oleh

Melanjutkan Karya Allah Dalam Keseharian

-Info, Rohani-1.016 views

Semakin banyaknya jumlah penduduk dunia, termasuk di Indonesia, membuat lahan semakin menipis. Manusia semakin hari terus mengisi lahan baru (yang dianggap kosong), baik untuk tempat tinggal maupun untuk kepentingan pekerjaan seperti area persawahan atau pun membangun gedung-gedung perkantoran dan pabrik. Dengan teknologi yang semakin canggih, manusia bahkan menimbun laut dan dijadikan daratan-daratan baru demi kepentingannya sendiri. Pohon-pohon besar yang menghalangi pekerjaan manusia ditebang begitu saja, apalagi yang menghasilkan uang. Hutan semakin habis, bahkan banyak yang sengaja dibakar.

Dengan kondisi yang terus-menerus seperti ini, jika tidak disertai kesadaran bahwa bumi ini tidak hanya dihuni oleh manusia saja, maka makhluk hidup yang lain akan semakin terancam keberadaannya.

Kisah Tuhan Yesus yang menerima baptisan dari Yohanes adalah cerita yang sangat kita kenal sebagai orang Kristen. Namun sayangnya kisah ini seringkali hanya kita pahami dengan kacamata antroposentris, yaitu berpusat kepada manusia. Sehingga kisah Yesus yang diurapi dengan Roh Kudus kita pandang sebagai titik awal Yesus dimuliakan dan mengawali kisah penyelamatannya kepada manusia. Padahal kisah yang sebenarnya adalah cerita yang sangat dipenuhi dengan nuansa kosmis (berhubungan dengan jagat raya). Bayangkan saja, yang berperan dalam baptisan Yesus tidak hanya Yohanes, namun Allah memakai sungai, air, langit dan Roh Kudus dalam rupa burung Merpati. Ini menandakan bahwa kemuliaan Yesus terpancar tidak hanya untuk menyelamatkan manusia saja, akan tetapi semua ciptaan.

Nubuatan tentang penyelamatan oleh Yesus juga telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya. Nubuatan tentang hamba Tuhan dalam Yesaya 42 pun sangat bernuansa kosmis, bahwa Tuhan Allah yang mengirimkan hambaNya untuk penyelamatan adalah Tuhan yang memberi nafas kepada umat manusia di bumi dan yang memberi nyawa kepada yang hidup di bumi. Hamba Tuhan ini juga diberi tugas untuk membuka mata yang buta, membebaskan yang tertawan dan memberi terang bagi mereka yang dalam kegelapan. Dengan merenungkan kedua perikop tersebut, mestinya dalam memahami karya penyelamatan Allah, kita tidak hanya terfokus pada penyelamatan manusia, tetapi juga seluruh ciptaan.

Sehingga kalau dikaitkan dengan semangat Petrus ketika memberikan wejangan kepada keluarga Kornelius, bahwa karya penyelamatan Tuhan Yesus ketika masih ada di dunia yang diawali dari baptisan Yohanes sampai kenaikanNya harus dilanjutkan, maka kita juga harus mulai memperhatikan ciptaan yang lain. Semangat Petrus yang diungkapkan bahwa penyelamatan Allah tidak hanya untuk orang Yahudi, tetapi juga yang bukan Yahudi, mari kita tarik dalam konteks yang lebih luas, yaitu dalam nuansa kosmis. Sehingga kita tetap diberi kesadaran untuk melanjutkan karya Allah, yaitu menyelamatkan lingkungan sekitar kita.

Dalam suasana bulan Penciptaan saat ini, kita sebagai gereja dipanggil untuk lebih sadar pada lingkungan sekitar kita, dengan tidak secara membabi buta dalam mengeksploitasi lingkungan. Sawah, ladang dan kebun memang menjadi salah satu tempat mencari nafkah bagi sebagian besar dari kita (atau saudara kita), namun tetaplah untuk menyisihkan pohon supaya dapat tumbuh di sudut-sudutnya. Memakai plastik memang jauh lebih praktis dan lebih murah, namun jangan juga berlebihan, karena plastik adalah jenis yang sulit dan lama terurai. Binatang juga memiliki hak yang sama dalam keberadaannya di dunia, maka jangan sembarangan memperlakukan binatang, salah satunya burung-burung yang biasa diburu dengan seenaknya.

Pada akhirnya semangat bersaksi yang dimiliki oleh Petrus dan rasul-rasul yang lain mari kita lanjutkan, bukan dengan sudut pandang keuntungan manusia saja, namun juga demi kesehatan bumi beserta seluruh makhluk hidup yang ada di dalamnya. Amin.

 

(Sumber: Gereja Kristen Jawi Wetan)

Komentar