oleh

Jejak Hidup Mantan Napi (2/Habis)

-Feature-31 Dilihat

Lelaki Nomaden di Dunia Modern

13 tahun pasca bebas dari Lapas, lelaki itu hidup nomaden. Berpindah-pindah rumah. Potret hidup aneh di dunia modern.

Bangunan kecil ini sebenarnya tidak layak disebut rumah. Letaknya di Jalan Pahlawan, RT 01/ RW 01 Kelurahan Kota Raja. Sekitar 5 meter di belakang Toko Buku PT Pabelan. Ukuran rumah itu terlalu sempit. Hanya 2×1,5 meter. Empat lembar seng karat menudunginya. Pintu dan dindingnya dari belahan bambu Tak ada jendela. Beberapa lubang dinding ditambal dengan potongan seng bekas sana-sini. Dua susun batu merah yang direkatkan semen jadi alasnya.

Pada ujung tiang yang menjulur keluar, 3 potong celana panjang kumal tergantung. Sementara di dalam ruangan, sebuah tempat tidur dilapisi seng melintang dialasi 4 batu di setiap sudutnya. Tiada kasur. Piring, gelas, kompor, dan kuali tergelatak di atas lantai.

Di rumah kecil itulah, Om Mikael Pajung, mantan narapidana asal Blatat kecamatan Kewapante, kabupaten Sikka-Flores, melewati hidupnya. Tujuh tahun sudah ia tinggal di situ. Setelah berpindah-pindah dari rumah ke rumah milik orang yang ikhlas memberinya tumpangan.

“Ini bekas kios Om Dato Puarera, pemilik rumah ini. Waktu rumah besar Om Dato disewa oleh anak-anak sekolah orang Bonarate tahun 2000, mereka suruh saya bantu sekat dinding pake bambu. Bambu sisanya saya pake untuk sekat rumah ini. Om Dato suruh saya tinggal di sini, sampai sekarang,” ujar Om Mikel.

Om Mikel bilang, seluruh perabot rumah itu diberi oleh Pak Arif, polisi asal Jawa yang dikenalnya 2003 lalu. Om Mikel sering mencabut rumput di halaman rumah polisi itu sekadar mendapat makan siang, uang rokok, atau sekilo beras. Pak Arif telah pindah.

“Kalau tempat tidur, sebenarnya untuk pintu. Saya minta di Baba Toko Sinar Mas, waktu saya bantu mereka di sana. Karena terlalu panjang, saya jadikan tempat tidur. Dulu saya tidur pake bambu,” ujarnya.

Lelaki yang dikenal pendiam ini telah bertekad bulat menghabiskan sisa hidupnya di Kota Ende. Setelah 2 bulan kembali ke kampungnya usai bebas di Lapas Penfui, 4 Oktober 1994 ia hijrah ke Ende. Tanpa tahu, kemana ia berteduh dan sambung hidup.

“Hari itu, waktu saya sampai di Wolowona, saya ketemu Nus Wawo anaknya Om Polus Wawo. Kami pernah sama-sama di Lapas, ia tabrak orang. Nus juga sudah bebas waktu itu. Dia bawa oto Citra. Dia ajak saya ke rumahnya di belakang Pasar Ikan Potulando. Bapanya menyuruh saya tinggal terus di situ,” kisah Om Mikel.

Selama 11 bulan, Om Mikel tinggal bersama keluarga Om Polus. Tempat tinggal dan makan minum gratis. Berkat lobi Om Polus, ia dipekerjakan sebagai buruh bangunan di Biara St Yosef Ende. Membangun rumah karyawan di bawah koordinasi Bruder Mikel Sepe, SVD (alm.). Gajinya lumayan. Rp5 ribu sehari. Membuatnya bisa mengunjungi keluarganya di Blatat.

Bujang tua berusia 53 tahun ini kemudian pindah tumpangan di rumah Om Mateus Dede, belakang Dolog, Puunaka, September 1995.

“Di rumah Om Teus 1 tahun lebih. Tidak bayar. Tapi saya masak sendiri. Kalau saya kesulitan, saya utang beras dan sarimi di kios mereka.”

Tahun 1996, Om Mikel pindah lagi. Kali ini ia ke Jalan Nuamuri. Tepatnya di rumah Om Alex. Tapi bukan gratis. Per bulan dibayar Rp2500. Om Mikel bilang, ia tak keberatan waktu itu. Ia merasa mampu. Tawaran kerja dari beberapa proyek yang diterimanya jadi andalan hidup, di antaranya CV Flora Karya dan CV Telaga Karya.

Di CV Flora Karya, ia ikut proyek pengaspalan jalan di Pokangesu dengan gaji Rp5 ribu per hari. Di masa inilah, ketika Om Mikel mulai menemukan kekuatan hidupnya, sebuah pengalaman pahit menimpanya. la sakit mendadak padahal baru seminggu ikut kerja.

“Saya minta kepala proyek Pak Wahid biar saya masak saja. Pada hari ke delapan aya tak bisa bangun tak bisa angkat air di kali untuk masak. Kawan-kawan angkat saya ke oto, lalu pak Wahid mengantar saya ke rumah sakit Ende. Saya opname lima hari di situ,” tuturnya.

Gaji Om Mikel tidak cukup untuk membayar rumah sakit. Ia akhirnya menyuruh temannya menelpon Scolas, ponakannya di Maumere. Scolas adalah anak dari saudari Om Mikel, Maria Emen Firda.

“Puji Tuhan, Scolas datang ke Ende bayar rumah sakit dan jemput saya. Saya tinggal dengan Scolas dan suaminya di Wairhubing 5 bulan. Saya pikir, saya lumpuh terus, sampai satu manteri dari Ohe suntik saya baru saya bisa bangun,” kisah Om Mikel.

Ende kota sejarah di Flores. Kota pelajar. Barangkali Om Mikel tidak tahu soal itu. Yang ada di kepala lelaki itu, kota ini tetap menjadi pilihan ziarah hidupnya paling akhir. Maka selepas sembuh, tengahan 1997, ia kembali ke Ende. Kembali mengulangi gaya hidupnya seperti dulu: nomaden. Berpindah-pindah dari rumah orang yang satu ke rumah yang lain.

“Tergantung kemurahan hati orang,” katanya.

Sepulangnya dari Maumere, mula-mula Om Mikel mengaku tinggal di rumah Om Mochsen Pualapu di Jalan Pahlawan. Ia kenal keluarga ini waktu kerja bangunan bersama Irwan, anaknya di CV Telaga Karya. Tapi di situ tidak lama. Hanya 1 tahun. Ia mulai berpindah-pindah rumah milik orang yang dikenalnya di Jalan Pahlawan.

Awalnya ia tinggal di rumah Om Jamal, pegawai LLAJ yang juga dikenalnya di CV Telaga Karya. Berikut, rumah Om Iros, samping Toko Buku PT Pabelan, di sisi jalan setapak yang setiap hari disusurinya menuju kediamannya sekarang. Dua tahun (1998-2000) dia tinggal dan makan minum gratis di situ sambil cari kerja, sampai ia bertemu dengan Om Dato, yang kini memberinya rumah kecil itu.

“Tapi Om Iros tetap baik hati dengan saya sampai sekarang. Kalau saya tidak ada kerja, dia panggil saya cabut rumput atau bersih-bersih rumahnya. Dia kadang kasi uang sampai Rp60 ribu. Kadang panggil makan atau beri beras,” katanya.

Om Mikel bilang, selama 7 tahun dibina di Lapas, ada banyak hal dibawanya sebagai bekal hidup. Terutama keterampilannya jadi tukang.

“Waktu di Lapas Ende, kami dapat kursus dari BLK (Balai Latihan Kerja dinas Nakertrans Ende, Red.). Mereka ajar kami cara buat kursi, meja, lemari, juga bangunan. Makanya saya banyak ikut proyek,” ungkapnya

Hidup membujang tanpa istri anak bagi Om Mikel ternyata bukan perkara mudah. Gaji yang diterimanya selama ikut proyek, kebanyakan dipakai untuk biaya pulang kampung sesekali, termasuk ole-ole untuk keluarga. Sementara proyek yang hanya musiman membuat Om Mikel kalang kabut mencari pekerjaan.

Demi mengisi perutnya dan mengepulkan asap rokok di mulutnya, ia terima kerja-kerja sederhana. Cabut rumput, cuci sepeda motor, atau sapu halaman di rumah orang-orang yang dikenalnya di Jalan Pahlawan, Kota Ende. Sesekali dipanggil Baba dan Aci untuk bongkar barang muatan.

Akibat kerjanya yang tidak tetap ditambah dengan kebiasaan merokoknya yang tak bisa dibendung lagi, Om Mikel sampai berutang di kios dan warung.

“Di Rumah Makan Tiana, utang nasi Rp30 ribu belum bayar, dari tahun lalu. Saya mau bon sudah tidak bisa lagi. Di kios Ibu Elsa, Mama Ryan, dan Om Dan di Jalan Banteng juga saya ada utang rokok, sarimi, dan minyak tanah. Terima gaji bulan ini baru saya bayar. Saya ada ikut kerja rumah di Jl. Wirajaya, 1 hari Rp17.500, sudah 6 hari saya kerja,” katanya.

Orang-orang yang mengenal secara dekat Om Mikel punya aneka ungkapan perasaan.

“Dulu saya takut dengan dia, tapi setelah dia datang kerja beberapa kali di rumah, ternyata dia sangat ramah. Kerjanya rajin sekali, tidak banyak omong,” aku Mama Ryan, pemilik kios di ujung Jln Banteng, tempat Om Mikel biasa bon rokok.

Pengakuan yang sama datang dari Maria Olivia (26), istri Tomy Diaz yang kini menyewa rumah besar Om Dato di samping gubuknya Om Mikel. Tiga tahun sudah mereka hidup bertetangga. Tidak ada perkara. Tak ada selisih pendapat. Apalagi rasa takut pada Om Mikel.

“Dia sangat sayang pada Rio (anak Maria, Red.). Rio sering masuk kamarnya, makan sama-sama. Rio tidak takut,” katanya.

Maria kagum. Om Mikel paling malu menerima barang pemberian orang tanpa kerja.

“Saya pernah beri dia beras, tapi dia tolak. Dia bilang, dia bisa cari sendiri. Kalau dia terima pakaian dari orang, dia takut, dia bilang sepertinya ada orang ikut dia lewat pakaian itu,” katanya.

Delapan tahun sudah lelaki bernama Mikel Pajung itu tinggal di gubuk kecilnya. Tanpa anak istri. Tanpa sanak keluarga. Entah berapa tahun lagi ia akan bertahan tinggal di situ. Entahkah ia kembali berpindah-pindah lagi. Entah.

“Tergantung kemurahan hati orang.” Kata-kata Om Mikel tetap terngiang di telinga saya ketika kami berpisah di RM Makan Tiana, Sabtu, 11 Februari 2007 Pkl. 23.00 WITA. (Oleh: Gusty Masan Raya, Diterbitkan di Harian Umum Flores Pos, Selasa, 20 Februari 2007)

Komentar

Jangan Lewatkan