oleh

Jokowi, Kelapa Lima dan Penfui

-Feature-71 Dilihat

PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) kembali mengunjungi Nusa Tenggara Timur. Dari Bandara Internasional Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Rabu (22/3/2022) malam, pesawat Kepresidenan terbang di atas daratan Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat lalu burung besi bagus dan mewah itu menyentuh bibir landasan Bandara Internasional El Tari, Penfui, Kupang tengah malam. Penfui dan Liliba, tak jauh dari Bandara El Tari, adalah salah satu “habitat” saya selama melarat (merantau) di kota Kupang melanjutkan studi di Universitas Nusa Cendana Kupang sejak 1990.

Penfui dan Liliba pernah saya akrabi awal 1991 sebagai buruh tukang pukul batu sekadar menjaga “stabilitas” asap dapur di kos di Oebobo, tak jauh dari bundaran El Tari, depan kantor Gubernur NTT. Di Penfui saya berbaur dengan buruh kasar lainnya dari daratan Timor yang tinggal sekitar Naimata, Gereja Santu Joseph atau Baumata sekadar berburu recehan demi menjaga tubuh agar tak terserang gizi buruk. Berada di tengah padang luas mulai dari sebelah timur jembatan Liliba hingga merapat ke jalan utama arah bandara, saya menyatu dengan sapi dan kerbau berbadan gempal yang terpaut jauh dengan badan saya yang (kata teman) rusak gizinya. Di Penfui atau Liliba saya dan seorang rekan sesama mahasiswa dari kampung juga diam-diam memasang jerat untuk menangkap burung puyuh. Ketrampilan dadakan ini saya eksplore setelah melihat banyak puyuh lalu lalang seperti ternak warga.

Kehadiran Jokowi, bekas Walikota Surakarta itu di NTT dalam lawatan berintensitas tinggi membangkitkan memori masa lalu saya mengakrabi Kupang, kota karang sejak bertaruh waktu dan tenaga tiga hari tiga malam dikawal beras merah, ubi kayu, keladi, ikan kering di karung dalam lambung kapal barang melewati perairan Waibalun, ujung timur Flores menuju dermafa fery Bolok, Kupang Barat. Setiba di Penfui, Jokowi bergerak ke Kelapa Lima di bibir Pantai Kelapa Lima, Kupang. Di Kelapa Lima saya pernah “kuliah” di Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisata (BPLP) Jasa Bhakti, milik Pendeta Sam J Pandie, pria Rote yang merintis lembaga pendidikan pariwisata.

“Engko kuliah tahan dulu di situ. Tahun depan baru engko tes di Undana. Nanti bapa bonsu (bungsu) beli seragam dan bayar uang SPP awal masuk kuliah. Tidak boleh pergi ke Malaysia. Uang Rp100 ribu engko simpan untuk bayar SPP masuk Undana,” ujar Rikardus Daton Klobor, kerabat ibu saya. Kala itu, Rikardus dosen Universitas Katolik Widya Mandira Kupang sebelum akhirnya menyelesaikan S-2 di Pascasarjana Unika Parahyangan Bandung. Mengurungkan niat jadi TKI di tanah Jiran Malaysia, saya bertahan kuliah di Kelapa Lima. Celakanya, kos-kosan kaka Dr Frans Kia Duan, tempat numpang saya terlalu jauh. Letaknya di Labat. Kalau ke kampus BPLP, mesti melewati Kali Labat lalu muncul di Terminal Oepura lalu naik bemo (mikrolet) 07 rute Oepura -Walikota dengan tarif Rp200 PP.

“Saya ijin tinggal di Kelapa Lima agar irit ongkos bemo. Saya sudah dapat kos dengan harga per bulan Rp5000. Kos itu ada kamar mandi tanpa kamar WC. Murah. Jadi saya mohon ijin tinggal di Kelapa Lima,” kata saya kepada kaka guru Frans Duan, dosen Undana.

Semalam, saat membaca info kalau Jokowi nginap di Hotel Aston Kelapa Lima, ingatan saya malah menyasar kos lama. Juga kampus yang pernah saya akrabi. Di arah jalan menurun ke Kelapa Lima, tak jauh dari Hotel Sasando, saya pernah jadi buruh bangunan dengan gaji sangat besar: Rp850 per hari. Jumlah itu diterima per dua hari dari Rikar, konsultan pengawas. Setelah dikasi, Rikar berpesan agar nyusul ke rumah Paul Iwo, Dekan Fakuktas Teknik Unika agar bisa ambil nasi buat makan malam di kos. Lumayan buat irit gaji sebagai buruh kasar. Kehadiran Jokowi di Kupang dan nginap di Aston mengingatkan juga saya saat menghadiri undian nomor urut para calon Gubernur NTT.

“Kalau urusan di Lembata sudah beres, semua staf hadir di Aston. Setelah itu kita tunggu arahan bapak selanjutnya,” kata Reny Rumlaklak, rekan sesama staf Viktor Laiskodat di DPR RI yang masuk dalam bursa Pilgub NTT 2018 berpasangan dengan calon Gubernur Josef A Nae Soi.

Di Aston saat undian nomor urut para calon gubernur-wakil gubernur, ada kebahagiaan tersendiri. Viktor Laiskodat, anak Pulau Semau, kala itu membawa serta Mama Orpa Kaseh, sang bunda dari kampung Otan, Semau. Untuk pertama kali, saya bertemu dengan mama Orpa, seorang perempuan tua yang dibawa sang anak menyaksikan momen bersejarah itu. Orpa dan Lazarus Laiskodat, sang suami adalah petani tulen di Semau. Usai membersihkan rumput, Veki (Viktor Laiskodat) memungut tumpukan rumput lalu meletakkan di pematang.

“Kami tidur di pondok beralaskan tikar dari daun lontar. Ade Veki dan kami semua bantu orangtua. Saat SMA dia ikut gali lobang untuk orang tanam tiang listrik. Kadang pigi tanam bawang untuk jual. Dia sendiri cari uang saku,” kata Penina Laiskodat, kakak perempuan Viktor Laiskodat saat saya mampir di rumahnya, Oepura.

Kunjungan resmi Jokowi ke NTT, termasuk mengunjungi kampung halaman saya, Lembata, lalu sholat Jumat di Masjid Babul Jannah Amakaka, Ile Ape pada 9 April 2021 lalu mengingatkan saya tentang sosok dan jejak perjalanan Jokowi tempo doeloe. Saat mampir di Solo, melihat dari ujung gang rumah Jokowi, menyaksikan Stadion Manahan Solo hingga minum juice di kedai milik Gibran Rakabuming Raka, sosok Jokowi selalu menempel di dinding memori. Jokowi tidak datang dari keluarga berkecukupan. Sang ayah, Noto Mihardjo, seorang tukang kayu. Tempo doeloe, saat masih kecil, Jokowi besar di bantaran Kali Anyar, sebelah utara Terminal Tirtonadi, Solo. Hidup dalam kondisi memprihatinkan. Ia hidup bersama kedua orangtuanya di sebuah rumah berukuran 7 x 30 meter. “Saat ikut Pakde, orangtua saya menjual lahan di pasar kayu yang baru,” kata Jokowi seturut Bimo Nugroho dan Ajianto Dwi Nugroho dalam ‘Jokowi: Politik Tanpa Pencitraan’ (2012).

Jokowi ke NTT lalu singgah di Penfui, Kelapa Lima di Kupang lalu menyasar sejumlah lokasi kunjungan di daratan Timor adalah kisah seorang pempimpin yang lahir dari kesederhanaan keluarga ditopang nasehat orangtua bahwa hidup dan pengabdian di mana saja muaranya untuk kemasalahatan. Jokowi menyasar Kupang, tempat saya menimba ilmu. Lalu menyasar TTS, kabupaten yang sangat luas dengan penduduk yang ramah. Pun kabupaten tempat Taman Wisata Alam Gunung Mutis yang nyaris pernah bikin saya putus nafas gara-gara badan saya tak kuat menahan dingin meski saya juga orang gunung. Lalu ke Belu, kabupaten yang saya akrabi selama tiga bulan saat KKN di Atambua tahun 1997. “Tadi (Presiden) beli daun singkong sama daun pepaya. Kami tidak sangka Bapak Presiden mau datang ke Pasar Penfui apalagi datang beli kami punya sayur,” kata Susi (Mama) Oktonia Humau mengutip Kupang.tribunnews.com, Kamis (24/3/2022) siang ini. Terima kasih, Bapak Presiden Joko Widodo. Bapak Presiden sungguh seorang pemimpin bersahaja. Rela menyambangi orang-orang kecil, warga Bapak di seluruh wilayah di Indonesia dengan gaya begini. Beta cuma mau bilang, talalu na….. Selamat siang. Salamalaikum.

 

Jakarta, 24 Maret 2022
Oleh: Ansel Deri
Orang udik dari kampung;
Pernah tinggal di Kelapa Lima

Komentar

Jangan Lewatkan