oleh

Ketulusan Dalam Diplomasi Politik PILKADA

-Info-1.033 views

Orang yang tulus terhadap sesamanya adalah orang-orang yang tidak berlaku munafik. Orang yang tulus tidak memiliki “keramahtamahan yang dibuat-buat”.

Dengan demikian sikap lahiriahnya menjadi manifestasi dari sikap batiniahnya. Oleh sebab itu kalau kita mau menjadi seorang yang memiliki kejujuran, bukan sikap lahiriahnya yang dipoles, tetapi sikap batin yang terus menerus diperbaharui.

Ini menunjuk kepada orang yang tidak berhati bengkok terhadap sesamanya. Orang yang tidak berlaku belat-belit. Berbicara apa adanya bukan ada apanya, selalu mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dan tidak mengada-ada.

Keramahan yang tulus, yang lahir dari kasih. Keramahtamahan sejatinya bukanlah sikap lahiriah, tetapi sikap hati atau batin yang memancar atau terekspresi dalam perbuatan lahiriah.

Keramahtamahan ini sebenarnya sesuatu yang positif dan luhur, tetapi kalau keramahtamahan menjadi sesuatu yang dimanipulasi, maka lebih tepat dikatakan sebagai kemunafikan yang sejajar dengan kepura-puraan atau dusta.

Diplomasi dalam pergaulan pada hakikatnya adalah membangun negosiasi untuk mencapai persetujuan antar pihak, namun sering pula dibaluti kepura-puraan. Ini adalah bentuk kemunafikan yang sejajar dengan penipuan secara diplomasi.

Diplomat yang sejati tentulah mempunyai kata-kata dan sikap untuk menyembunyikan maksud yang sebenarnya. Ini adalah dusta yang sangat halus dan secara tidak langsung.

Diplomasi dalam proses PILKADA merupakan sebuah aktivitas berbentuk negosiasi kandidat dengan kontituen dalam rangka menjaring suara ataupun mensosialisasikan program-program yang akan dilakukan apabila kandidat dipilih sebagai Gubernur/Bupati/Walikota. Bentuk negosiasi disampaikan kepada masyarakat dan diminta dukungannya dan masyarakat menunjukkan dukungan dengan memilih kandidat tersebut.

Beberapa kasus PILKADA di Indoensia menunjukkan bahwa hampir semua kandidat dalam PILKADA melempar janji dan melakukan negosiasi dengan masyarakat konstituen partai politik yang mendukung kandidat. Keberhasilan kandidat ditentukan oleh masyarakat memilih.

Kepercayaan masyarakat adalah indikator utama yang harus diraih oleh seorang kandidat. Untuk hal tersebut dalam melakukan diplomasi dengan negosiasi kepada masyarakat, kandidat harus bisa melihat kebutuhan masyarakat setempat.

Kebutuhan masyarakat tersebut merupakan indikator dalam melihat kearifan lokal dalam sebuah komunitas. Komunitas tersebut akan maju apabila kebutuhan dasarnya terpenuh untuk dikembangkan. Kepiawaian kandidat dalam sebuah PILKADA untuk melihat kebutuhan masyarakat seperti ini.

Pada masa kini kearifan lokal menjadi kecenderungan umum masyarakat Indonesia yang telah menerima otonomi daerah sebagai pilihan politik terbaik. Membangkitkan nilai-nilai daerah untuk kepentingan pembangunan menjadi sangat bermakna bagi perjuangan daerah untuk mencapai prestasi terbaik.

Kearifan lokal sebagai alat atau cara mendorong pembangunan daerah sesuai daya dukung daerah dalam menyelesaikan masalah-masalah daerahnya secara bermartabat.

Diplomasi dalam Pilkada, dimana seorang kandidat melakukan diplomasi politik untuk mendapatkan simpatik dari para pemilihnya, dan melakukan negosiasi politik. Bentuk-bentuk negosiasi yang berbasis kepada kearifan lokal. Kearifan lokal berkembang dan tetap bertahan pada kehidupan masyarakat.

Persoalannya bagaimana seorang kandidat dapat membaca sesuatu hal yang dikatakan lokal bagi sebuah komunitas atau sebuah masyarakat. Kearifan lokal menjadi sesuatu hal yang utama untuk dipahami oleh seorang kandidat. Sehubungan dengan hal itu, maka perlu pemahaman dasar mengenai proses-proses kejiwaan yang membangun dan mempertahankannya kearifan lokal.

Proses-proses itu meliputi pemilihan perhatian (selective attention), penilaian (appraisal), pembentukan dan kategorisasi konsep (concept formation and categorization), atribusi-atribusi (attributions), emotion, dan memory.

Seorang kandidat dalam sebuah PILKADA Gubernur/Bupati/Walikota harus bisa mengembangkan selective attention. Kandidat harus bisa menyaring informasi yang tepat yang berhubungan langsung dengan konstituen sehingga benar-benar mendalami kebutuhan konstituennya.

Berkaitan dengan PILKADA Gubernur/Bupati/Walikota, penilaian konstituen sangat mempengaruhi jumlah suara bagi pemenangan. Untuk mendapatkan penilaian yang baik dari masyarakat, seorang kandidat harus memprediksi penilaian yang positif dari masyarakat. Untuk hal itu kandidat harus memahami masyarakat di daerah pemilihannya. (*)

Komentar