oleh

Kursi Roda Yeni Veronika untuk Yohanes

-Humaniora-1.114 views

RADARNTT, Borong – Jatuh cinta pada bocah penderita lumpuh sejak lahir dari Elar Selatan, Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Yeni Veronika memberi hadiah kursi roda.

Setelah ramai diberitakan media online tentang seorang bocah Yohanes Devilje Laja (8) yang menderita lumpuh total sejak lahir, asal desa Benteng Pau, kecamatan Elar Selatan, kabupaten Manggarai Timur.

Sontak, salah seorang ibu yang adalah anggota DPRD, Provinsi NTT, Yeni Veronika, tergugah hatinya untuk mengunjungi kediaman Yohanes penderita lumpuh di pedalaman kecamatan Elar Selatan, yang membutuhkan bantuan.

Kepada media ini, melalui sambungan teleponnya, Senin (9/8/2021). Yeni mengaku aksi sosial yang dilakukannya adalah sebuah panggilan hidup untuk bisa membagi kasih terhadap sesama, secara tulus tanpa memandang waktu, jarak dan status sosial.

Dikisahkan Ibu dari empat anak itu, bahwa untuk bertemu adik Yohanes di Elar Selatan, sebelumnya ia berdiskusi dengan keempat anaknya terkait keberadaan dari adik Yohanes. Tanpa pikir panjang, mendapat dukungan dan doa dari anaknya, Sang ibu langsung sambangi kediaman Yohanes penderita lumpuh di pedalaman desa Benteng Pau, kecamatan Elar Selatan, Manggarai Timur untuk membawa hadiah berupa Kursi Roda yang selalu menjadi dambaan orang tua adik Yohanes.

Lanjut ia mengisahkan, melalui kabupaten Ngada, dirinya dengan tim menuju Elar Selatan. Kata dia, jalur yang ekstrim dan jarak yang cukup jauh tidak menjadi penghambat untuknya menemui adik Yohanes.

“Bermodalkan informasi dari berita kami langsung ke sana (Elar Selatan, Red) saya tidak tahu dimana tempat itu. Tiba disana kami langsung ketemu Bapak Kepala Desa, dan seterusnya menuju kediaman orang tua adik Yohanes,” ungkap Yeni.

Ia mengaku bahwa keberadaan adik Yohanes, sebagai seorang Ibu, dirinya sangat tergerak hati untuk membantu mewujudkan mimpi adik Yohanes dan orang tuanya.

“Sebagai seorang ibu, saya sangat tersentuh sekali dan merasa terpanggil untuk membawakan hadiah itu kepada adik Yohanes, apa lagi keadaannya sangat membutuhkan bantuan,” ungkap Yeni.

Lanjutnya, terkait saling berbagi, ia mengaku bahwa tak jarang dirinya menyambangi mereka yang sangat membutuhkan. Hal itu, kata dia, harta kekayaan tidak akan dibawah mati, melainkan anugerah Tuhan yang harus kita bagikan kepada mereka yang betul betul membutuhkannya.

Aksi sosial dari Yeni Veronika diakuinya sebagai berkat. Rezeki yang diterima dari Tuhan wajib dibalas dengan berbuat amal dan kebaikan terhadap sesama. Secara khusus bagi mereka yang membutuhkan. Terutama yang mengalami nasib kurang beruntung seperti Yohanes dan keluarga.

“Bantuan yang saya berikan itu memang rezekinya Yohanes. Hanya kebetulan Tuhan titipkan lewat saya. Karena itu rezeki dari Tuhan, maka saya berikan kepada Yohanes sebab Itu haknya dia untuk menerimanya,” katanya.

Yeni Veronika bisa saja mengirimkan kursi roda tersebut kepada keluarga Yohanes. Tapi tidak, istri dari Almarhum Kamelus Deno itu, ingin mengetahui secara langsung kondisi Yohanes sesungguhnya. Termasuk kedua orang tuanya, Ayah Vinsensius Jala (29) dan Ibu Roswita Nelci Nggoweng (28).

“Setelah saya melihat, ternyata mereka keluarga yang sangat membutuhkan pertolongan. Jadi tidak hanya anak Yohanes, tapi orang tuanya juga,” katanya.

Sampai di tempat tinggal Yohanes, Politisi PAN itu menilai, rumah orangtua Yohanes tidak layak huni. Bagaimana tidak, ukurannya kecil, hanya 4 × 4 meter. Berlantai tanah dan berdiding pelepu. Sangat tidak layak untuk ditempati keluarga. Kondisi ini perlu mendapatkan sentuhan dari pemerintah, baik di Desa, Kabupaten ataupun Provinsi.

“Saya hanya berikan kursi roda, harapannya nanti ke depan itu, kita berpikir bahwa bagaimana bisa membantu agar mereka bisa dapat rumah bantuan. Saya sendiri akan berusaha komunikasikan kepada berbagai pihak terkait,” tutupnya.

Senyum Bahagia Adik Yohanes

Dikutip dari Floresnews.id, usai orangtuanya menerima kursi roda itu dari Yeni Veronika, tatapan mata yang berbinar air mata, adik Yohanes dengan suara gagapnya seakan mengucapakan terima kasih. Kosa kata yang dilontarkan kurang jelas. Namun wajah polosnya tersenyum seperti memberi kesan, ia gembira dan bahagia mendapatkan kursi roda itu. Setidaknya, besok dan ke depan, Ia bisa bergerak keliling rumah. Yohanes duduk nyaman di atas kursi roda itu.

Sementara itu Ayah Yohanes, Vinsensius Jala mengungkapkan, empat bulan pertama sejak lahir pada tahun 2013, Yohanes menghabiskan malam dengan menangis, entah karena apa. Namun selama itu pula, Ia dan sang istri Roswita Nelci Nggoweng tidak pernah tidur.

Yohanes terus dirawat penuh kasih sayang. Usianya terus bertambah. Gerak tubuhnya dilihat kaku dan aneh. Di situlah Vinsensius dan Istri mulai mengira, Yohanes mengalami cacat fisik.

“Saat dia berusia 1 tahun 8 bulan, kami sudah tahu, bahwa dia memang tidak bisa jalan. Mungkin dia cacat itu sejak lahir tapi kita kan tidak tahu,” ungkap Vinsensius.

Vinsensius bersama Istri tak hilang akal, keduanya bertekat menyembuhkan sang buah hati. Berbagai upaya dilakukan, mencari obat kampung (obat tradisional), pergi ke orang pintar atau dukun dilakukan. Semua usaha tak kunjung menyembuhkan Yohanes.

Vinsensius juga berniat untuk ke Rumah Sakit, namun gagal. Keterbatasan dana niat itu batal, ditambah lagi waktu itu Keluarga mereka belum memiliki kartu BPJS.

Hingga kini usia Yohanes masuk 8 tahun, Ia sudah cacat bahkan kemungkinan untuk kembali normal sangat kecil. Namun Dia butuh kursi roda. Vinsensius ingin memenuhi itu. Berbagai upaya juga dilakukan, termasuk mengajukan proposal ke Dinas Sosial Kabupaten Matim. Namun belum dijawab hingga sekarang.

Vinsensius hendak membeli sendiri, tapi apa daya uang yang dikumpulkannya tak pernah cukup. Maklum, Vinsensius hanyalah petani dan buruh penggali pasir. Pendapatannya hanya cukup untuk makan.

“Tiga tahun lalu kami ke Ruteng untuk membeli kursi roda, sampai di atas kita tanya kursi rodanya ternyata Rp1.700 ribu. Sementara uang yang dipersiapkan waktu itu hanya satu juta. Uangnya kurang sehingga kami tidak membeli kursi itu,” cerita Vinsensius.

Niat beli kursi roda untuk Yohanes terus diurung, apalagi setelah kelahiran anak ketiga mereka 9 hari yang lalu. Beban yang ditanggung semakin bertambah. Yohanes sendiri merupakan anak sulung. Sementara yang ke dua setelahnya meninggal di usia 6 bulan.

Bantuan dari Yeni Veronika seperti sebuah pengabulan doa bagi Vinsensius dan Istri. Kerinduan dan dambaan mereka kini terwujud. Ia merasa senang dengan bantuan yang diberikan. Vinsensius mengaku hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada Yeni.

“Saya berharap, Yang Maha Kuasa bisa melihat jasa dari ibu Yeni Veronika ini. Karena terus terang, kami tidak bisa membalas jasa baiknya dia. Hanya kepada yang kuasa saja kami serahkan semua ini,” tutupnya. (GN/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan