oleh

Direktur Lakmas Cendana Wangi Beberkan Kiprah Jaksa Kundrat Mantolas yang Diciduk Satgas 53 Kejaksaan Agung

-Hukrim-3.653 views
Spread the love

RADARNTT, Kefamenanu – Direktur Lembaga Advokasi Anti Kekerasan Terhadap Masyarakat Sipil (Lakmas) Cendana Wangi Nusa Tenggara Timur (NTT), Victor Manbait membeberkan kiprah Jaksa Kepala Seksi Penyidikan Kejaksaan Tinggi NTT Kundrat Mantolas yang diciduk Satuan Tugas (Satgas) 53 Kejaksaan Agung RI pada Senin (20/12/2021). Sang Jaksa diciduk saat berada di rumah pengusaha asal Timor Tengah Utara (TTU) Hironimus Taolin di kota Kupang.

Sebagai Kepala Seksi Penyidikan salah satu tugas utamanya adalah menetapkan tersangka Tindak Pidana, untuk selanjutnya didakwa dan dituntut di hadapan sidang Pengadilan.

Jaksa Agung melalui Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung RI menyampaikan, bahwa Kepala Seksi Penyidikan Kejaksaan Tinggi NTT ditangkap karena lakukan perbuatan tercela berdasarkan Pengaduan dari masyarakat.

Pengusaha asal kabupaten Timor Tengah Utara -Hironimus Taolin yang didatangi oleh Kepala Seksi Penyidikan Kejaksaan Tinggi kundrat Mantolas SH, MH, kepada media mengatakan, dirinya melaporkan Jaksa Kundrat ke Kejaksaan Agung karena melakukan Pemerasan atas dirinya tanpa menjelaskan mengapa Jaksa Kundrat Mantolas melakukan pemerasan atas dirinya. Apakah berkaitan dengan usaha yang dingelutinya atau karena alasan lain tidak dijelaskan oleh Pengusaha Hironimus Taolin.

Victor Manbait menjelaskan Kepala Seksi Penyidikan Kejaksaan Tinggi NTT Kundrat Mantolas SH. MH, pernah bertugas di Kejaksaan Negeri Kefamenanu.

“Beliau pernah menjabat kepala Seksi Intlejen dan Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Negeri TTU. Selama bertugas sebagai kepala seksi tindak pidana khusus, Jaksa Kundrat Mantolas SH, MH terkenal keras dan tegas,” sebut Victor.

Saat menjabat sebagai kepala seksi tindak pidana khusus kejari TTU, lanjut Manbait, beliau berhasil mengungkap kasus korupsi tujuh paket jalan perbatasan pada kantor Badan Perbatasan TTU tahun anggaran 2012. Tiga paket projek jalan perbatasan diteruskan penyidikannya hingga disidangkan ke pengadilan.

Sementara, sambungnya, empat paket proyek lainnya yang telah dalam tahapan penyidikan tidak diajukan penuntutannya ke pengadilan dengan dalih kerugian negara empat paket tersebut kecil dan ditangguhkan penanganannya.

“Tiga paket yang dituntut diputus inkracht oleh pengadilan, namun Jaksa berprestasi ini tidak langsung mengeksekusi para terpidana karena dalam proses persidangan masa penahanan para terdkawa habis dan dilepas karena hukum, sehingga saat putusan kasasinya, Jaksa penuntut umum tidak dapat lakukan eksekusi karena terpidana kabur- DPO sampai Jaksa Kundrat pindah dari TTU . Para terpidana DPO itu baru terkesekusi dua tahun kemudian,” ungkap Manbait.

Victor menyebutkan, kerja keras Jaksa Kundrat Mantolas berikutnya saat menjadi Kasi Pidsus Kejari TTU adalah, meng-SP3-kan kasus tindak pidana korupsi Dana Alokasi Khusus Bidang Pendidikan Tahun anggaran 2008, 2010 dan tahun anggaran 2011 pelaksanaan tahun angaran 2011 yang penangannya sejak tahun 2012 dan ditetapkan 11 orang tersangkanya tahun 2015, oleh Jaksa Kundrat Mantolas saat menjabat sebagai Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Negeri TTU di tahun 2017, Para tersangkanya dibebaskan, menyatakan kasusnya dihentikan karena kasusnya sudah lama dan sulit pembuktian – tidak cukup bukti . Dengan menerbitkan surat perintah penghentian penyidik -SP3,.

Kasus dugaan tindak pidana korupsi berikutnya yang telah ditetapkan tersangkanya sejak tahun 2015 lalu dihentikan penyidikannya oleh Jaksa Kundrat Mantolas adalah kasus dugaan korupsi Dana Pilkada TTU tahun angaran 2010 senilai Rp16 Miliar.

Kasi Pidsus dan Kejari sebelumnya telah menetapkan tiga orang tersangkanya tahun 2015, oleh Jaksa Kundrat Mantolas di tahun 2017 saat menjabat sebagai kasi pidsus, dihentikan penyidikan yang dengan dalih tidak cukup bukti,

“Kegigihanya dalam memberantas korupsi sang Jaksa, mendatangkan petaka bagi keluarganya. Anaknya diculik, oleh tersangka korupsi dana desa, saat Jaksa Kundrat menangani kasus itu dalam jabatanya sebagai kepala seksi tindak pidana khusus Kejaksaan Negeri TTU,” tandasnya.

Dilansir JawaPos.com, Kejaksaan Agung membenarkan penangkapan seorang jaksa yang bertugas di Kejaksaan Tinggi NTT berinisial KM. Dia ditangkap Satgas 53 Kejaksaan Agung, atas dugaan melakukan perbuatan tercela.

”Jaksa atas nama KM terindikasi melakukan perbuatan tercela,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Leonard Eben Ezer Simanjuntak seperti dilansir dari Antara di Jakarta, Selasa (21/12/2021).

Untuk diketahui, Satgas 53 dibentuk Jaksa Agung pada 2020, yang beranggotakan 31 orang, diketuai Jaksa Agung Muda Intelijen sebagai Ketua 1 Satgas 53. Satuan gugus tugas Kejaksaan Agung itu memiliki hotline laporan pengaduan terhadap oknum jaksa atau pegawai Kejaksaan yang melakukan penyimpangan.

Pembentukan Satgas 53 Kejaksaan Agung sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo pada pembukaan Rapat Kerja Kejaksaan Republik Indonesia Tahun 2020. Presiden menyampaikan kejaksaan adalah wajah penegakan hukum Indonesia di mata masyarakat dan internasional. Setiap tingkah laku dan sepak terjang setiap personel kejaksaan dalam penegakan hukum akan menjadi tolak ukur wajah negara dalam mewujudkan supremasi hukum di mata dunia. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan