oleh

Pengetahuan: Keutamaan dan Kesempurnaan Dalam Diri Manusia

Problematika Manusia

Memahami eksistensialisme manusia kita dapat menggunakan pemahaman yang dangkal atau sebatas mengetahui wujudnya, dilihat dari bentuk luarnya sejauh manusia itu ada sebagai manusia. Memahami manusia kita harus memiliki pengetahuan yang otentik bahwasannya manusia adalah misteri. Disebut misteri karena manusia menjadi soal sepanjang sejarah hidupnya sendiri.

Problem manusia adalah problem abadi. Kelahiran, kehidupan dan kematian terus saja menjadi persoalan besar yang terngiang di setiap sanubari manusia. Mengapa saya dilahirkan? Siapakah saya ini? Dan apa yang terjadi setelah eksistensi saya di dunia ini berakhir? Pertanyaan- pertanyaan ini menjadi suatu problematika yang tak kunjung henti dibicarakan dalam kehidupan manusia itu sendiri.

Sementara itu, manusia membutuhkan pengetahuan yang universal terlebih khusus untuk memecahkan problematika seperti di atas. Sehingga akhirnya bisa dipahami banyak orang tanpa harus pernah mengalaminya sendiri. Pengetahuan jenis ini yang dicari manusia dalam kerinduannya sebagai a knowing being.

Bertitik tolak pada perspektif tentang manusia di atas, maka setiap orang harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri, meskipun ia tidak perlu mengerti dan memahami banyak hal tetapi sekurang-kurangnya ia seyogyanya harus mengerti dan memahami akan dirinya sendiri agar ia mampu untuk mengatur dirinya dalam eksistensi hidupnya secara lebih baik.

Untuk mengerti, memahami dan membedakan segala hal, manusia harus sudah mempunyai pandangan yang cukup tentang hakekat dari kodratnya sendiri. Lalu apa kemampuan yang dimiliki oleh seorang manusia dan apa yang dicita-citakannya? Apa yang benar-benar dapat mengembangkan dan menyempurnakan hidupnya? Inilah pertanyaan- pertanyaan hidup yang tak dapat dihindari oleh manusia.

Pertanyaan- pertanyaan ini pula dalam sepanjang zaman dicoba untuk memberi suatu jawaban oleh para ahli pikir sebelumnya,  misalnya Plotinus dan Plato mengatakan bahwa manusia adalah makhluk Ilahi. Bagi Epikurus dan Lukretius manusia adalah suatu makhluk yang berumur pendek, lahir karena kebetulan dan akhirnya sama sekali lenyap.

Menurut Descartes, kebebasan manusia mirip dengan kebebasan Tuhan, sedangkan para pemikir lainnya mengajarkan bahwa manusia adalah suatu makhluk yang tidak berarti atau keinginan yang sia-sia.

Menurut Marx manusia benar- benar berubah sepanjang sejarah dan mengembangkan dirinya, mentransformsikan dirinya. Manusia adalah produk sejarah. Sejarah adalah sejarah perwujudan diri manusia, sejauh tidak lebih dari penciptaan dirinya sendiri melalui proses bekerja dan produksi. Keseluruhan dari apa yang dikerjakan manusia tidak lain kecuali penciptaan manusia oleh tenaga buruh dan terciptanya alam untuk manusia oleh karena manusia mempunyai bukti yang tidak dapat disangkal atas penciptaan dirinya dan asal- usulnya.

Selanjutnya, Marx menyebut manusia sebagai manusia jika ia hidup produktif. Inilah yang dimiliki manusia universal dan diwujudkan dalam proses sejarah manusia melalui aktivitas produksinya. Dengan itu, dalam cerita penciptaan oleh Plato dengan pemeran utamanya “Demiurgos” yang berarti pekerja menunjukkan bahwa manusia itu dikenal sebagai pekerja atau dalam bahasanya Marx “memproduksi” sesuatu hal menjadi teratur atau kosmos.

Pengetahuan: to be  menurut perspektif Erich Fromm

Erich Fromm menyatakan bahwa dalam manusia modern ada dua modus berada, yakni to have dan to be. To have adalah modus yang mengejar harta milik sebesar-besarnya (seperti konsep Marx yang menghendaki agar manusia mesti bekerja atau berproduksi demi meraih banyak hal termasuk harta). Sedangkan to be adalah modus yang memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dalam hidup sehari-hari.

Dalam pandangan Fromm, pengetahuan manusia modern lebih banyak digunakan untuk mendapatkan sesuatu (to have), daripada menggunakannya untuk mengembangkan kehidupan manusia. Penekanan pada keinginan memiliki tersebut menimbulkan dampak negatif bagi penghayatan eksistensi manusia, semisal yang paling dirasakan adalah pengobjekan manusia.

Pengetahuan merupakan satu kekayaan dan kesempurnaan bagi manusia. Melalui pengetahuan, manusia dapat menguasai diri dan dunianya. Manusia terus menerus mendalami dirinya, belajar dari sejarahnya, menggali nilai-nilai budayanya serta memperdalam tingkat religiositasnya. Kesadaran dan keterbukaan terhadap semua dimensi humanistik itu memungkinkan manusia berpengetahuan.

Dengan itu, manusia bisa masuk ke dalam dirinya, orang lain, dan dunia, bahkan sesuatu yang ada di luar dirinya. Melihat kenyataan ini bagi manusia, tujuan utama berpengetahuan adalah mengungkapkan diri terhadap hal-hal di luar dirinya, sebaliknya juga mengungkapkan segala hal eksternal itu pada dirinya.

Dari narasi di atas, jelaslah bahwa pengetahuan merupakan cara manusia menghayati eksistensinya. Dengan pengetahuan manusia membentuk diri dan dunianya. Karena itu tujuan berpengetahuan tidak pertama-tama untuk memiliki atau menguasai banyak hal, melainkan cara berada, yang oleh Fromm diistilahkan dengan to be. Dalam bingkai berpikir seperti ini maka berpengetahuan berarti cara menghayati hidup secara sadar. Dengan demikian, pengetahuan merupakan ungkapan eksistensi manusia oleh karena manusia menghayati keberadaannya sebagai makhluk yang rasional.

 

Oleh: Agustinus Bora Bulu / Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

Komentar

Jangan Lewatkan