oleh

Sensitif pada Keterbatasan

Ada undangan yang tidak mungkin saya tolak. Undangan itu adalah dari komunitas disabel. Hidup yang berarti adalah hidup yang memajukan kemanusiaan. Dan kemanusiaan yang makin bergerak maju adalah ketika memperhatikan yang terlemah. Kekuatan rantai tidak ditentukan pada mata rantai terkuat, tapi justru mata rantai yang terlemah (a chain only as strong as its weakest link).

Sebuah keputusan yang butuh waktu, membuat jadwal begitu mepet. Dengan senang hati, saya menerima permintaan mengisi acara karena waktu yang makin mendesak. Saya sebelumnya berasumsi, akan mendengarkan riset atau laporan lalu merespon. Namun ternyata, mesti menyampaikan materi. Waduh, secepat kilat saya menyiapkan flow materi. Jujur saja, ini bukan hal sulit. Toh ini hal yang digumuli dan dipersiapkan sungguh-sungguh sebelumnya.

Saya bersyukur, apa yang saya sampaikan ternyata cukup menangkap sebagian besar kerisauan komunitas disabel, dalam report yang disampaikan setelah paparan saya. Dalam laporan Voluntary National Review (VNR) SDGs yang disampaikan ke PBB tahun 2021, kata “disability” jumlahnya puluhan. Di setiap Tujuan (Goal) SDGs yang dilaporkan, tidak ada yang terlewat terkait disability. Di lampiran VNR, datanya sangat kaya. Keterpilahan misalnya dari wilayah, umur, kelompok pendapatan serta disabilitas, bisa ditemui.

Upaya BPS tentang penyediaan data disability sangat patut diapresiasi. Semangat SDGs no one left behind diwujudkan dalam keterpilahan data (disagregasi), termasuk terkait disabilitas. BPS beberapa tahun lalu untuk memenuhi semangat SDGs, telah merevisi kuesioner survey sehingga data disabilitas dapat tertangkap. Jadi, bisa dipastikan data tersebut akan terus tersedia dan dapat dipantau progresnya.

Misalnya, data kemiskinan atau tenaga kerja bisa ditinjau keterpilahannya pada kategori disabel dan non disabel. Data sangat penting untuk perencanaan (termasuk penganggaran), monitoring dan evaluasi. Kalau tidak ada data, bagaimana kita bisa merencanakan dengan baik dan mengatasi persoalan?

Tentu saja bangsa ini harus terus memperbaiki diri untuk memfasilitasi pengembangan kesejahteraan komunitas disabel. Perlu afirmasi yang sensitif terhadap kebutuhan komunitas disabel. Untuk akses finansial misalnya, bagaimana cara tuna netra membubuhkan tanda tangan? Ini hanya contoh kecil, banyak hal yang perlu dipikirkan dan difasilitasi lebih jauh. Para disabel tidak minta dikasihani, namun mereka membutuhkan fasilitas yang memampukan mereka mengaktualkan potensi dan mengatasi keterbatasannya.

Meski saya ada acara lain, namun saya tetap mengikuti acara itu hingga penghujung acara. Dengan penuh empati dan kerisauan, saya sepenuh hati mendengarkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi para disabel terutama di daerah-daerah. Yang membuat sangat gelisah adalah mendengarkan para disabel terutama di daerah-daerah yang tingkat kemiskinannya tinggi. Sudah daerah itu miskin, tingkat sensitifitas pemerintah daerah lemah, lalu bagaimana nasib para disabel disitu? Ini sungguh merisaukan.

Dalam area pembahasan VNR yang levelnya tingkat nasional ini, lalu saya menyampaikan agar perlu terlibat dalam penyusunan VLR (voluntary local review). Localizing SDGs ke depan akan makin kuat, VLR akan makin dibutuhkan. Perlu pilot atau model di beberapa daerah, lalu komunitas disabel juga aktif dalam penyusunannya.

Tujuannya, berbagai potret riil di tingkat lapangan bisa lebih ditangkap. Lalu, potret tersebut menjadi landasan untuk intervensi kebijakan atau kegiatan (baik pemerintah dan non pemerintah) untuk lebih memenuhi kebutuhan disabilitas di tingkat daerah secara lebih baik. Model tersebut, lalu bisa direplikasikan di tempat lain.

Yang saya agak lupa belum disampaikan di pertemuan, saya berharap komunitas disabel dapat berkontribusi terhadap rencana aksi nasional (RAN)/daerah (RAD) SDGs. Semoga RAN/RAD SDGs menjadi sarana gerakan bersama mengatasi berbagai tantangan bangsa ini secara gotong royong, termasuk dalam hal disabilitas. Semoga!

 

Oleh: Setyo Budiantoro

Komentar