oleh

Fenomena Agama dalam Kemiskinan di Perkotaan

Di zaman yang semakin maju ini banyak penemuan teknologi baru yang canggih dan sangat bermanfaat. Banyak orang berlomba untuk mempelajarinya dan bersaing agar mendapatkan perkerjaan yang layak.

Dengan belajar lebih giat, orang yang bekerja di bagian perusahaan atau di jajaran pemerintahan dapat menikmati kehidupan yang layak dan tercukupi. Di ibu kota banyak dijumpai gedung-gedung tinggi pencakar langit, tempat di mana orang-orang profesional dan pintar bekerja.

Di balik gedung yang tinggi itu ternyata banyak lingkungan kumuh dijumpai. Orang-orang yang pekerjaannya kurang layak atau hasil dari Pekerjaannya hanya dapat mencukupi kehidupan sehari-hari mau tidak mau bertahan dalam kondisi lingkungan yang kumuh dan tempat tinggal di tempat yang kurang layak.

Sungguh fenomena yang sangat berbeda bagai bumi dan langit. Begitu banyak masyarakat yang kurang mampu dan miskin. Tetapi saya bertanya-tanya, apakah kemiskinan sebab dari pemerintah atau dari orangnya sendiri yang tidak mau bekerja keras untuk merubah kehidupan yang lebih baik?

Sudah banyak fakta yang membuktikan anak seorang yang kurang mampu dapat menjadi orang besar dengan berpenghasilan tinggi. Nah, jadi apa yang salah dengan kemiskinan?

Memang tidak dapat dimungkiri bahwa Indonesia mempunyai banyak permasalahan terutama di bidang ekonomi. Adanya ketidaksesuaian antara pekerjaan dengan calon pekerja, lapangan pekerjaan yang sulit yang menjadikan banyak timbulnya pengangguran sehingga timbul kemiskinan.

Masalah yang lain yaitu kebutuhan pokok yang diberikan oleh pemerintah seperti pendidikan yang layak, layanan kesehatan, dan lain-lain. Banyak berita yang menyatakan bahwa anggaran yang seharusnya digunakan untuk pendidikan, layanan kesehatan dan yang lainnya malah disalahgunakan oleh pemerintah. Anggaran yang begitu banyak yang merupakan hak rakyat malah untuk membuncitkan perut para jajaran pemerintah.

Masyarakat kecil pun tidak dapat berbuat apa-apa, mereka menjalani kerasnya hidup dan hanya memikirkan kelangsungan hidup tanpa memikirkan niat untuk bersekolah, membeli obat jika sakit yang ada dalam benaknya hanyalah apakah besok masih bisa makan? Mungkin dari semua permasalahan tersebut yang membuat kemiskinan masih ada dan merajalela.

Sedangkan dari unsur rukun Islam itu sudah mempunyai nilai filosofis yang tinggi yang salah satunya itu  ialah dalam rangka menghempaskan kemiskinan bangsa. Hal inilah yang akan mempererat dua kalimat syahadat (syahadatain) yang sudah cukup lama kita janjikan. Tidak ada lagi keraguan tentang sebuah kesaksian kita bahwa tidak ada ilah (tuhan) yang wajib disembah kecuali Allah SWT serta nabi Muhammad SAW adalah utusan-Nya yang telah membawa risalah ketuhanan dan keagamaan.

Sehingga dalam keislaman kita akan semakin kuat dan tidak akan pernah goyah meskipun badai kencang datang mengguncang sekalipun. Hal ini karena keyakinan yang didasari oleh alasan yang argumentatif, hujjah matînah, serta bukti yang logis itu akan mudah dan tetap terjaga dalam hati (qalbu) dibandingkan dogma semata.

Bagi kaum non-muslim, apabila mereka menginginkan hakikat serta ajaran Islam yang sangat mendalam tentunya mereka akan mendalami tentang ajaran Islam bahwa agama sangatlah peduli dengan semua umat-umatnya serta kehidupan dan kemanusiaannya. Hal ini tentu berdasarkan misi Islam yang akan terus menebarkan rahmat bagi seluruh alam

Dampak Kemiskinan

Sekarang kemiskinan sudah memberikan dampak yang beraneka ragam mulai dari tindak kriminal, pengangguran, kesehatan terganggu, dan masih banyak lagi.

Kemiskinan memang dapat menyebabkan beragam masalah tapi untuk sekarang masalah yang paling penting adalah bagaimana caranya anak-anak kecil yang sama sekali tidak mampu dapat bersekolah dengan baik seperti anak-anak lainnya, sehingga apabila anak-anak tersebut tidak dapat melaksanakan pendidikannya akan menimbulkan kebodohan, jikalau tidak dapat menempuh pendidikannya.

Sehingga hal itu menjadikan anak tidak paham terhadap ajaran dalam agama Islam, karena untuk lebih mengerti tentang agama Islam itu harus menempuh pendidikan, baik dalam pesantren ataupun di luar pesantren.

Pertama itulah masalah yang harus dipecahkan oleh pemerintah karena jika masalah itu tidak dapat dibereskan maka akan muncul masalah-masalah baru yang lebih banyak lagi. Dan juga banyak orang-orang miskin terkena penyakit tapi mereka sulit untuk berobat ke dokter karena mahal, walaupun pemerintah sudah memberikan kartu kemiskinan tapi itu tidak menjamin di rumah sakit.

Kemiskinan adalah keadaan di mana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuhan kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global.

Sebagian orang memahami istilah ini secara subjektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan. Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup:

  • Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan dalam sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
  • Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilkan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.

Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna “memadai” di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia.

 

Oleh: Yulistiana / Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta asal Banuaju Timur Batang-Batang Sumenep Madura

 

Sumber: nalarpolitik.com

Komentar

Jangan Lewatkan