oleh

Hak Jawab dan Koreksi SMAN 3 Borong

-Info-1.020 views

Kepada

Yth. Kepala Redaksi Radar NTT

Di –

Tempat

KEBERATAN-KEBERATAN YANG DIAJUKAN KEPADA MEDIA RADAR NTT BERITA HARI Sabtu, 7 November 2020

Pertama, Dari judul berita ”diduga gagal pindah sekolah, siswa SMA nekat bunuh diri”

Head line sebuah berita akan menggambarkan isu keseluruhan. Dengan judul yang disodorkan akan berdampak kepada kesimpulan  pembaca tentang dua kelompok orang yang bertanggung jawab terhadap tindakan bunuh diri  yakni: 1). orang tua korban yang sampai hari ini tidak pernah mengeluarkan pernyataan bahwa anak mereka melakukan tindakan keji  itu karena tidak mengabulkan keinginan anaknya untuk pindah sekolah. Fakta ini menunjuk   kepada ketidakkonsistenan pembuat berita yang akhirnya mengabaikan fakta yang terjadi. Dengan merujuk kepada point ini saja, etika jurnalisme seorang penulis berita patut digugat. 2). Pihak sekolah. Penikmat berita dengan head line berita seperti di atas akan langsung berspekulasi tentang buruknya lembaga pendidikan SMAN 3 Borong. Psikologi pembaca berita akan langsung men-judge- SMAN 3 Sebagai  biang keladi kenekatan korban sehingga melakukan tidakan keji tersebut terlepas dari pembuat berita dalam analog beritanya menyebutkan secara tersurat tentang orang tua korban.

Kedua, Narasi pemberitaan. Gugatan yang ditujukan kepada pembuat berita juga tidak terlepas dari  penggunaan aksioma tertentu dalam frase pemberitaan. Aksioma kuat dugaan secara literer bertumpu kepada:

a) Memiliki saksi yang kesaksiannya siap dipertanggungjawabkan. Aksioma kuat dugaan  dengan orang  tua korban sebagai pihak yang sepenuhnya bertanggungjawab berarti masuk dalam ranah kriminal. Pembuat berita dengan menyebutkan orang tua sebagai penyebab tetapi dengan aksioma kuat dugaan  berarti menunjuk kepada ketidaklogisan pemahaman akan makna kalimat dengan konsekunsi penggunaannya.  Selain dari pada itu, aksioma kuat dugaan berpeluang kepada pembuat berita memasukan unsur subyek dengan mengabaikan objektivitas

b). Penyebutan HUMAS SMAN 3. Runutnya isi berita menunjuk kepada pembuat berita yang jauh dari kejelian. Itu nampak dalam pernyataan  yang dipaksakan dan tidak paralel. Dalam pemberitaan dituliskan: peristiwa ini menghebohkan warga sekitar. Sebab FS dikenal anak baik, Dengan kalimat Humas SMAN 3 Borong Joanes Pieter Pacalas,yang dihubungi media ini membenarkan kejadian itu. “FS dikenal anak baik dan rajin” katanya. Logika kalimat-kalimat ini akan dipahami sebagai berikut:

1). Peristiwa keji  bunuh diri yang dilakukan  FS menghebohkan warga sekitar karena FS dikenal  anak baik dengan pembenaran kejadian oleh Humas SMAN 3 Borong. Rentetan kalimat memberi  peluang kepada kejadian bunuh diri yang dibenarkan oleh Humas SMAN 3 Borong bahwa itu karena yang bersangkutan gagal pindah sekolah. Frase membenarkan kejadian itu oleh Humas SMAN 3 Borong  dalam kerangka keseluruhan uraian pembuat berita sekali lagi  mengambarkan seluruh proses kejadian bunuhdiri karena gagal pindah sekolah.

2). Kerangka uraian pembuat berita menimbulkan pertanyaan:  Humas SMAN 3 Borong memberi pembenaran terhadap kejadian bunuh diri karena gagal pindah sekolah? Atau memberi pembenaran terhadap hebohnya warga sekitar karena FS dikenal anak yang baik?

3). Persoalan krusial berikutnya adalah pembuat berita tidak mempelajari  tata bahasa Indonesia yang baik dan benar sehingga menimbulkan pertanyaan. Membenarkan kejadian berarti bunuh diri terjadi   karena gagalnya korban pindah sekolah dan bukan membenarkan kejadian dengan kutipan FS dikenal anak yang baik dan rajin yang membuat warga sekitar heboh.

Dari uraian-uraian keberatan di atas, ada beberapa catatan yang harus dipertimbangkan:

Dengan tidak berpretensi mengabaikan etika jurnalistik, ada baiknya etika pemberitaan sekrusial peristiwa bunuh diri memperhatikan pedoman pemberitaan sehingga tidak menimbulkan spekulasi adanya kepentingan pragmatis misalnya karena tuntutan tertentu

Lembaga pendidkan SMAN 3 Borong merasa dirugikan dari pemberitaan media ini yang tanpa konfirmasi memberitakan kejadian bunuh diri yang menimpa  salah satu peserta didiknya dan secara tersirat menjadikan citra lembaga pendidikan sebagai penyebab. Gagal pindah sekolah seperti yang tersurat dalam pemberitaan menunjuk kepada ketidakberesan suatu lembaga pendidikan dalam memajukan peserta didiknya. Citra buruk seperti   ini mesti menjadi  perhatian sehingga psikologi penikmat  berita tidak merasa ada   orang/pihak yang harus bertanggungjawab dari  peristiwa krusial bunuh diri seperti ini.

Dengan tidak meremehkan media ini dalam kemampuannya mengakomodir setiap problematika jurnalistik, maka dalam ruang pemberitaan diperlukan pengkajian sistematis dan komprehensif.  Unsur objektivits dalam pemberitaan akan mampu memayungi etika sebuah berita sehingga patut untuk dilansir dan layak untuk dinikmati oleh khalayak ramai. Unsur objektivitas itu tercakup juga dalam pedoman klasik pemberitaan seperti 5 W 1H. Melangkahi salah satu saja dari pedoman klasik ini,akan menemui ketdak cocokan dan ketidaksesuaian pada bagian berita secara  keseluruhan.

Memuat berita dalam bentuk apapun kejadiannya, mesti menghindarkan diri dari tindakan amatiran yang akhirnya berpeluang kepada kesan terburu-buru dan asal jadi. Sebagai contoh dari pemberitaan bunuh diri yang menimpa salah satu peserta didik  SMAN 3 Borong, media ini menyebutkan tentang orang tua korban dan Humas SMAN 3 Borong yang dihubungi pembuat berita. Sampai saat ini, oknum yang dihubungi media ini (orang tua korban dan Humas SMAN 3 Borong) mengaku tidak pernah dihubungi. Maka simpulannya jelas adalah hasil rekayasa/kabar burung.

Dengan merujuk kepada berbagai keberatan di atas, pihak lembaga pendidikan meminta kepada media ini untuk membuat klarifikasi terhadap pemberitaanya dalam peristiwa bunuh diri yang menimpa  salah satu  peserta didik SMAN 3 Borong.

Demikian tanggapan dan keberatan untuk hak jawab dan koreksi ini disampaikan oleh atas nama Kepala Sekolah SMAN 3 Borong, Humas SMAN 3 Borong, Joanes P.P Alais Calas, Minggu, 15 November 2020. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan