “Bisa dikasi nomor pihak yang tepat di lokasi banjir. Ada dermawan yang mau bantu,” kata Pastor Joaquim Lamu SVD dari Afrika Selatan suatu pagi usai banjir dan longsor menghantam Adonara dan Lembata, dua pulau kecil di ujung timur Flores.

Tapi kali ini, si penelpon tanpa nama ialah sahabat Frans Pati Herin, wartawan Kompas biro Ambon, Maluku. Frans menginformasikan ia ditugaskan atasannya masuk NTT via bandara Frans Seda Maumere setelah pesawat transit di bandara Sultan Hassanudin Makasar lalu bergeser di dua titik lokasi bencana: Adonara dan Lembata ikut mem-back-up liputan bencana banjir dan badai yang melumatkan Adonara, Lembata, dan sebagian besar wilayah di Pulau Timor. “Bung, mohon diangkat telepon. Sangat penting. Apakah bung bisa ke NTT untuk membantu liputan di sana. Saya siap kalau ditugaskan. Itu jawaban saya ke atasan di Kompas. Ya, kapanpun sebagai anak buah, harus siap jika diberi tugas dan tanggungjawab pimpinan,” kata Frans saat kami ngobrol di kedai kopi Bentara Budaya, tak jauh dari kantor Redaksi Harian Kompas.

Frans Pati Herin dan saya sesungguhnya tak pernah bersua langsung sebelumnya. Setahu saya beliau lulusan Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. Ia sarjana Matematika. Siapa sosok dan kisah Frans hingga bergabung ke Kompas, harian paling jumbo di Indonesia, saya tak pernah tahu. Kisah awalnya berjuang dari Adonara ke Kupang via dermaga Waijarang, Flores Timur mengikuti seleksi menjadi wartawan hingga lolos selemai pernah saya baca di Kompas. Ia rela loncat dari perut perahu motor rute Adonara Waijarang lalu bergegas ke Kupang dengan feri sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta dengan pesawat. “Beberapa hari sebelumnya saya fokus siapkan diri membaca berbagai sumber tentang Kompas agar bisa lolos seleksi. Ini kesempatan langka. Kalau diterima Kompas, tentu sebuah kebanggaan. Puji Tuhan. Saya salah seorang calon yang diterima,” kisah Frans.

Ojek ke Ile Ape

Di sela-sela meliput situasi korban longsor dan pengungsi di Adonara, Frans bergeser ke Lembata. Publik tahu, Lembata juga dilanda banjir dan longsor disertai bebatuan berukuran raksasa. Sejumlah desa di wilayah utara Lembata seperti Kecamatan Ile Ape, Ile Ape Timur dan bagian timur seperti Omesuri porak poranda dihantam banjir dan badai dini hari seperti Adonara pada Minggu (4/4) tatkala warga masih lelap. “Saya bisa diberi nomor kontak person kaka. Saya tiba siang di dermaga Lewoleba. Kalau boleh saya dijemput pake ojek saja. Saya sekalian minta kalau boleh kami ojek bareng ke Ile Ape. Saya sehari saja di Lembata dan segera balik ke Adonara untuk mengirim laporan ke kantor,” katanya.

Saya segera menghubungi Gabriel Raring, rekan anggota DPRD Lembata. Gabriel, anggota Fraksi PDI Perjuangan ini hemat saya orang yang tepat menemani Frans. Ia punya mobilitas tinggi, menyasar lokasi banjir dan longsor sejak Minggu 4 April. Gabriel menawarkan akan segera menjemput Frans di dermaga dengan mobil. Namun, saya sampaikan bahwa rekan wartawan ini lebih enjoy menggunakan ojek menuju Ile Ape dari Lewoleba, kota Kabupaten Lembata. Mungkin pas juga agar beliau juga punya pengalaman visual melihat Lembata, terutama kondisi warga dan sebagian kampung yang masih terbenam dalam tanah. “Kawan wartawan Kompas ini sudah lincah urusan medan dan tantangan. Beliau sudah lulus meloncat dari atas perahu motor ke perut feri di Waijarang. Bisa dibantu kelancaran perjalanan beliau ke Ile Ape agar pembaca Kompas tahu juga informasi bencana lewat korannya,” kata saya kepada Gabriel.

Sambil menikmati kopi, ia menceritakan perjalanan jurnalistik di Nusa Tenggara Timur. Beberapa kali, laporan jurnalistik dimuat sebagai berita utama (headline) Kompas. Dari Lembata, ia menyampaikan menulis feature “Bencana di Atas Bencana”. Saya terdiam sejenak. Bencana di atas bencana? Saya baru sadar. Pada Minggu pagi, 29 November 2020, Ile Ape dan Ile Ape Timur dilanda erupsi Ile Lewotolok. Letusan asap disertai belerang tak hanya menyasar dua kecamatan di kaki gunung api itu. Sejumlah kecamatan sekitar seperti Omesuri, Buyasuri, Lebatukan, Nubatukan, Atadei, Nagawutun hingga Wulandoni terkena debu vulkanik Ile Lewotolok. “Usai tugas, saya masih punya waktu. Saya diberi kesempatan menuju Malaka. Bertemu maitua dan ana bua di Malaka,” katanya.

Tak sampai sejam

Saya tak pernah menduga sahabat ini akan segera kembali Ambon. Setelah melapor diri di kantornya, Gedung Kompas di seberang kompleks DPR/MPR RI, ia diminta membantu peliputan selama masa puasa Ramadhan 2021. Saya berpikir mungkin ini saat tepat bersua langsung. Berbagi cerita dari tempat tugas masing-masing.

“Kalau kaka ada waktu, bisa bergeser ke Bentara Budaya. Mungkin saat jam istirahat kita ketemu. Sambil nikmati teh atau kopi sebelum saya lanjut tugas,” katanya. Kemarin saya ke kompleks DPR RI Senayan. Saya pikir saat tepat bisa ngopi bareng. Saya menelpon beliau. “Saya tunggu kaka kalau urusan sudah beres. Jam tiga saya dinas lagi. Kita masih punya waktu sejam,” katanya dari balik telepon.

Dari seberang gedung Kompas, saya melewati jembatan stasiun Palmerah. Saya meminta tukang ojek mengantar saya ke Bentara Budaya. Tak lama, ia menelpon. Saya sudah di tkp. Saya jawab, saya juga sudah di tkp. Wartawan kampung langsung mengangkat tangan. Selendang khas Adonara, ia belitkan di leher.

“Saya suka catatan kaka di Facebook. Renyah,” ujar Frans. Kami ketawa sejenak. “Saya malah lebih suka feature selain berita ama di Kompas. Berkelas,” ujar saya menimpali. “Saya teh. Kaka kopi?,” kata Frans saat kami dua menghadap warung. “Teh ngga ada, om. Kopi aja,” ujar penjaga warung. Jadilah kopi dua gelas kami seruput. “Saya beli dua eksemplar bawa ke Ambon,” kata Frans setelah ia bolak balik sejenak Jejak dari Rantau, buku karya saya yang baru terbit pada Minggu 2 Mei lalu.

“Kaka ake bekel (jangan marah). Jam tiga lanjut tugas,” ujarnya. Ia nyeberang ke kantor. Lalu grab car yang saya pesan menerobos jalanan yang tengah dilanda gerimis. Terima kasih, ama Frans. Kita semua mengabdi ribu ratu (masyarakat dalam terminologi etnis Lamaholot di Flores Timur dan Lembata), menapaki jejak kita masing-masing. Jejak dari rantau.

 

Jakarta, 7 Mei 2021
Oleh: Ansel Deri
Penulis Buku Jejak dari Rantau

Komentar

Jangan Lewatkan