oleh

60 Bukti bahwa Atlantis Ada di Indonesia

Oleh : Dhani Irwanto

Kisah Atlantis berasal dari dialog Sokrates, “Timaios” dan “Kritias”, yang ditulis oleh Plato pada sekitar 360 SM. Dalam dialog tersebut, Plato menjelaskan bahwa Solon, satu dari tujuh orang bijak, seorang penyair Athena dan penata hukum yang terkenal, pernah ke Mesir dimana para pendeta bercerita tentang kisah Atlantis yang tertulis pada sebuah tugu di dalam kuil mereka. Atlantis dikatakan sebagai sebuah “kisah nyata”, yang hancur, dalam sehari semalam, 9.000 tahun sebelum Solon atau sekitar 11.600 tahun lalu. Ini secara akurat bertepatan dengan bencana dahsyat pada akhir periode Dryas Muda.

Plato menyebutkan bahwa pulau Atlantis telah dilanda gempa dan banjir, dan kemudian berangsur-angsur terbenam ke dalam laut. Dalam beberapa penjelasan lainnya, tersirat bahwa banjir tersebut datangnya dari laut, sehingga kemungkinan adalah sebuah tsunami. Plato tidak mengenal “tsunami” sehingga menyamakannya dengan “banjir”. Gempa dan tsunami sangat sering berkorelasi.

Pulau itu kemudian berangsur-angsur terbenam ke dalam laut, yang berarti oleh kenaikan permukaan laut selama periode Pasca-glasial.

Solon, ketika sedang menulis puisinya, menanyakan arti dan pengetahuan nama-nama tersebut yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Mesir; saat menyalinnya lagi menerjemahkannya ke dalam bahasa Yunani. Dengan demikian, nama-nama dalam cerita Solon ini telah dipinjam dari mitos Yunani agar orang-orang Athena dapat memahami.

Kisah Atlantis memiliki garis waktu sebagai berikut:

  1. Suatu waktu sebelum 10.000 tahun sebelum Solon, masyarakat “Athena” terbentuk.
  2. Suatu waktu sebelum 9.000 tahun sebelum Solon, masyarakat “Mesir” terbentuk.
  3. Sesaat sebelum 9.000 tahun sebelum Solon, wilayah dari “Libya” sampai “Mesir” dan “Tirenia” ditaklukkan oleh Atlantis.
  4. 9.000 tahun sebelum Solon, terjadi perang antara Atlantis dan “Athena”.
  5. 8.000 tahun sebelum Solon, orang-orang Mesir mencatat register sucinya.
  6. Antara 9.000 tahun sebelum Solon dan waktu Solon, terjadi berkali-kali banjir besar dan tenggelamnya daratan.
  7. Sekitar 600 SM, pendeta Mesir menceritakan kisah Atlantis kepada Solon.
  8. Sekitar 360 SM, Plato menulis “Timaios” dan “Kritias”.

Sejak tulisan pertama kisah Atlantis, yang ditulis oleh filsuf Yunani Plato lebih dari 2.300 tahun lalu, terus terjadi perdebatan serius apakah Atlantis pernah benar-benar ada atau tidak. Keberadaan Atlantis didukung oleh fakta yang dijelaskan secara sangat terinci oleh Plato. Selain itu, berbagai kondisi, peristiwa dan barang yang tidak diketahui oleh Plato juga dijelaskan dengan kata-kata yang rinci dan panjang. Plato sendiri menegaskan bahwa itu adalah kisah nyata.

Ada banyak lokasi yang diusulkan sebagai lokasi Atlantis. Salah satunya adalah di Sundalandia atau Indonesia.

Gagasan pertama tentang hubungan antara Atlantis dan Indonesia berasal dari seorang theosophist terkemuka, CW Leadbeater, dan Letnan-Gubernur Inggris di Jawa, Thomas Stamford Raffles, pada abad ke-19. Salah satu peneliti pertama Atlantis disana, pada pertengahan tahun 1990, adalah seorang polymath Amerika William Lauritzen. Konsep Atlantis Sundalandia telah diberi dorongan besar oleh penerbitan buku almarhum profesor Brasil Arysio Nunes dos Santos “Atlantis: Benua yang Hilang Akhirnya Ditemukan” pada tahun 2005.

Penggenangan prasejarah wilayah Sundalandia telah tercakup secara ekstensif oleh seorang dokter anak dan ahli genetika, Stephen Oppenheimer pada tahun 1998. Hipotesis atlantologi Sundalandia juga telah disisipkan oleh penelitian dari seorang ahli geologi dan geofisika, Robert M Schoch bersama-sama dengan Robert Aquinas McNally pada tahun 2003.

Contoh menarik lainnya tentang lokasi Atlantis ini adalah dari seorang ahli biologi molekuler Sunil Prasannan, yang telah berkontribusi pada sejumlah forum internet yang berkaitan dengan Atlantis. Zia Abbas dalam bukunya “Atlantis: The Final Solution” pada tahun 2002 mengklaim telah membuktikan bahwa Atlantisnya Plato dapat ditemukan di landas kontinen di Laut Tiongkok Selatan, yang dikenal dengan Sundalandia.

Pada tahun 2013, Danny Hilman Natawijaya dalam bukunya “Plato Tidak Bohong, Atlantis Ada di Indonesia”, menyatakan bahwa piramida Gunungpadang di provinsi Jawa Barat rupanya dibangun oleh orang-orang menjadi bentuk piramida sekitar 13.000 tahun lalu, adopsi Atlantis yang berada di yang sekarang Indonesia.

Graham Hancock mengusulkan asal usul berbagai karya arsitektural dan artistik di Sundalandia dalam masa sebelum bencana dahsyat sebagai lokasi Atlantis yang sebenarnya, dalam bukunya “Magicians of the Gods”, yang diterbitkan pada tahun 2015.

Dukungan lebih lanjut tentang Atlantis di Indonesia adalah dengan diterbitkannya sebuah buku, “Atlantis: Kota yang hilang ada di Laut Jawa” oleh Dhani Irwanto pada bulan April 2015. Ia berusaha mengidentifikasi ciri-ciri kota yang hilang dengan rincian di dalam naskah Plato dengan sebuah lokasi di Laut Jawa di lepas pantai pulau Kalimantan.

Secara keseluruhan, Dhani Irwanto telah mengumpulkan 60 bukti yang konvergen untuk menyimpulkan bahwa Atlantis adalah sesuai dengan ciri-ciri Sundalandia, serta ibukotanya kemungkinan besar terletak di Laut Jawa.

Untuk mengetahui 60 Bukti bahwa Atlantis Ada di Indonesia, silakan membuka link ini:

https://www.indonesiana.id/read/47462/bukti-bukti-bahwa-kota-atlantis-ada-di-laut-jawa.

(Dhani adalah Penulis Indonesiana.id)

Komentar

Jangan Lewatkan