oleh

Panjang Usia Perjuangan Wilfrida Soik

Wilfrida Soik lahir di Belu Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 12 Oktober 1993, namun dipalsukan dalam paspor menjadi 8 Juni 1989. Diberangkatkan pada 23 Oktober 2010 melalui jalur Jakarta – Batam – Johor Bahru. Dari Johor Bahru, Wilfrida Soik dibawa langsung ke Kota Bharu, Kelantan, dan kemudian ditempatkan bekerja sebagai pekerja rumah tangga di rumah majikan Yeoh Meng Tatt, beralamat di PT 163, Jalan Nara Pasir Puteh, 26600 Kota Bharu, Kelatan. Soik mulai bekerja pada pertengahan November 2010 dan bertugas menjaga majikan perempuan, Yeap Seok Pen, usia 60 tahun. Wilfrida diberangkatkan secara langsung oleh agensi AP Lenny melalui calo yang bernama Deni.

Wilfrida diduga kuat menjadi korban perdagangan orang atau trafficking. Pada saat diberangkatkan, umur Wilfrida baru 17 tahun. Namun pihak yang meberangkatkan memalsukan umur Wilfirda menjadi 21 tahun. Dalam paspor, tanggal lahir Wilfrida 8 Juni 1989, padahal berdarakan surat baptis yang dikeluarkan gereja katolik Paroki Roh Kudus Kolo Ulun, Fatu Rika, Kecamatan Raimanuk, Belu, menyebutkan Wilfrida dilahirkan 12 Oktober 1993. Wilfrida juga diberangkatkan ke Malaysia pada saat Indonesia melalukan moratorium pengiriman PRT Migran ke Malaysia.

Pada 7 Desember 2010, Wilfrida ditangkap polisi Daerah Pasir Mas di sekitar kampung Chabang Empat, Tok Uban, Kelantan. Ia dituduh melakukan tindak pidana pembunuhan terhadap majikan yang dijaganya, seorang perempuan tua Yeap Seok Pen (60). Wilfrida terancam hukuman mati atas dakwaan pembunuhan dan melanggar pasal 302 Penal Code (Kanun Keseksaan) Malaysia dengan hukuman maksimal hukuman mati.

Menurut informasi yang disampaikan oleh Wilfrida pada 11 Desember 2010 kepada petugas KBRI Kuala Lumpur di Kantor Polisi Daerah Pasir Mas, Kelantan, majikan Wilfrida temperamental (sering marah dan memukul). Merasa tidak tahan lagi dimarahi dan dipukul oleh majikannya, maka pada tanggal 7 Desember 2010, Soik melakukan pembelaan diri dengan melawan dan mendorong majikannya itu hingga jatuh dan berakhir dengan kematian majikan.

Wilfrida Soik ditahan di Penjara Pengkalan Chepa, Kota Bharu, Kelantan. Dan telah menjalani beberapa kali persidangan di Mahkamah Tinggi Kota Bahru. Sidang pertama dilakukan pada tanggal 20 Februari 2011. Beberapa sidang berikutnya: 24-27 Maret 2013, 24 Juni 2013, 5 Agustus 2013 dan 26 Agustus 2013. KBRI Kuala Lumpur telah menunjuk pengacara dari kantor pengacara Raftfizi & Rao untuk membela Wilfrida.

Polres Belu NTT telah melakukan penyidikan terhadap calo yang memberangkatkan Wilfrida Soik sejak 13 Januari 2011 atas dugaan pelanggaran terhadap pasal 2 ayat (1) Jo pasal 10 UU Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, subsider pasal 102 UU Nomor 39 Tahun 2004 tentang penempatan dan perlindungan TKI.

Pada tanggal 30 September, Mahkamah Tinggi Kota Bharu Kelatan mengagendakan sidang putusan sela kasus Wilfrida. Tetapi sidang putusan sela ditunda tanggal 17 November 2013.

Pada Selasa, 25 Agustus 2015 di Mahkamah Rayuan Putrajaya Malaysia, berlangsung sidang banding atas kasus ancaman hukuman mati terhadap Wilfrida Soik. Mahkamah Tinggi Kota Bharu, Kelantan Malaysia membebaskan Wilfrida dari hukuman mati. Jaksa Penuntut Umum dalam persidangan di Mahkamah Rayuan Putrajaya, Malaysia akhirnya mencabut tuntutan banding terhadap vonis bebas Wilfrida. Hal ini tentu memperkuat putusan yang dijatuhkan oleh Mahkamah Tinggi Kota Bahru pada 7 April 2014 lalu. Putusan ini telah berkekuatan hukum tetap. Meski sudah bebas sejak 2015, Wilfrida masih harus menunggu surat pengampunan dari Sultan Kelantan selama hampir 6 tahun hingga akhirnya bisa pulang pada 20 Mei 2021.

Setelah 11 tahun berjuang, akhirnya Wilfrida dapat dibebaskan dan dapat dibawa pulang ke Indonesia. Kepulangan Wilfrida Soik juga disambut oleh pemerintah daerah, dengan menyatakan syukurnya atas kepulangan ini.

 

Oleh: Lanny Koroh/Aktivis Perempuan tinggal di Kupang-NTT

Komentar

Jangan Lewatkan