oleh

Trik Meningkatkan Elektabilitas Tokoh Politik

-Info-1.174 views

Sejak dibukanya keran pemilukada serentak oleh pemerintah, maka setiap tahunnya fokus perbincangan para analis politik selalu berkutat siapa tokoh politik yang populer dan memiliki elektabilitas tinggi.

Tak ditabukan, memang tahun 2018–2019 sudah diketahui publik sebagai tahun politik.

Adanya situasi yang seperti itu maka mendorong partai politik dan tokoh-tokoh yang berminat untuk ikut bertarung dalam pesta demokrasi itu, mulai pasang kuda-kuda.

Tak bisa ditampik, pesta demokrasi selalu identik dengan guyuran hujan uang. Pun melihat situasi yang cukup parah itu, akhirnya Goenawan Muhammad seorang penulis terkemuka angkat bicara lewat artikelnya di majalah tempo 27 Juli 2016, menyindir bahwa kehidupan politik telah berubah menjadi lapak dan gerai, kios dan show-room.

Terlepas dari sindiran itu, sebuah pertanyaan sederhana yang selalu terlontar ketika bertemu seseorang, apakah tokoh politik si A kuat di daerah anda ? Entah sekedar surga telinga bagi anda, dengan entengnya teman anda menjawab, oh sangat kuat.

Pertanyaannya, dari mana anda tahu kalau posisi tokoh politik itu kuat?

Kekuatan Figur Tokoh Politik

Mengukur kadar kekuatan figur tokoh politik yang mencalonkan diri sebagai kepala daerah bukan perkara mudah. Kita tidak bisa seenaknya membuat kesimpulan sesat, bahwa tokoh politik A kuat atas dasar cuma karena dibicarakan segelintir orang.

Tafsir kuat memiliki pengertian bersayap, bisa diterjemahkan juga tokoh politik tertentu cukup populer karena rekam jejak yang bagus atau karena rekam jejak yang buruk tapi soal apakah nanti dipilih rakyat, belum tentu.

Jadi, popularitas seseorang hanya merupakan pintu masuk tapi bukan segalanya. Dititik ini, maka dibutuhkan ukuran lain dengan apa yang disebut elektabilitas tokoh politik. Akan sangat bagus sekali jika popularitas dan elektabilitas itu berjalan beriringan bak semut ketika mengangkut makanan.

Menurut Hasanudin Ali, CEO Alvara Research Center tingkat elektabilitas atau keterpilihan seorang tokoh politik dipengaruhi oleh 3 faktor seperti popularitas, citra, serta ikatan batin.

Populer di mata masyarakat pemilih tidak berarti harus duduk di rangking nomor satu dari sekian kandidat. Terpenting, dia masih dalam peringkat 3 besar sehingga masih memiliki ruang cukup lapang untuk terpilih.

Kemudian citra, faktor citra ini menyangkut karakter dan kemampuan tokoh politik. Citra kandidat yang low profile, murah senyum, tidak susah bertemu sangat disukai masyarakat.

Namun, kata Corner dan Pels bahwa aktifitas politik yang hanya mengedepankan pencitraan politik, tanpa dibarengi penguatan kualitas diri politik, pada akhirnya hanya meretas nihilisme.

Karena itu membangun citra tokoh politik tertentu wajib ditopang dengan kemampuan komunikasinya yang baik seperti mampu memberikan solusi-solusi kongkrit atas masalah-masalah masyarakat. Dengan begitu akan semakin mendongkrak popularitasnya yang bermuara pada elektabilitas.

Nimmo dalam bukunya Komunikasi Politik, Khalayak dan Efek, mengatakan citra adalah segala hal yang berkaitan dengan situasi keseharian seseorang, menyangkut pengetahuan, perasaan dan kecenderungannya terhadap sesuatu. Sehingga citra dapat berubah seiring dengan perjalanan waktu.

Adapun ikatan batin, merupakan hubungan emosional mendalam dari kandidat dan masyarakat pemilih.

Ini akan tercipta jika masyarakat pemilih merasa tidak ada jarak antara mereka dan kandidat.

Kenapa ikatan emosi harus dibangun?

Takarannya sederhana, karena secara garis hubungan kekeluargaan tidak ada sama sekali. Untuk memasuki fase membangun jalinan ikatan emosi pilihan satu-satunya adalah menyentuh titik kepentingan mereka.

Bagaimana kita bisa tahu apa kepentingan masyarakat pemilih ?

Untuk bisa tahu apa yang menjadi kepentingan masyarakat pemilih itu, cara yang paling masuk akal adalah dengan metode blusukan.

Seorang sosiolog asal Universitas Gadjah Mada Arie Sudjito mengatakan, model kampanye blusukan saat ini memang sedang tren di kalangan politikus Indonesia. “Tren gaya kampanye politikus saat ini banyak dipengaruhi pola kampanye Jokowi.

Senada juga dituturkan Charles Bonar Sirait yang menulis buku “kekuatan berbicara di publik” bahwa masyarakat akan memberikan respons dan penghormatan jauh lebih besar kepada politikus yang mendatangi mereka secara langsung. “Nilainya sangat tinggi dan tidak terbayarkan,”

Hasil Penelitian Elektabilitas

Banyak gagasan menaikkan popularitas dan elektabilitas tokoh politik dilakukan oleh tim suksesnya tanpa memiliki pijakan kuat dan mapan, semisal kajian ilmiah.

Kalau pun digunakan, bakal membuat mereka pening, pusing-pusing dan tersesat lebih jauh ke rimba dunia tak berujung.

Kalau dikatakan gagasan itu cuma spekulasi, pas benar, karena akhirnya cuma membuang waktu, biaya dan tenaga secara percuma.

Sebenarnya, beberapa hasil penelitian tentang naik turunnya elektabilitas seorang tokoh politik sudah banyak dipaparkan para ahli.

Seperti yang di lakukan LCS Survey 2014 silam di 34 propinsi, menyimpulkan bahwa 38,3 persen warga lebih cenderung memilih tokoh politik yang menjalankan kampanye blusukan, 35.9 persen memilih tokoh politik karena pemberitaan, terakhir 25.8 persen masyarakat memilih seorang tokoh politik karena iklan di media massa.

Hal yang sama juga dipaparkan Riris dan Yogih dalam jurnalnya “Mencari Bentuk Kampanye Politik Khas Indonesia” mengungkap bahwa kandidat yang mendapatkan simpati dari masyarakat adalah sosok yang memangkas jarak dengan masyarakat.

Hal sedikit berbeda diutarakan Venus dalam bukunya manajemen kampanye bahwa masyarakat sebagai pemilih mempertimbangkan calon dari apa yang dilihat di media massa

Menurut McGinnis seperti yang dikutip Dennis Kavanagh dalam bukunya Ellection Campaigning: The New Marketing of Politics, pemilih sesungguhnya melihat kandidat bukan berdasarkan realitas yang asli melainkan dari sebuah proses kimiawi antara pemilih dan citra kandidat (gambaran imajiner). Citra yang baik, dengan sendirinya akan meningkatkan popularitas dan elektabilitas kandidat, begitupun sebaliknya.

Pilihan Strategi Tokoh Politik

Strategi secara prinsip dasar merupakan cara-cara yang dilakukan untuk mencapai tujuan. Tentu tujuan di maksud adalah memenangkan hati rakyat sehingga mampu mendulang suara yang begitu banyak dan melimpah ruah.

Biasanya ada dua strategi yang diterapkan dalam pertarungan politik yang dikemas dalam bahasa Incumbent versus penantang dan diturunkan melalui rupa-rupa aksi.

Seperti, strategi incumbent biasanya akan selalu mempertontonkan segala pencapaian agar mendapat alasan dan restu masyarakat untuk dilanjutkan.

Sementara itu bagi seorang penantang akan berupaya menunjukkan sisi-sisi kegagalan incumbent yang maju kembali dalam pertarungan politik.

Lepas dari dua strategi itu, ada beberapa pilihan strategi yang sangat direkomendasikan para pakar komunikasi politik, seperti :

1. Kunjungan langsung terprogram
2. Kunjungan langsung insidental (door to door)
3. Ceramah/dialog
4. Aksi sosial terprogram
5. Aksi sosial insidental
6. Peresmian
7. Kontrak politik
8. Turnamen
9. Pawai
10. Hiburan/Kesenian
11. Menggunakan media center

Sebelas strategi ini adalah cara yang sangat efektif untuk mendongkrak popularitas dan elektabilitas seorang tokoh politik hingga lebih dari 73 persen.

Apakah 11 strategi itu harus digunakan semua?

Ya, kalau betul berminat ingin menang telak dalam pertarungan politik.

Namun sayangnya, kalau lawan politik menggunakan strategi yang sama maka peluang mendulang suara terbanyak itu cenderung akan menipis.

Kesimpulan

Popularitas dan elektabilitas adalah dua hal yang berbeda tapi merupakan 1 paket yang harus dikejar seorang tokoh politik agar mampu meraup suara terbanyak dalam pertarungan politik.

Hasil penelitian, ada 3 pilihan dalam mendongkrak popularitas dan elektabilitas tokoh politik yang selalu menjadi saluran masyarakat pemilih menjatuhkan pilihannya, seperti :
1. Metode blusukan
2. Metode pemberitaan
3. Metode Iklan di media massa

Dengan menggunakan ketiga pintu ini, bisa digaransi seorang tokoh politik akan sukses mendulang suara rakyat yang cukup banyak, dengan catatan harus dirahasiakan pada lawan politik metode dan strategi mana yang dipakai. (*)

Komentar