oleh

Gus Dur, Bapak Maritim

-Figur-54 Dilihat

Mengisi acara di Wahid Institute, Taman Amir Hamzah, Matraman. Gus Dur, salah seorang yang saya kagumi di republik. Terus terang, saya membaca banyak sekali tulisan beliau untuk menyelami dan memahami gagasannya, terutama ketika sedang studi di Den Haag. Pada saat itu, memang kerjaan saya terutama hanya membaca, sebuah kemewahan waktu yang tak pernah saya miliki sekarang. Tentu saja, saya sebelumnya pernah bertemu dengan Gus Dur dan membaca tulisan beliau. Bahkan, pas jaman reformasi membuat Kemah Perdamaian di dekat rumah beliau sambil bersilaturahmi.

Dalam beberapa tulisan tersebut, saya menemui betapa dalam pemikiran dan kematangan beliau tentang hidup, tulisan tahun 80-an atau 90-an saya lupa. Tentang kebermaknaan hidup, tentang ketuntasan pengabdian. Gus Dur telah meninggalkan kita, namun beliau telah menjalankan jalan pedang kehidupan yang beliau yakini, ketuntasan hidup dengan pengabdian yang dia berikan tanpa sisa pada bangsa yang begitu dia cintai.

Dia tidak mencintai kekuasaan yang mesti dia pertahankan habis-habisan, seperti ketika ribuan umat NU Jawa Timur yang siap mempertaruhkan nyawa ke Jakarta ketika beliau “dilengserkan”. Untuk apa, katanya sambil melarang. Namun di suatu waktu, ketika beliau melihat ada satu hal prinsip yang harus diperjuangkan, matipun saya rela, ucap beliau, meskipun tidak diuntungkan secara pribadi.

Salah satu peninggalan besar beliau ketika menjadi presiden adalah didirikannya Kementerian Kelautan (dan Perikanan). Visi besar beliau tentang laut yang menjadi 70 persen wilayah Indonesia kini semakin dirasakan kebenarannya. Ibu Susi, Menteri Kelautan, membuktikan hal tersebut dan memperlihatkan ketika laut dikelola dengan benar maka ratusan triliun bisa kita dapatkan.

Namun meskipun yang dilakukan Bu Susi sangat hebat, belumlah seberapa dibandingkan potensi laut kita. Pramoedya Ananta Toer menyerukan dengan kerasnya, dalam buku Arus Balik, kita harus “menantang kembali” ke Utara. Menjadi bangsa yang outward looking melalui laut dengan semangat kemaritiman yang hebat, jangan hanya inward looking. Tidak pernah ada bangsa besar yang hanya sibuk mengurusi di dalam jadi jago kandang, kita butuh tantangan. Kalo cari “lawan”, mesti yang lebih hebat dari kita supaya kita maju. Kalau yang lebih lemah, kita hanya puas tapi sebenarnya tidak berkembang. What doesnt kill us, make us stronger, kata Nietzsche.

Sungguh aneh, bangsa yang lautnya maha luas ini ternyata pelabuhannya kalah dibandingkan Singapura, negara yang hanya seujung kuku dibandingkan Indonesia. Untunglah kini pelabuhan-pelabuhan kita diperbaiki, serta segera dibangun pelabuhan Patimban. Pelabuhan yang akan jadi terbesar di Asia Tenggara, ini untuk menopang paradigma kemaritiman dan visi perdagangan yang besar. Pelabuhan yang akan membawa berbagai produk-produk ke dunia maupun seluruh Indonesia sendiri.

Ketika harga-harga barang di seluruh pelosok tanah air hampir sama, itu menunjukkan sektor kemaritiman kita sudah hebat. Ongkos logistik kita artinya telah rendah, tidak seperti sekarang yang masih lebih dari 20 persen dari PDB. Sekaligus, kita memenuhi asas keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Jangan sampai produk yang sama, harganya beberapa kali lipat antara Jawa dengan Sabang dan Merauke. Namun, karena awal persoalan yang berat, kita tak bisa langsung membalikkan tangan. Semuanya butuh waktu dan proses yang mesti kita tangani dengan setia dan tekun.

Di samping berbagai sumber daya laut baik dari sisi kekayaan isinya (terumbu karang, ikan, minyak, dll) serta potensi pariwisata, ada potensi lain yang belum kita perhatikan yaitu energi terbarukan. Saya makin menyadari ini ketika membaca visi kelautan dunia, ternyata yang akan berkembang 5-6 kali berlipat nanti adalah sektor energi di laut, saat ini masih kecil namun akan berkembang eksponensial.

Ketika melihat China yang memasang puluhan hektar panel surya mengapung di laut saya kemudian makin paham, lalu memasang kincir angin listrik di laut atau memanfaatkan gelombang laut (baik dari ombak maupun dalam laut), bukankah ini energi yang tidak akan ada habisnya (tentu saja dengan memperhatikan dampak lingkungan)? Bukankah kita punya laut yang luas, kita juga tidak perlu menggusur hutan atau mengebor tanah untuk mendapatkan energi fosil?

Ke depan kita akan semakin bergantung pada listrik, bila kompor, kendaraan, pesawat, kapal sudah berganti berenergi listrik. Praktis, energi fosil tak terlalu perlu dipakai. Impor minyak adalah sumber defisit terbesar perdagangan, kita juga akan mengatasi ini.

 

Oleh: Setyo Budiantoro / Catatan memori 7 tahun lalu mengisi acara di Wahid Institute dan mengenang Gus Dur.

Komentar

Jangan Lewatkan