oleh

Makan Siang untuk Pelatihan Laboran qPCR

-Info-374 views

SYUKUR dan terima kasih tak terhingga untuk kakak, adik, bapak, mama, mas, mbak, dan teman-teman semua, sampai pagi ini uang yang sudah ada di rekening kami terima sebesar 51 juta rupiah. Sekali lagi, ini jumlah yang banyak sekali, untuk mimpi kami, tepatnya mimpi kita. Bikin sesuatu yang lain.

Terus terang saya tidak menyangka, uang yang terkumpul bisa sampai 51 juta rupiah. Jumlah ini jauh melebihi kebutuhan makan siang kami. Bahkan tadi malam, saat kami duduk berdiskusi, ada telepon dari BLK (Balai Latihan Kerja) berniat menyumbang 40 porsi makanan. Terima kasih ya, Pak! Hari ini kami semua terharu, banyak sekali kiriman dari teman-teman. Ada dokter, ada guru, ada pegawai, ada yang kami tidak pernah bertemu sama sekali. Saya juga mendengar kabar dari teman-teman yang sedang memulai pelatihan hari ini bahwa Bendahara Dinas Kesehatan Provinsi NTT siap membantu…ya kami terima, banyak mahasiswa juga yang mungkin tidak bisa makan normal, kita bisa makan sama-sama.

Ya, ada yang menasehati, agar sebaiknya surat kemarin juga disertai nomor telepon, agar bisa dicek kebenarannya dan tidak disalahgunakan. Berikut no HP saya (Dida): 081232590509. Minta tolong teman-teman saya dikirim pesan via WA, agar kami bisa melaporkan detil penggunaan hasil sumbangan. Jika ada yang butuh tanda terima, juga tolong saya diberitahu. Mungkin ke depan kami akan bekerja sama menggunakan kitabisa.com atau wecare untuk menggalang dana, seperti saran banyak orang agar lebih mudah dicek kebenarannya. Seperti saran Kak Hanna dan Om John.

Untuk apa ya uang sebanyak 51 juta rupiah? Selain untuk kegiatan pelatihan, kami sebenarnya masih berusaha agar laboratorium kita itu bisa ada. Ya, satu langkah, demi satu langkah. Baby steps. Kami perlu membuat ruang tekanan negatif. Belum pasti apakah di Labkesda Provinsi NTT juga bersedia, atau hanya di Universitas Nusa Cendana di Klinik Pratama.

Untuk renovasi agar masing-masing ruang mempunyai fasilitas tekanan negatif kita butuh dana yang bervariasi. Untuk Undana dan Labkesda Provinsi NTT, perbaikan butuh lebih banyak dana, diantara 200 hingga 300 juta rupiah. Sedangkan jika kita meminjam ruang di RS Siloam, mungkin kita butuh hanya 60 juta rupiah. Tetapi ini RS Swasta, jadi butuh MoU. Mereka sih bersedia, karena saat ini para pasien mereka antri periksa swab 10 hingga 14 hari. Beban keuangan memberatkan BPJS, dan risiko untuk para tenaga kesehatan juga meningkat. Andaikan laboratorium SWAB bisa dibikin, katakan lah dengan 600 swab per hari, atau 300 swab per hari saja, beban Lab Biomolekuler RSUD bisa kita pangkas. Karena kapasitas Lab Biomolekuler RSUD Prof.dr.W.Z Johannes, Kupang, NTT kalau tidak salah hanya 48 swab, atau maksimal 96 sampel per hari.

Jadi, dari sisi manfaat kehadiran laboratorium baru penting sekali. Andai saja kita bisa mengumpulkan uang lebih banyak, ada beberapa hal yang ingin dibeli. Bukan makanan. Tapi peralatan lab, untuk bantu Kak Fima. Sehingga laboratorium baru minimal ada dua di Kupang bisa ada.

Sering kali malam sudah jadi subuh. Sering Kak Fima masih menyiapkan materi pelatihan untuk besok pagi. Dia tidak sendiri, Kak Stormy Vertygo juga sama, dia kalau kerja kesetanan 5 modul pelatihan bisa jadi dalam dua hari. Ajaib.

Jadi andaikan kita punya duit cukup apa yang Kakak berdua mau beli? Katakan lah setelah gedung bertekanan negatif ada? Jadi kita bisa melakukan kegiatan perdana kita. (Membanyangkannya saja. Hmm rasanya senang. Meskipun itu belum terwujud. Lelah dua bulan ini seperti ada gunanya…)

Karena saya seorang buruh gambar, saya tulis saja apa yang saya dengar dari Kak Fima. Kira-kira begini. Jika jumlah uang yang kami terima cukup banyak hal pertama yang dibeli adalah pipetting robot. Alat ini bermanfaat apabila kita ingin memperbanyak pengulangan dan itu ada polanya, kalau manusia yang pipet (ini bisa jadi ‘kata kerja’, saya juga baru tahu), human error-nya tinggi, padahal untuk meminimalisir false negative dalam pooled-test kita butuh ‘pemipetan’ berbasis otomatis komputer untuk menghindari human error, jadi untuk itu kita bisa menggunakan skema robotik.

Kalau teman-teman ingin tahu barangnya seperti apa, ini link-nya: https://www.integra-biosciences.com/canada/en/pipetting-robots/assist-plus, atau ini: https://us.vwr.com/store/product/23725021/biomek-4000-automated-workstation-beckman-coulter

Saya mulanya optimis, tapi setelah lihat di kolom harga WOW juga lihat angka. 85.000 dollar AS. Lumayan banyak. Ya, kira-kira sekitar 1,2 Miliar. Tapi mungkin semboyan website kitabisa, atau wecare memang betul, kita bisa. Ya, we care. Amin.

Selain itu kemarin surat saya yang diforward ditanggapi juga oleh Pak Walikota Kupang di salah satu grup. Saya berharap Pak Walikota tidak terlalu marah, dan bisa memahami tulisan saya anak muda yang bekerja berbulan-bulan tapi tidak ditanggapi, ya saya berharap Pak Walikota muncul sebagai seorang Bapak yang mengayomi warga Kota Kupang yang gelisah dengan keselamatan lansia, anak-anak, ibu hamil dan mereka dengan penyakit bawaan yang paling rentan akibat Covid-19.

Sebagai warga Kota Kupang, wajarlah Pak saya mengeluh. Kupang ini daerah merah, mau bilang tidak, apa alat validasinya? Andaikan ada laboratorium qPCR seharusnya kita bisa punya jawaban. Tetapi, kita kan tidak punya laboratorium untuk tes massal di Kota ini.

Kalau ada waktu, kalau boleh Pak Walikota berkenan hadir dalam acara pelatihan di Politani. Senang juga kalau ditengok Pak Walikota, pelatihan kami mulai dari Senin sampai Jumat jam 9 sampai sore. Semoga Bapak berkenan. Ini demi kota kita juga. Sehingga kita bisa berkoordinasi di zona merah mana saja, kita bisa lakukan tes swab massal, atau pool test bisa dijalankan?

Untuk sekarang, kami berharap, kalau tes massal ini bisa jalan, warga kota bisa di-tes swab massal murah, akan ada banyak penghematan. Aktivitas ekonomi bisa hidup. PAD tidak hilang. Saya yang juga sudah jenuh di rumah dan tidak bisa nongkrong entah di warung, bioskop, atau café juga. Ya, saya masih punya gaji, tapi para pekerja informal, dan terutama di sektor jasa hari-hari ini mereka dirumahkan. Apa yang kita bisa buat untuk mereka? Ya, mungkin sekarang dibuat ‘normal’ tapi kalau terjadi outbreak, apa yang kita siapkan? Bagaimana tanggung jawab kita untuk mereka yang pergi ke daerah hijau?

Kami berharap sebenarnya, pemerintah terlibat dalam usaha warga mengatasi Covid-19. Tapi, yaaah, mo karmana le,, apalagi untuk laboratorium tes swab massal dan murah ini. Saya terus terang ngeri sendiri. Takut menyesal di kemudian hari. Kita tidak berbuat yang terbaik selagi masih bisa.

Baru saja akan diumumkan, orang sepertinya longgar sekali dalam jaga jarak, dan belum semuanya terbiasa memakai masker. Kenapa semua orang begitu merasa bebas ya? Padahal kita kan harus waspada! Jangan lengah.

Bagaimana nasib Kota Kupang kalau transmisi lokal merajalela, apalagi warga dari daerah merah, juga sudah bisa masuk ke Kupang secara bebas, dari Surabaya zona merah. Di Pelabuah Fery Bolok penumpang padat sekali? Siapa menjamin mereka semua negatif Covid-19? Apa yang akan kita lakukan, untuk mengantisipasi masih belum terang. Laboratorium sebagai tempat untuk proses testing juga masih belum ada, masih lama baru bisa dibikin tes swab secara massal dan murah. Mudah-mudahan Pak Walikota berkenan memikirkan ini. (Seandainya sejak awal Mei lalu, kita sudah bergerak mereka semua sudah dites, tidak dibiarkan pergi begitu saja…ya, seandainya presentasi kami didengarkan, dan tidak cuma ‘ditelaah’…ada galau juga sih.)

Untuk saat ini, dengan dana 51 juta rupiah ini akan kami pakai sebaik mungkin. Terima kasih teman-teman yang sudah membantu ya.

Mohon yang sudah kirim perpuluhan, derma, atau sumbangan berkenan teks ke nomor hp saya. Agar saya kirimkan laporan keuangan secara reguler. Jika website kami sudah jadi, semuanya akan ada di sana. Terima kasih. Sekali lagi terima kasih ya… baik yang sudah mendoakan dan mengirim sumbangan. Semoga budi baik ini menjadi berkat untuk kita semua.

Untuk yang mau hadir dan ada dalam usaha ini silahkan kirim ke rekening Forum Academia NTT yang saya kelola selama tiga bulan ini. Kalau ada yang lain yang ingin bersatu membantu Kak Fima dan kawan-kawan membangun laboratorium silahkan dikirim ke sini ya:

Nama pemegang Rekening: Lommi Dida Kini Bank NTT, No Rekening: 01602.01.014357-9
Bisa juga ke rekening adik saya, yang lebih nasional a.n Lodimeda Kini Bank BNI, Nomor Rekening: 0575372848

 

Kupang, 15 Juni 2020

Lomi Dida Kini, Bendahara Forum Academia NTT Covid-19

Komentar

Jangan Lewatkan