oleh

Emmy dan Lembata Setelah Tegal Parang

-Humaniora-1.243 views

Di Hotel Niagara Parapat, kawasan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, saya setia mendengar kisah tentang Emmy Hafild, nama perempuan aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi). Perjalanan laut dari Pelabuhan Tanjung Priuk Jakarta menuju Belawan, Sumatera Utara via Sikupang, Batam, hilang seketika. Rasa penat yang bersarang juga tanggal kala dari lobi hotel mewah tak jauh dari Danau Toba, alunan musik khas Batak terdengar indah. Rasanya macam di kampung halaman, selatan Lembata.

Kisah Emmy Hafild (lengkapnya Nurul Almy Hafild) dan perjuangannya bersama rekan-rekan sesama aktivis lingkungan Walhi mengadvokasi persoalan pembuangan tailing (limbah) oleh korporasi pertambangan yang kerap merusak sempadan pantai, sungai dan lahan masyarakat, misalnya, saya dengar baik-baik. Sesekali isu penebangan liar (ilegal logging) juga mulai akrab di telinga. Saya perlu berusaha mendengar dan mencatat dengan baik agar laporan di OZON, majalah bulanan dengan core bisnis lingkungan hidup yang kami rintis harus akurat.

“Ambil beberapa pose menarik bu Emmy saat kita ngobrol santai. Kalau wawancara beliau lagi di Tegal Parang Utara, kita sudah punya stok foto,” kata saya ke Subekti, kolega fotografer dari kantor yang ditugaskan meliput pertemuan berbagai NGO seluruh Indonesia, mitra Walhi di Hotel Niagara Parapat. Tegal Parang Utara adalah sekretariat Walhi, tempat kami mewawancarai aktivis lingkungan seperti Emmy, Longgena Ginting, dan lain-lain.

Lidah saya agak kaku kalau mengajukan pertanyaan. Logat Kupang masih kuat. Mendengar suara grup musik khas Batak di samping lobi Niagara sudah menenangkan hati saya. Tapi kalau penyanyi lokal mulai bicara bahasa Batak, saya jadi gelap. Istilah “lae”, “tulang”, “inang” “ito” saya dengar lagi setelah mulai akrab dengan istilah-istilah khas Sumatera itu saat tinggal di Rawasari, belakang STMT Trisakti, Jakarta Timur.

Emmy Hafild adalah satu di antara aktivis senior Walhi yang selalu jadi narasumber kami sejak majalah OZON terbit perdana tahun 1999. Emmy juga direkomendasi Prof Dr Emil Salim dan Ir Sarowon Kusumaatmaja, dua mantan Menteri Lingkungan Hidup agar menjadi narasumber. Dalam catatan saya, selain Emmy, Emil Salim, Sarwono, Prof Siti Sundari Rangkuti, Sudharto P Hadi, Prof Johan Silas, Mas Ahmad Sentosa, Longgena Ginting, Nur Amalia, Nugie, dan lain-lain adalah sebagian narasumber yang cukup akrab bagi kami mendapatkan berbagai persoalan lingkungan hidup dan pertambangan di Indonesia.

Saya berkesempatan mewawancarai Emmy Hafild dalam berbagai pertemuan. Kesan saya, Emmy sangat menguasai persoalan lingkungan hidup Indonesia. Setiap berganti Presiden, Walhi adalah NGO yang selalu memberikan rekomendasi arah dan kebijakan, semacam grand design pengelolaan lingkungan hidup untuk Menteri Lingkungan Hidup. Tatkala Dr Aleksander Sony Keraf diangkat jadi Menteri Lingkungan Hidup, penolakan Walhi cukup kencang.

Sony Keraf, kata Emmy, bukanlah sosok yang pas menahkodai Kementerian Lingkungan Hidup karena ia punya latar belakang etika bisnis dan filsafat. “Saya sedang mengikuti seleksi di RT untuk mengikuti bursa pemilihan ketua RT. Kalau ada suara teman-teman aktivis lingkungan menolak saya, tak apa-apa. Presiden yang punya prerogatif memilih pembantunya. Nama saya kan baru disebut-sebut sebagai bakal calon menteri. Saya masih fokus seleksi calon ketua RT,” kata Sony Keraf, doktor lulusan Universitas Leuven, Belgia, saat saya wawancara beliau di rumahnya, Utan Kayu.

Tahun 2018, saya ngobrol dengan Emmy Hafild via telepon. Kata Emmy, ia tengah menjelajahi wilayah Flores bagian barat hingga Lembata. Dari balik telepon ia mengabarkan tengah melewati jalur jalan Lewoleba menuju Lamalera, kampung halaman Sony Keraf. Sebelumnya, Emmy pernah menyampaikan kalau ia bakal menyasar wilayah selatan Lembata dalam beberapa waktu ke depan. Lembata akhirnya memanggil Emmy, aktivis lingkungan lulusan Amerika Serikat.

“Wilayah selatan Lembata sangat indah. Kampungmu di Boto, ya, Sel. Wah, asyik juga panorama alam selatan Lembata. Saya sangat menikmati pesona alam Lewopenutung. Begitu juga Lamalera dan Pasar barter Wulandoni,” kata Emmy Hafild. Emmy menyebut Boto, kampung saya, sangat sejuk. Sayangnya, ia dan beberapa teman yang mengantarnya menyambangi warga tak punya cukup waktu karena mesti menyasar kampung-kampung di wilayah Kecamatan Nagawutun dan Wulandoni, selatan Lembata.

Semalam, kabar duka kepergian Emmy menghadap Tuhan beredar. Saya menghubungi Melky Baran, mantan Direktur Walhi NTT di Larantuka. Saya sekadar mau menyampaikan kalau ibu Emmy, kolega Melky, sudah tutup mata selamanya. Namun Melky tak merespon panggilan saya. “Tadi kami sedang doa dan sharing bersama untuk ibu Emmy Hafild. Pas lagi doa dan sharing, beliau menghembuskan napas terakhir,” kata Melki Baran lewat pesan singkatnya dari Larantuka, kota Kabupaten Flores Timur, ujung timur Pulau Flores.

Emmy meninggalkan legasi bagi Indonesia terutama rekan-rekan aktivis lingkungan hidup arti perjuangan menjaga dan melestarikan bumi sebagai warisan Tuhan demi keberlanjutan, sustainability semua makluk penghuninya. “Alam dan lingkungan adalah titipan Tuhan dan warisan untuk anak cucu kita. Menjaga dan merawatnya adalah tugas mulia semua manusia. Kita sekadar mengingatkan manusia dan korporasi besar agar tak menyandra hutan lalu mengabaikan aspek lingkungan. Ini bahaya paling besar umat manusia,” kata Emmy suatu kali saat saya wawancarai di Tegal Parang Utara.

Meski duka melanda para pejuang dan aktivis lingkungan dengan kepergian Emmy Hafild, saya masih punya kebahagiaan. Emmy sudah menyambangi selatan Lembata, menyapa Boto, kampung saya meski melewati jalanan yang rusak berat hingga Posiwatu, kampung Melky Baran, sahabatnya sesama aktivis lingkungan. Saya senang Emmy Hafild menikmati pesona alam selatan Lembata. Pesona indah seperti Danau Toba dipandang dari belakang hotel Niagara, Parapat.

Selamat jalan, ibu Emmy Hafild. Terima kasih untuk dedikasimu selama hidup. Ibu telah menjadi narasumber yang baik bagi saya, terutama saat menjadi kuli disket di jantung negara. Selamat jalan, bu Emmy. Damailah di sisi-Nya. Semoga keluarga besar beroleh penghiburan.

 

Jakarta, 4 Juli 2021
Oleh: Ansel Deri
Orang udik dari kampung;
Pernah wawancara Emmy Hafild

Komentar

Jangan Lewatkan