oleh

Berbahagialah Orang Yang Tidak Menjadi Kecewa dan Menolak Aku

-Info, Rohani-565 views

Renungan Minggu Adven III

Yohanes Pembaptis telah tampil sebagai nabi yang kuat, yang berani menegur banyak orang berdosa, termasuk Herodes raja yang sedang berkuasa sehingga ia harus masuk penjara. Dialah yang memperkenalkan Yesus sebagai Mesias dan meyakini dirinya hanya sebagai pembuka jalan. Namun, ketika ia menderita di penjara, dan merasa harus menanggungnya sendiri, keyakinan Yohanes goyah. Ia pun mengutus muridnya untuk bertanya kepada Yesus: “Engkaukah yang akan datang itu, atau haruskah kami menanti yang lain?” Bagaimana reaksi Yesus? Dia menyuruh murid itu kembali dan menceritakan apa yang mereka dengar dan saksikan tentang segala yang diperbuat Yesus: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta ditahirkan, orang tuli mendengar, orang mati bangkit, dan orang miskin mendengar kabar baik. Yesus ingin Yohanes mengingat nubuat Yesaya, yang sedang digenapi dalam hidup dan pelayanan Yesus (Yesaya 29:18, 35:5-6). Maka, kebenaran firman itulah yang meneguhkan lagi iman Yohanes.

Pada awalnya Yohanes masih belum mengerti tentang suatu aspek penting dalam pekerjaan Mesias. Dan inilah yang terjadi pada Yohanes Pembaptis. Belum apa-apa dia sudah membayangkan dulu seperti apa itu Mesias. Dan dia rupanya menemukan bahwa Yesus tampaknya tidak cocok dengan gambaran tersebut. Lalu dia mulai merasa kecewa dengan Yesus.  Yohanes Pembaptis juga punya kekurangan, dan belum memahami Mesias yang ia siapkan kedatangan-Nya. Dia hanya memahami satu aspek dari pekerjaan Mesias. Dia belum memahami aspek lain yang lebih penting, atau paling tidak sama pentingnya, dari pekerjaan Mesias itu.

Yesus menjelaskan siapa Yohanes itu. Kebesaran Yohanes Pembaptis terletak pada kualitas kerendahan hatinya. Dia tidak melakukan sesuatu yang hebat. Kebesarannya tidak terletak pada apakah dia menyembuhkan orang sakit atau tidak. Kebesaran Yohanes Pembaptis terletak pada kualitas wataknya. Pada saat ada yang bertanya kepada Yohanes Pembaptis, “Apakah kamu ini Mesias? Apakah kamu ini nabi besar? Lalu siapakah kamu?” Yohanes Pembaptis menjawab dengan jujur, “Tidak, aku bukanlah Mesias. Aku bahkan tidak layak untuk membuka tali kasut-Nya.”

Tak ada orang yang lebih besar daripada Yohanes, demikian Yesus memberikan kesaksian tentang Yohanes yang dapat kita teladani. Merendahkan diri sampai ke tingkat anak kecil, itu yang paling sedikit. Itu bukan tingkat terendah yang bisa kita capai tetapi yang turun ke tingkatan orang hukuman. Dan  Allah akan meninggikan mereka.

Belajar dari sikap dan semangat Yohanes Pembaptis di minggu ke tiga adven ini, kiranya kita tidak menjadikan diri pusat dari apa yang telah Allah kerjakan. Kita hanyalah alat/sarana di tangan Tuhan untuk mewartakan kebaikan kasih Allah. Yesus adalah pusat pemberitaan, kabar gembira yang harus selalu diwartakan kepada siapa saja. Kehidupan-Nya adalah kehidupan yang paling berharga di dunia ini. Hikmat-Nya melampaui hikmat siapa pun. Tetapi Dia mengosongkan diri dan menjadi hina. Biarlah kita yang hina tidak lupa diri dan tidak menjadi kecewa kepada Tuhan hanya karena Dia menolak untuk menjadikan kita pusat dari karya-Nya.

Seluruh rencana Allah berpusat pada Kristus. Biarlah kita melihat semua tanda-tanda yang Yesus kerjakan dengan cara yang benar. Banyak orang percaya kepada tanda-tanda mujizat itu tetapi sedikit yang memahami maknanya. Kiranya kita tidak termasuk orang-orang yang menolak. Kiranya juga kita tidak termasuk orang-orang yang percaya tetapi tidak memahami makna dan menganggap tanda-tanda mujizat itu adalah demi kepuasan hidup manusia. Kiranya kita tidak menutup jalan bagi orang lain untuk bertemu dan mengalami Tuhan. Seperti Yohanes, kita bersedia untuk menjadi semakin kecil dan Tuhan menjadi semakin besar. Tuhan semakin dikenal dan dimuliakan, dan bukan diri kita. Yesus adalah tujuan! Semoga kita tidak menjadi orang yang kecewa dan menolak-Nya.  Datanglah Tuhan, datanglah. Sekarang dan sepanjang segala masa. Amin **

 

Oleh: Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, PR 

(Sekretaris Eksekutif, Komkat KWI, Jakarta)

Komentar