oleh

“Hari Tuhan”: Renungan, Minggu 17 November 2019

Oleh : Fr. Dkn. Made Pantyasa

“Hari ini, hari ini, harinya Tuhan, harinya Tuhan. Mari kita, mari kita, bersukaria, bersukaria!” 

Penggalan lirik lagu yang biasa dinyanyikan oleh anak-anak SEKAMI. Lagu yang cukup populer dinyanyikan oleh banyak kalangan dan pada kesempatan ibadat-ibadat. Gambaran tentang ajakan bersukaria pada hari Tuhan. Sukacita yang didasarkan pada rahmat yang telah diberikan-Nya untuk umat-Nya.

Bagi orang-orang yang sungguh-sungguh setia pada jalan Tuhan akan memperoleh sukacita. Itulah yang digambarkan oleh nubuat Maleakhi. Dikatakan bahwa “Kamu yang takut akan namaKu, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang” (Mal. 4:2). Rahmat istimewa yang dianugerahkan Tuhan bagi mereka yang takut akan Dia dan setia pada perintah-Nya.

Demikian juga dengan jelas dikatakan bahwa hal buruk akan menimpa mereka yang tidak setia dan takut akan Tuhan. Sebab hari Tuhan sesungguhnya datang menyala seperti perapian. Bagi mereka yang tidak setia tentu akan binasa. Namun dalam Injil, Yesus menegaskan bahwa orang beriman kepada-Nya, yang setia kepada-Nya, tidak akan dibiarkan binasa, bahkan sehelai rambut dari kepala pun tidak akan hilang. Satu syarat yaitu tetap bertahan dan setia kepada-Nya apa pun yang terjadi.

Sebagai pengikut-Nya memang ada banyak hal yang akan dialami. Termasuk di dalamnya hal baik dan juga tidak baik. Penginjil Lukas telah menggambarkan itu, bahwa konsekuensi dari mengikuti Kristus adalah mengalami penderitaan. Namun kesempatan itu akan menjadi kesempatan untuk bersaksi jika dengan sungguh-sungguh mengikuti Kristus. Meskipun akan mengalami penderitaan, tetapi Kristus tidak membiarkan umatNya sendirian. Ia memberikan hadiah terindah yang melebihi kemauan manusia.

Kesetiaan kepada-Nya bisa ditunjukkan lewat ungkapan syukur. Hari ini adalah hari Tuhan yaitu kesempatan untuk bersyukur kepada-Nya. Enam hari diberikan kesempatan untuk bekerja, maka sungguh pantaslah memberi waktu untuk Tuhan seraya menghaturkan syukur kepada-Nya. Hari Tuhan adalah anugerah maka sambutlah dengan sukacita dan syukurilah hikmat yang diberikan-Nya.

Dengan ungkapan syukur itu maka setiap orang akan dimampukan untuk bersaksi di tengah kehidupan. Bersyukur atas pemberian-Nya dan tidak lupa dengan orang lain. Itulah hari Tuhan yang menggembirakan, mensyukuri pemberian-Nya dengan sukacita dan terus berusaha dan bekerja. Rasul Paulus mengingatkan bahwa segala sesuatu akan diperoleh jika setiap orang  bekerja. Sambutlah hari Tuhan dengan sukacita dan syukurilah berkat-berkat-Nya.

 

(Sumber: renunganlenterajiwa.com)

Komentar

Jangan Lewatkan