oleh

LPA NTT: Anggota TNI Bertindak Kejam dan Langgar Hak Anak

-Hukrim-664 views

RADARNTT, Kupang – Penganiayaan terhadap dua anak  yang dianggap langgar Protokol Covid-19, hingga masuk Rumah Sakit oleh Anggota TNI Koramil Biboki Selatan, Timor Tengah Utara merupakan tindakan kejam dan pelanggaran Hak anak.

Demikian tegas Ketua Lembaga Perlindungan Anak Nusa Tenggara Timur (LPA NTT), Veronika Ata, SH., M.Hum. dalam keterangan pers yang diterima media ini Kamis malam, (5/8/2021).

Dua anak yakni JU (15) dan YN (17) saat ini sebagai pelajar  SMP dan SMA di Manufui – TTU dianiaya oleh seorang Anggota TNI Koramil Biboki Selatan, Kopral Kepala Elias Punef  sampai dirawat di Runah Sakit Leona Kefamenanu.

“Sangat disesali, aparat keamanan menggunakan pola kekerasan dan tangan besi ketika menghadapi seorang  anak,” tegas Tory Ata, demikian sapaan akrab aktivis perempuan NTT itu.

Menurutnya, jika penertiban Prokes Covid-19, mestinya membangun dialog yang baik dan ramah anak. Bukan menggunakan pola-pola kekerasan dan kesewenangan hingga anak masuk  rumah sakit, sulit  bernapas dan sulit makan.

“Seseorang berusia anak butuh perlindungan karena belum mampu melindungi dirinya sendiri dan tidak berdaya ketika berhadapan dengan orang dewasa apalagi aparat keamanan,” jelas Tory Ata.

Tory menjelaskan, indakan kekerasan  ini telah melanggar hak anak sebagaimana yang diatur dalam UU Perlindungan Anak Nomor 35 tahun 2014 yang menyatakan: “Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.”

“Selain UU Perlindungan Anak pelaku juga melanggar UU Nomor 5 tahun 1998 Tentang  Pengesahan Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam,” tegas Tory Ata menambahkan.

Karena itu, LPA NTT menyatakan:

Pertama, mengecam tindakan kekerasan dan pelanggaran Hak anak

Kedua, dua Anak yang menjadi korban penganiayaan harus diberikan perlindungan; perawatan dan pemulihan.

Ketiga, kami mengapresiasi dan mendukung Detasemen Polisi Militer (Denpom) yang sedang menahan Kopral Kepala  Elias Punef.

Keempat, pelaku harus tetap diproses secara hukum untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Kelima, aparat keamanan perlu dibekali tentang perlindungan dan penghormatan terhadap hak-hak anak.

Keenam, semua pihak patut melindungi, menghormati dan menghargai Hak-hak Anak.

Poin-poin pernyataan sikap ini disampaikan Ketua LPA NTT Veronika Ata, SH, M.Hum di Kupang, pada Rabu, 4 Agustus 2021 untuk menjadi perhatian serius para pihak dalam memberikan perlindungan dan pemenuhan Hak-hak Anak. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan