oleh

Figur Politik Partai Tersandra Lembaga Survey

-Info-677 views

Dalam kurun waktu satu dekade terakhir, di era otonomi daerah, hajatan politik Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) senantiasa menyedot banyak energi publik pun lembaga lembaga yang turut mengisi pesta demokrasi beraras lokal itu.

Pada biasanya, partai politik (Parpol) mengambil posisi paling strategis dan menjadi organ yang sangat menentukan, karena Parpol sebagai penentu tunggal mengusung figur politik yang akan berkontestasi di medan tempur Pilkada. Selain, calon independen yang sering pula ikut meramaikan keadaan.

Suasana diselimuti trik dan intrik, berbagai taktik dan strategi dimainkan para akrobat politik partai dan elite untuk mendapat simpati dan dukungan massa, mendapat pintu partai pengusung menuju singgasana kuasa.

Lembaga non partisan pun tumbuh subur ikut menyemarakan pesta, biar terus ramai dan menghibur tetamu undangan. Seperti, lembaga penyelenggara, pengawas, tak lupa lembaga pengamat, konsultan dan lembaga survey tak ketinggalan.

Situasi ini menunjukkan, ada semangat hidup demokrasi yang kuat melampaui batas ruang dan waktu, tak ada sekat antar satu dengan lainnya. Terjalin kesalingtergantungan yang begitu kuatnya, sampai tak ada pihak yang berani menjadi yang paling menentukan.

Tidak seperti disebutkan di awal, Parpol menjadi yang dominan dan sangat menentukan. Penyelenggara menentukan nasib Parpol bisa ikut berkontestasi atau tidak, si pengawas bisa saja mengadili dan menghukum penyelenggara dan semua yang terkait.

Parpol serba was was dan dilematis mengambil sikap ke kiri atau ke kanan. Masih meminta masukan dan saran lembaga lainnya, meminta disurvey, dikonsultasi ke konsultan politik dan seterusnya.

Kecenderungan ini terasa semakin menggerus kepercayaan diri figur dan institusi Parpol untuk mengambil sikap secara jelas dan tegas, sering ambivalen dan tidak pasti. Seperti saling tersandra oleh keberadaan masing-masing. (Tim/RN)

Komentar