oleh

Flores, Rahim Baru Para Misionaris

-Figur-560 views

Ia mengaku tak punya bakat menulis. Hingga menamatkan pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Ledalero, ia tak pernah menulis untuk umum. Sekadar menancapkan tulisannya di majalah dinding kampus pun, ia tak pernah.

Ia juga mengaku bukan siswa dan mahasiswa yang pandai selama masa sekolah. Ia biasa-biasa saja.

Ketika dipanggil Uskup Agung Ende Mgr Vincentius Sensi Potokota agar dirinya menjadi misionaris di Swiss, ia tidak langsung menyanggupi. Bukan karena ia tidak taat kepada pemimpinnya, melainkan merasa diri tidak layak.

Ia membayangkan betapa beratnya menjadi imam di negara maju dengan pendapatan per kapita di atas US$ 90.000 seperti Swiss. Sedang ia cukup lama menjadi pastor paroki di udik, yakni di Ratesuba, Jopu, dan Wolotopo, Kabupaten Ende.

Tapi, semua pastor yang dimintai pandangan tentang penunjukan dirinya menjadi misionaris di Swiss menyatakan setuju. Ia dinilai layak mengemban tugas itu. Kekuatan utamanya adalah keluwesan. Orang yang luwes bisa diterima di semua kelompok dan level pergaulan.

Itulah sekilas sosok Romo Stefanus Wolo. “Saya bisa berada di mana saja dan bergaul dengan siapa saja,” ujarnya, Jumat (26/8/2022) malam di Sarinah, Jakarta. Dengan keluwesan itu, ia bisa diterima dan dicintai umatnya di Paroki Eiken, Keuskupan Basel, Swiss.

Di Swiss, posisi imam di paroki adalah pekerja. Sedang dewan gereja setempat adalah pemberi kerja. Kontrak antara pemberi kerja dan pekerja hanya setahun. Jika dinilai kurang cocok, kontrak tidak diperpanjang. “Syukur, saya, selalu diperpanjang sejak 2013,” jelas Romo Stef.

“Sebagai imam, salah satu yang selalu saya lakukan adalah membawa sukacita kepada umat,” ungkap Romo Stef. “Untuk menghibur para opa-oma yang kesepian, saya menyanyi sambil memetik gitar,” tukas pastor asal Wolorowa, Ngada.

Menyanyi dan memetik gitar adalah keterampilan baru Romo Stef. “Seperti menulis, saya pun tidak pernah menyanyi di hadapan umum diiringi gitar yang saya mainkan sendiri,” ungkap Romo yang pada awal September 2022 merayakan imamat ke-25.

Membaca tulisannya di FB dan di buku berjudul “Dari Nusa Bunga ke Negeri Alpen”, kita tentu sepakat bahwa Romo Stef memang punya talenta menulis. Tulisan otobiografinya mengalir, runtut, dan selalu ada detail yang menarik.

Romo Stef memiliki photographic memory. Ia mampu mengingat nama-nama teman sekelasnya sejak SD. Ia juga mampu mengingat kisah masa kecil dengan detil.

Ia menulis otobiografi sebagai persembahan kepada umat dan para sahabat di pesta perak imamatnya. “Saya ingin membagikan pengalaman iman dan kehidupan imamat saya kepada sesama lewat buku agar tidak termakan oleh waktu,” jelas pastor yang bersahaja ini.

Banyak hal menarik dalam bukunya. Salah satu yang sangat berkesan bagi saya adalah penjelasan dia tentang minimnya panggilan imamat di Eropa dan suburnya panggilan imamat di Flores. Abad lalu, terjadi gelombang misionaris Eropa ke Flores. Kini, giliran misionaris Flores ke Eropa.

“Alpen dan Eropa adalah rahim para misionaris di masa lalu. Rahim itu sudah mulai mengering. Kini, Nusa Bunga menjadi rahim baru para misionaris. Dari rahim Flores, bermekaran kembang-kembang panggilan baru. Saya adalah salah satu kembang bunga itu,” tulis Romo Stef.

Flores artinya bunga dalam bahasa Portugis. Itu sebabnya, Flores disebut Nusa Bunga. Nusa yang memberikan keharuman kepada dunia. Romo Stef sudah menjadi kembang yang mengharumkan nama Flores dan mengagungkan nama Tuhan, Allah semesta alam.

Flores florete date odorem.
Flores mekarlah, berikanlah keharumanmu.

Selamat Pesta Perak, Romo Stef.
Doa Romo Stef menjadi doa kami juga.

 

Oleh: Primus Dorimulu

Komentar