oleh

“Belajar Dari Ketaatan Yusuf”

-Info, Rohani-373 views

Renungan Minggu Adven IV

Kita semua tentu pernah bermimpi. Entah mimpi yang baik maupun mimpi yang buruk. Pada dasarnya banyak orang senang kalau mimpinya indah, misalnya mimpi dapat uang banyak, mimpi dapat istri cantik bagi yang belum menikah atau mimpi-mimpi lain yang menyenangkan. Kalau sudah bangun ingin tidur lagi melanjutkan mimpi yang menyenangkan itu. Tidak ada orang yang senang dengan mimpi buruk. Mimpi dikejar anjing gila, mimpi utang ditagih, mimpi jatuh ke jurang dan seterusnya. Kita juga tidak boleh percaya kepada mimpi, apalagi mengklaim mimpi kita itu adalah kehendak Tuhan. Kalau mimpi  itu anda yakin sebagai kehendak Tuhan, maka patut dipertanyakan dan diragukan.  Mimpi hanyalah bunga tidur. Jadi kalau anda bermimpi yang menyenangkan bersyukurlah tetapi jangan percaya dengan mimpi apalagi kalau anda menafsirkan mimpi. Kalau anda mimpi buruk berdoalah supaya anda tidak mimpi buruk lagi.

Kitab Suci berkisah tentang seorang pria yang bermimpi. Tetapi mimpinya itu benar-benar berasal dari Tuhan. Bukan mimpi sembarang mimpi. Mimpi itu berasal dari Tuhan sendiri, dimana dalam mimpi itu, Malaikat Tuhan menjumpai Yusuf dan berbicara kepadanya. Allah sering memakai mimpi untuk menyatakan kehendakNya kepada umatNya. Allah juga sering memakai mimpi untuk menyatakan FirmanNya melalui mimpi. Firman atau wahyu itu kemudian dituliskan di dalam  Kitab suci.

Dalam adat istiadat Yahudi, pertunangan adalah salah satu tahap dalam hubungan seorang pria dan wanita. Pertunangan itu diresmikan dan diketahui oleh umum. Dalam pertunangan itu ada semacam perjanjian yang dilakukan orang tua kedua belah pihak yang bersedia melanjutkan pertunangan itu ketahap pernikahan. Jadi pertunangan itu bersifat mengikat. Dalam masa pertunangan, mereka sudah dikenal sebagai suami istri, namun belum boleh hidup serumah atau bersama sebagai suami-istri. Maka apabila pertunangan ini dibatalkan atau diputuskan maka hal itu disebut dengan perceraian.

Pada waktu Yusuf bertunangan dengan Maria, Yusuf demikian terkejut sebab ternyata Maria mengandung. Pada waktu itu Yusuf belum mengetahui bahwa Maria tunangannya itu mengandung dari Roh Kudus. Itulah sebabnya ia bermaksud secara diam-diam menceraikan tunangannya itu. Muncul pertanyaan disini mengapa ia menceraikannya secara diam-diam? Kalau kita melihat dalam tradisi Yahudi maka akan sangat jelas bahwa seorang suami dapat saja menceraikan tunangannya di depan umum dengan alasan tertentu. Yusuf juga bisa menuntut Maria di depan pengadilan untuk bercerai dengan alasan karena Maria sudah mengandung. Jika Maria dituntut dengan alasan demikian, maka jelas Maria akan dihukum dengan hukuman dilempari batu. Namun ada alternatif kedua yang ditempuh Yusuf yaitu menceraikannya dengan diam-diam. Dalam tradisi yahudi menceraikan tunangan dengan diam-diam biasanya disaksikan oleh paling tidak 2 saksi. Dengan demikian, Maria tidak dipermalukan, tidak dicemarkan namanya dan bahkan Maria terhindar dari hukuman yang berat, yakni dilempari dengan batu. Sikap Yusuf ini tentu menunjukkan keluhuran budi dan kebaikan hati yang luar biasa. Secara manusia langkah yang dilakukan oleh Yusuf sebelum bermimpi dijumpai malaikat adalah langkah yang bijaksana.

Persoalannya, mengapa Yusuf bisa memilih langkah yang bijaksana ini? Mengapa Yusuf bisa memiliki sikap yang demikian baik, demikian sabar, murah hati, sekaligus juga tegas dengan menceraikan Maria tunangannya itu? Jawabannya di ayat 19. Yusuf adalah seorang yang tulus hatinya. Dalam pengertian lain, kata tulus disini adalah sebuah sikap hidup yang mentaati hukum agama. Artinya Yusuf adalah seorang yang taat kepada hokum-hukum Tuhan. Ia mencintai Taurat Tuhan, menggumuli Taurat Tuhan dan mentaati Taurat tersebut dalam hidupnya. Ketaatan kepada hukum Tuhan inilah yang sangat mempengaruhi semua tindakannya. Ketaatan pada hukum membentuk karakternya menjadi seorang yang penuh kasih, murah hati, penuh kebaikan tetapi juga seorang yang tegas.

Sebuah keputusan yang jarang dan mungkin belum pernah diambil oleh seorang pria: mengetahui tunangannya hamil bukan karena perbuatannya dan tetap mempertahankan hubungan tersebut. Yusuf berani mengambil keputusan itu dan bersedia menanggung segala risiko yang pasti tidak mudah. Ia harus bertahan menghadapi gunjingan orang atas kondisi Maria yang hamil sebelum mereka menikah. Begitu menikah, ia sudah harus repot menjaga Maria dan mempersiapkan kelahiran bayinya.

Yusuf, tunangannya itu adalah seorang yang saleh, setelah mengetahui hal ini ia bermaksud memutuskan pertunangannya. Tapi Tuhan melalui malaikat berkata kepada Yusuf: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus (Matius 1:20). Dan Yusuf pun melakukan seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan yakni mengambil Maria sebagai isterinya.

Apa pengorbanan Maria dan Yusuf dalam menjalankan rencana Allah? Untuk menjalankan rencana Allah Maria dan Yusuf harus mengorbankan banyak hal di dalam hidup mereka. Ketika Maria berani berkata

Mengapa Maria dan Yusuf berani berkorban? Apa yang membuat mereka berani berkorban sedemikan rupa? Perkataan Maria:“Jadilah padaku menurut perkataanmu itu.,” dan ketaatan Yusuf kepada perintah malaikat Tuhan adalah keputusan yang berat. Mengapa mereka dapat melakukannya? Tuhan tahu akan kelemahan dan ketidakberdayaan kita sebagai manusia. Dia tahu akan ketakutan Maria dan Yusuf untuk menjalankan perintah-Nya. Karena itu, Tuhan melalui malaikat-Nya datang kepada Maria dan Yusuf menyatakan rencana-Nya. Maria dan Yusuf perlu memahami akan rencana-Nya terlebih dahulu dan dipersiapkan, diyakinkan serta diteguhkan dengan jaminan penyertaan-Nya. Inilah yang membuat Maria dan Yusuf rela berkorban, setia, dan taat menjalankannya.Pengorbanan Maria dan Yusuf adalah pengorbanan berharga karena menjadi berkat bagi semua manusia, yakni menerima anugerah keselamatan dan menjadi anak Allah.

Kita pun kiranya dapat meneladani sikap Yusuf yang tidak mudah  mencemarkan nama baik orang lain, bersikap bijaksana dalam mengambil keputusan penting dalam hidup kita. tidak mudah menjatuhkan orang lain, hanya karena kita tidak suka, tidak mudah menyebar gosip, cerita, fakta dan berita yang tidak pantas dari orang lain, hanya berdasar hal yang tidak nyata dan hanya karena kita iri, tidak terbuka dan peka mendengarkan suara Tuhan, dll. Kita belajar dari Yusuf yang tulus dengan memiliki ketaatan sempurna kepada Firman Tuhan, membentuk karakter penuh cinta kasih, damai, kelembutan dan pengampunan tulus, konsisten memiliki sikap hidup yang mentaati hukum-hukum Allah, sehingga kitapun mampu mengasihi.

Kita terus belajar dari ketulusan, kesetiaan, pengorbanan, kesabaran dan kerendahan hati serta cinta tulus St. Yusuf. Kita berdoa, Santo Yusuf doakan kami selalu. Semoga kedatangan dan kelahiran Yesus dalam hati dan hidup kami, memampukan kami menjadi berkat bagi orang lain.

Tuhan memberkati. Amin

 

Oleh: Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, PR

(Sekretaris Eksekutif, Komkat KWI, Jakarta)

Komentar