oleh

Ziarah Guru Berakhir di Kota Karang

-Feature-721 views

PENDIDIKAN adalah investasi strategis bagi ibu Regina Perada Teron dan Wilhelmus Pati Klobor. Pasutri guru ini memahami bahwa pendidikan adalah lorong terang bagi peradaban umat manusia. Semangat inilah yang melatari guru SMP PGRI Lewoleba, Nubatukan, Lembata asal Sandosi, Adonara Timur, Flores Timur dan suaminya, Wilhelmus Pati Klobor mendorong anak-anak dan ponakannya rela menjauh dari orangtua demi melanjutkan studi hingga perguruan tinggi.

“Tanaman niaga warisan orangtua di Desa Belabaja banyak. Kalau sekadar dirawat untuk hidup sangat mencukupi. Tapi kami berpikir ilmu pengetahuan dan teknologi adalah investasi strategis. Anak-anak dan ponakan selalu kami dorong agar keluar jauh mencari ilmu dan pengalaman. Berat tapi harus ada pilihan. Si sulung kami, saya dan Pak guru sudah sepakat agar dia melanjutkan kuliah di Jakarta agar ada pengalaman baru,” ujar ibu Regina Perada Teron saat wisuda anak sulungnya, Ignasius Maksimilian Klobor, lulusan Fakultas Teknik Lingkungan Universitas Trisakti di Planery Hall Jakarta Conventional Centre, Jalan Gatot Subroto, Jakarta pada 18 Mei 2019.

Pilihan Pulau Jawa bukan tanpa alasan. Selain banyak kemudahan selama kuliah, anak-anak dan ponakannya bisa belajar mandiri. Tiga dari lima ponakannya, anak-anak guru Andreas Bera Klobor, kakak iparnya, sudah memilih studi di Jawa. Dua melanjutkan kuliah di Jakarta dan seorang lagi menuju Jogjakarta. Pius Klobor, putera kedua Pak Andreas merampungkan studi pada Sekolah Tinggi dan Teknologi Indonesia (STTI) Jakarta. Baik ibu Gin dan suaminya juga percaya, ponakan dan anak-anak mereka adalah pribadi yang mandiri dan bertanggungjawab.

“Kalau mereka kuliah di luar, itu jadi alasan kami bisa jalan-jalan kalau pas lagi libur sekolah. Apalagi ade juga sudah di Jakarta. Cerita ade bonsu Rikar tentang perjuangan ade di Jakarta mendorong kami agar si sulung Maksi bisa masuk di Fakultas Kedokteran atau Teknologi Pertambangan Universitas Trisakti. Kampus itu unggul dari lulusannya. Dua fakultas itu menjadi pilihan si sulung,” kata ibu Gin kepada saya via telepon sebelum si sulung terbang dari bandara El Tari Kupang menuju bandara Soekarno Hatta. Rikar tak lain adalah adik ipar, dosen Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.

Bikin ngakak

Seleksi masuk Trisakti berjalan lancar. Putera sulungnya, diterima pada Fakultas Teknik Lingkungan Universitas Trisakti. Menjadi wali mahasiswa bukan hal baru bagi saya. Kala itu, ponakannya, Pius Klobor, tengah nyambi sebagai reporter sebuah media di Jakarta. Saya mendapat mandat dari “opu lake” Pius Klobor menghadiri pertemuan para mahasiswa baru dengan pihak rektorat dan pimpinan fakultas. Para mahasiswa baru didamping orangtua atau wali bertemu untuk mendengar aturan dan ketentuan bagi mahasiswa selama menempuh kuliah di kampus bersejarah selama rezim Soeharto berkuasa.

“Para mahasiswa berprestasi kalau boleh tak hanya berpatok pada indeks prestasi kumulatif. Mohon Pak Rektor dan pimpinan fakultas juga mempertimbangkan juga soal disiplin. Kampung kami, Lembata, pulau yang sangat jauh dari Jakarta. Saya pikir bapa rektor dan bapa-bapa Dekan belum pernah ke pulau kami. Pulau itu tempat bulan madu paus, mamalia laut paling manis dan seksi. Dalam ruang ini mungkin kami paling manis dilihat dari tampang kami,” kata saya. Ruangan riuh. Orangtua dan mahasiswa baru juga ngakak. Maksi, anak ibu Gin juga ngakak. “Kaka bekin kami ketawa,” kata Maksi.

Pertemuan di kampus Universitas Trisakti itu bukan pertama kali. Beberapa tahun sebelumnya, saya mendapat “mandat” informal dari Rikardus Daton Klobor meminta kalau berkenan saya menghubungi Rektor Prof Dr Thoby Mutis (kala itu) agar rombongan mahasiswa Unwira Kupang peserta studi banding di Jakarta bisa mampir di Universitas Trisakti. Melalui komunikasi dengan staf Rektor Thoby Mutis, mahasiswa bertemu di aula rektorat. “Terima kasih bantuannya. Pak Rektor Trisakti berkenan menerima mahasiswa saya. Mereka dikasi juga handuk setiap mahasiswa. Engko juga dapat handuk kah?,” tanya Pak Rikardus. “Saya sudah bekas mahasiswa jadi lolos tak diberi handuk. Pemberian itu khusus mahasiswa Unwira yang masih aktif,” kata saya kepada Pak Rikardus, lulusan Program Pascasarjana Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan Bandung. Guru Rikar ketawa dari balik telepon.

Berkah

Perjuangan ibu Gin dan suaminya beroleh berkah. Putra sulungnya berhasil merampungkan studi pada Fakultas Teknik Universitas Trisakti. Bersama sang suami, pasutri guru ini terbang dari bandara Wunopito, Lewoleba ke Jakarta via Bandara El Tari Kupang. Pada 18 Mei 2019, Maksi, sang putera mengikuti wisuda di Planery Hall Jakarta Convention Centre. Ibu Gin dan suami menghadiri acara wisuda. Ibu Gin juga mengajak dua kakak kandungnya di Kupang hadir di Jakarta Convention Centre. “Saya ajak juga si bungsu, Eras. Namun, dia tak tertarik menghadiri wisuda kakaknya. Katanya ‘bapa dan mama saja’. Makanya saya dan Pak guru sendiri hadir. Padahal, ingin sekali si bungsu juga ada. Tapi mungkin beliau memilih tinggal di Lewoleba,” katanya. Eras kini tercatat sebagai mahasiswa FKIP Unwira Kupang.

Satu hal yang saya kagumi dari pasutri Ibu Gin dan Pak Wilem adalah komitmen dalam dunia pendidikan. Sejak keduanya mengabdi sebagai guru di SMP Negeri Wairiang, Kecamatan Buyasuri, Lembata, mereka selalu memotivasi anak-anak muridnya agar belajar rajin untuk memiliki ilmu pengetahuan. Berserah dalam doa, rendah hati, jujur, kerja keras, dan sabar adalah nilai yang harus merasuk dalam jiwa. Tak ayal, banyak anak muridnya eksis setelah kuliah dan mengabdi bagi bangsa dan negara. Seorang pria tinggi dan berbadan tegak hadir saat Pius Klobor, ponakannya menikah di Gereja Paroki St Agustinus Halim Perdanakusuma Jakarta.

“Ade kenal dulu. Ini ade Laurens Ara Kian, murid saya dan Pak Wilem di SMP Negeri Balauring. Beliau bertugas sebagai anggota Paspampres,” kata ibu Gin saat kami ngobrol bareng Petrus Bala Pattyona dan kaka Magdalena Pattyona, saksi nikah Pius dan Patrisia Novianti.

Sore ini saat saya dan Pius tengah ngobrol, kabar duka kami terima dari Monce, adik perempuan semata wayang Pius. “Mama tengah meninggal, kaka. Lepas napas jam 15.20 WITA,” kata Pius dengan mata sembab.

Ziarah sang guru di dunia berakhir di rumah sang adik, Rikar Klobor. Terima kasih, ema tengah. Terima kasih untuk perhatian dan teladanmu. Ina, ama, kaka, arin di Belabaja dan Sandosi tentu merasa kehilangan seorang sosok rendah hati dan pekerja. Ema tengah mewariskan banyak hal, terutama tentang masa depan yang perlu digapai lewat jalur pendidikan. Selamat jalan, ema. Bahagia di Surga.

 

Jakarta, 15 Mei 2021
Oleh: Ansel Deri

Mengenang ibu Regina Teron

Komentar

Jangan Lewatkan