oleh

KontraS Kecam Pelaku Tindak Kekerasan 2 Pelajar dan Desak Kapolda NTT Proses Hukum

-Hukrim-397 views

RADARNTT, Jakarta – Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mengecam tindakan kekerasan terhadap dua pelajar di Timor Tengah Utara (TTU) Nusa Tenggara Timur yang diduga dilakukan oleh salah seorang anggota TNI, dan mendesak Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Nusa Tenggara Timur (NTT) segera melakukan tindakan hukum.

Diduga pelaku berinisial EK, dari kesatuan Koramil Biboki Selatan, berpangkat Kopral Kepala, diketahui EK melakukan tindak kekerasan terhadap 2 (dua) orang usia anak yang masih berstatus pelajar, dengan dalih penegakan protokol Kesehatan.

“Berdasarkan informasi yang kami dapatkan, kasus ini terjadi pada hari Jumat tanggal 30 Juli 2021. YN (17) dan MJ (15) diduga mengalami tindakan kekerasan dari EK selaku Babinsa Desa Tainsala. YN dipukul dengan keras bagian mulut hingga bibir bagian bawahnya pecah dan dua buah giginya goyang,” dijelaskan KontraS.

“Kemudian EK melanjutkan tindakan kekerasannya tersebut kepada YN dengan memukul dua kali pada ulu hati hingga YN terjatuh, lalu EK menginjak dada YN hingga dia meringis kesakitan. Tidak hanya YN, MJ juga mengalami tindak kekerasan, ia dipuukul pada bagian muka dan punggungnya,” lanjut dalam penjelasan KontraS.

Atas peristiwa kekerasan ini, kedua anak tersebut dirawat secara intensif di Puskesmas Manufui. YN diketahui kesulitan bernafas akibat tindakan kekerasan tersebut sehingga ia harus menggunakan alat bantuan oksigen. Lalu MJ juga sedang dirawat atas keluhan sakit di bagian ulu hatinya dan pusing di bagian kepalanya. Terkait kekerasan yang dilakukan EK, pihak keluarga telah berupaya melaporkannya ke Polsek Biboki Selatan dan telah dilakukan visum.

Bahwa atas peristiwa tersebut, kami berpendapat apa yang  dilakukan oleh EK kepada kedua orang anak itu merupakan tindakan yang keji dan tidak manusiawi. Tidak diperkenankan dengan alasan apapun tindak kekerasan boleh dilakukan termasuk dengan dalih pengakan protokol Kesehatan, apalagi hal itu dilakukan kepada seorang usia anak. Bahwa merujuk Pasal 76C Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, setiap orang dilarang melakukan kekerasan terhadap anak.

Selain itu, Pasal 7 Konvenan Hak Sipil dan Politik menyatakan tidak ada seorangpun dapat dikenakan penyiksaan atau perlakuan atau penghukuman yang kejam, tidak manusiawi atau merendahkan martabat manusia.

“Kami menilai perbuatan EK tersebut diduga melanggar Pasal 76 C jo Pasal 80 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana maksimal 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan Pasal 351 mengenai penganiayaan dengan ancaman pidana maksimal 5 (lima) tahun penjara. Oleh karena tindakan yang dilakukan EK dikategorikan sebagai tindak kejahatan/tindak pidana. Sudah sepatutnya EK diproses dan diadili melalui mekanisme peradilan umum,” demikian ditegaskan dalam pernyataan sikap KontraS.

Menurut KontraS, kasus yang dialami YN dan MJ menambah deretan panjang kekerasan aparat dengan dalih penegakan protokol Kesehatan. Pada tahap PSBB dan PSBB Transisi misalnya, yakni sejak April 2020 – Januari 2021, kami mencatat setidaknya terjadi 17 peristiwa kekerasan yang melibatkan Polisi, TNI, Satpol PP, dan Satgas Gabungan.

Berdasarkan urain dan penjelasan kami di atas, kami mendesak:

  1. Kapolda Nusa Tenggara Timur memerintahkan jajarannya untuk melakukan penyelidikan/penyidikan kepada EK yang merupakan anggota TNI dari kesatuan Kormail Biboki Selatan dan diduga telah melakukan tindak kekerasan terhadap dua orang usia anak;
  2. LPSK dan Pemprov NTT memberikan perlindungan khusus kepada para korban dengan memberikan pengobatan dan/atau rehabilitasi secara fisik, psikis dan sosial hingga pendampingan psikososial pada saat pengobatan sampai pemulihan;
  3. KPAI melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan perlindungan dan pemenuhan hak-hak korban.

Demikian poin pernyataan sikap dan tuntutan ini disampaikan di Jakarta, 3 Agustus 2021 oleh Koordinator Badan Pekerja KontraS Fatia Maulidiyanti. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan