oleh

Mama, Kita Mo Tinggal di Mana

(Kisah kecil dari Petuk)

Minggu, 4 April 2021, pekan lalu. Menuju tengah malam angin bertiup semakin kencang. Berbunyi seperti raungan pesawat. Hujan pun tak kalah mengguyur dengan lebat. Lalu seketika listrik pun mati. Di radius puluhan hingga ratusan meter dari sungai Petuk di Kelurahan Kolhua Kota Kupang, warganya mengalaminya bagai hendak kiamat. Mencekam. Atap rumah diterbangkan angin. Pepohonan tumbang. Dalam kegelapan, orang-orang berusaha bertahan atau menyelamatkan diri. Hidup seperti di situasi batas. Semua serba terbatas. Walau mereka yakin ada yang tak terbatas dalam hidupnya. Cinta Tuhan. Itulah yang membuat mereka tetap hidup.

Delapan kepala keluarga di RT 32 RW 11 Kolhua keesokan harinya hanya bisa menatap dalam kepasrahan. Rumah-rumah mereka retak sana sini. Sulit untuk ditinggali lagi. Tanah seperti bergerak dan membentuk alur serta patahan. Longsoran adalah ancaman terdekat. Mau tidak mau, dalam tangis dan perih, mereka harus beralih. Pindah agar hidup terus dijaga. Saat itulah seorang anak bertanya kepada mamanya, mama kita mo pindah pi mana?

Jawaban yang sulit bagi seorang ibu. Tetapi ia mesti menenteramkan hati sang anak. Kita pindah ke rumah baru. Sejak Senin, 5 April 2021 itulah sebanyak 8 kepala keluarga itu mendiami ‘rumah baru’ di SD GMIT Setia Kuasaet. Di rumah baru, tentu dengan pola baru, suasana baru, penyesuaian baru namun tetap dalam luka yg lama, pedih perih teriris seroja.

Tiga hari lalu, saya berbagi pesan di group ISKA (Ikatan Sarjana Katolik) Kota Kupang. Pesannya singkat, apakah masih ada para korban bencana yang belum terjangkau bantuan? Saat itu memang saya sedang mempersiapkan rencana pembagian donasi dari GEKIRA (Gerakan Kristiani Indonesia Raya). Keesokannya sekitar jam 9 malam saya mendapatkan telepon dari Pak Yuven Beribe, salah seorang anggota WAG ISKA. Beliau bertanya apakah masih ada bantuan? Ada warga yang sangat membutuhkannya, yang saat ini ditampung di pengungsian. Kata Pak Yuven, untuk lebih jelas bisa bicara langsung dengan Pak Lurah Kolhua yang saat itu bersamanya.

‘Pak Iso, ada 8 kepala keluarga, warga kami yang sedang mengungsi. Mereka membutuhkan bantuan. Untuk sementara mereka ditampung di SD Kristen Setia Kuasaet Petuk.’ Saya merespon pak Lurah, ‘bisa Pak Lurah. Namun kami hanya bisa bantu sembako.’ Lalu pak Lurah menimpali, ‘Pak Iso itu yang kami butuh. Beberapa hari lalu saya terpaksa bon beras untuk mereka. Saya prihatin melihat kondisi mereka. Kemarin saya ke sana, mereka laporkan bahwa beras sudah mau habis.’ Saya berkata singkat, ‘kami akan ke sana.’

Melalui telepon kami berkoordinasi. Siang tadi ‘kopi darat’ juga di kantor lurah. Untuk sampai ke lokasi kami harus memutar melalui Naimata, Sungkaen, lalu menyusur melewati jalanan di bawah jembatan Petuk, bergerak hingga lokasi. Ini pengalaman baru bagi saya bisa sampai di lokasi itu. Para warga yang mengungsi menempati 3 ruangan kelas. Kami menjumpai lebih banyak ibu-ibu dan 20-an anak. Saya bertanya kepada pak Lurah, bapak-bapak di mana? Ternyata pak lurah sudah menginstruksikan kepada bapak-bapak agar kembali beraktivitas seperti biasa. Yang menjadi pengojek, silahkan mengojek; yang bertani pergi bekerja di sawah atau ladang. Jangan duduk-duduk saja di tempat pengungsian untuk menunggu bantuan. Luar biasa inisiatif pak lurah ini.

Kami bertemu, berkisah dan berbagi dengan para pengungsi ini. Anak-anak kelihatan sudah ‘menyesuaikan’ dengan situasi baru itu. Sambil menikmati suguhan kelapa muda, saya bercerita dengan ibu Maria Asmiyanti. Ia sepertinya belum bisa menerima dampak seroja ini. Betapa tidak. Rumah yang baru selesai dibangun beberapa bulan lalu menjadi rusak dan tak berfungsi lagi. Padahal dana senilai 65 juta terpakai untuk itu. Seperti sia-sia jerih lelah mereka. Bahkan ibu Maria menuturkan, ia melihat tanah bergerak, terbelah dan meretakan rumah mereka. Kuburan tua pun hilang keberadaannya. Bencana yang tak pernah dibayangkan, datang memporakporankan tidak saja rumah mereka tetapi rencana dan kehidupan mereka.

Saya bertanya kepada Pak Lurah. Sampai kapan warga bertahan di pengungsian ini? Menurut beliau, sesuai rapat koordinasi di tingkat Pemerintahan Kota Kupang, berbagai kerusakan rumah warga akan diverifikasi oleh tim teknis untuk memastikan layak atau tidak layak direlokasi atau mendapat bantuan perbaikan. Itu berarti untuk beberapa waktu ke depan, mama Maria dan kawan-kawan masih membutuhkan perhatian agar mereka bisa terus merawat kehidupan. Semoga selalu ada hati yang peduli, yang mungkin memberi hal-hal kecil namun dengan cinta yang besar. Selamat bekerja pak Lurah dan tim. Bersemangat lagi mama Maria dan kawan-kawan. Kita kadang terbatas atau berada di situasi batas. Tetapi Tuhan kita tidak pernah terbatas mengasihi dan mencintai kita. Semoga di ruang-ruang sekolah Setia itu, kesetiaan pada kehendak-Nya semakin teruji dan terbukti.

 

Oleh: Isidorus Lilijawa

Komentar

Jangan Lewatkan