oleh

Kisah Irenius Loan, Pemuda Disabilitas Tukang Pijat Keliling

-Humaniora-136 Dilihat

RADARNTT, Borong – Memiliki keterbatasan fisik bukan jadi hambatan baginya dalam berinteraksi sosial untuk mengais rezeki. Ia adalah Irenius Loan, pemuda penyandang disabilitas asal Canggo, Desa Golo Meleng Kecamatan Rana Mese Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Pemuda penyandang disabilitas yang kerap disapa Iren itu merupakan putra kedua dari pasangan suami istri, Bapak Lorensius Gabut dan Almarhum Mama Regina Dangut.

Setiap harinya, Iren kerap menghabiskan waktunya untuk melayani orang yang membutuhkan jasanya sebagai tukang pijat keliling.

Dengan alat pemijat elektriknya, Iren rela keliling kampung, untuk menjawab kebutuhan para penggemarnya. Dari kampung Canggo menuju kampung lain, Iren kerap menggunakan angkutan Carry milik warga kampungnya.

Dikisahkan Iren kepada media ini, di sela sela melayani pelanggannya, di Jati, Selasa (17/5/2022), ibundanya telah berpulang sejak mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Keterbatasan fisik, membuatnya harus pindah ke salah satu sekolah luar biasa (SLB) di kabupatennya. Sejak saat itu, mereka hidup dengan bersandar pada seorang bapak.

Iren, telah lama melayani orang yang membutuhkan jasanya sebagai tukang pijat.

“Sejak tamat dari SLB , sudah menjadi tukang pijat keliling dengan menggunakan alat pijat elektrik,” tuturnya.

Berkat ketangkasannya dengan skill yang dimiliki, dalam sehari dia bisa melayani rata-rata sepuluh orang. Baginya harga tidak menjadi patokan untuk melayani sesama.

“Banyak orang yang sudah terlayani dan ada yang sudah langganan, sehingga terkadang saya harus tinggalkan kampung halaman,” lanjutnya lagi.

Iren mengatakan, dalam sebulan, dirinya baru bisa pulang kampung hanya sekali.

“Kalau sudah dapat uang, saya baru bisa pulang kampung jenguk Bapak dan keluarga,” aku Iren.

Saat ditanya, sudah pernah mendapat bantuan dari pihak pemerintah. Pria kelahiran Pebruari 1999 di Canggo itu dengan polos dan lugunya mengatakan, belum mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah.

“Saya belum pernah mendapatkan bantuan, mungkin Tuhan belum mempertemukan saya dengan bantuan dari pemerintah. Tetapi, saya bersyukur dengan pekerjaan ini. Dengan saya bekerja, bisa menghasilkan uang untuk menafkahi keluarga, bantu ongkos adik,” tukasnya.

Ia berharap agar pada saatnya nanti, dirinya bisa menggapai cita-cita membuka tempat usaha pelayanan pijat, itu cita-cita dan mimpi besar.

“Keterbatasan fisik jangan menjadi tembok besar penghambat untuk mengais rejeki,” ujarnya. (GN/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan