oleh

Menjadi Anak-anak Allah

-Info, Rohani-242 views

Ada sebuah cerita yang patut kita simak: Anak Baik

Di sebuah pesawat terbang, terjadilah percakapan berikut:

Penumpang A  : “Bu, apakah ibu sudah berkeluarga?”

Penumpang B  : “Sudah.”

Penumpang A  : “Sudah punya anak?”

Penumpang B  : “ Oh ya. Anak laki-laki.”

Penumpang A  : “ Apakah ia merokok?”

Penumpang B  : “ Tidak.”

Penumpang A  : “Minum minuman keras?”

Penumpang B  : “Setetespun tidak.”

Penumpang A  : “Suka main perempuan?”

Penumpang B  : “ Sama sekali tidak.”

Penumpang A  : “ Ah, sungguh baiknya dan alangkah bahagianya punya anak seperti itu. Ngomong-ngomong, berapa usia anak ibu?”

Penumpang B  : “ Dia baru saja merayakan ulang tahunnya yang pertama!”

(Diadaptasi dari buku “100 Humor yang Menguatkan Tulang Anda”, Xavier Quentin Pranata, Yogyakarta, Penerbit Andi, 2003: hal. 4)

Tentang menjadi anak yang baik apakah standar kualitasnya? Ini kita masih berbicara perihal kebaikan sebagai anaknya manusia. Tentang kebaikan seorang anak pasti tak bisa dipisahkan dari orang tuanya. Sebab seorang anak pasti mewarisi sifat, sikap, dan karakter orang tuanya baik dari hasil pola pengasuhan, teladan, lingkungan keluarga, dan faktor keturunan genetika biologis alias luri kata bahasa Jawa. Ada beragam standar tentang kebaikan seorang anak, minimal salah satunya menghormati orang tuanya dan melanjutkan genetika yang baik dari leluhurnya.

Lalu bagaimanakah tentang makna atau hakikat menjadi anak-anak Allah? Sebagai orang atau umat Kristen kita sering disebut sebagai anak-anak Allah. Makna kita menjadi anak-anak Allah tentu karena kita dipilih, diselamatkan, dan dipulihkan menjadi Keluarga Allah. Tentang menjadi anak-anak Allah, juga tidak bisa dipisahkan dari pengertian bahwa kita diajak mewarisi dan meniru keluhuran sifat-sifat Allah dalam laku kehidupan. Allah adalah Sang Maha Pemelihara, maka kita yang dikaruniai menjadi anak-anak Allah juga diajak nglakoni memelihara ciptaan.

Saudaraku, perubahan bukanlah perubahan sampai sungguh terjadi perubahan. Pemulihan oleh Allah, seperti yang dilakukan-Nya terhadap Israel menghasilkan pengubahan suasana jiwa, mental, dan karakter. Pada Yeremia 31:3-17 ditunjukkan bagaimana Allah memulihkan Israel supaya Israel mengalami kesukacitaan, kesejahteraan, kegembiraan, kepuasan hidup, dan kecukupan. Allah menghendaki bahwa hal itu juga terjadi atas kita. Kita semua perlu dipulihkan. Karenanya kita diajak mendekat kepada Allah Sang Pemulih! Dan kita yang sudah dipulihkan oleh rahmat Allah diubahkan-Nya supaya memiliki kehidupan yang positif dalam keseharian.

Jemaat yang dikasih Tuhan, Allah yang memelihara dan menyelamatkan Israel juga adalah Allah yang memelihara dan menyelamatkan kita. Oleh karenanya iman, keyakinan, serta hati kita yang dipulihkan diajak untuk selalu percaya bahwa kita senantiasa mengalami pemeliharaan dan penyelamatan Ilahi dalam hidup setiap hari. Termasuk kita pun diajak menghidupi seluruh energi positif sebagai umat yang dipulihkan seperti dinyatakan dalam Yeremia 31:7-14. Tanpa memiliki dan menghidupi daya vitalitas energi positif tersebut, sesungguhnya kita belum mengalami perubahan. Inilah pelajaran dari bacaan pertama pada Minggu ini : bahwa pemulihan Tuhan atas hidup kita membuat kita memiliki energi yang positif, kesukacitaan, kesejahteraan, serta penuh syukur memuji Allah dalam keseharian.

Saudaraku, perubahan bukanlah perubahan sampai terjadi perubahan. Dalam Efesus 1:3-14, semakin diperjelas bahwa manusia yang diubahkan, dikuduskan, diampuni oleh Kristus membawa dampak yang mengubahkan. Minimal mengubah diri sendiri, kita mengalami segala berkat rohani. Dan konsekuensi dari hidup rohani yang diubahkan adalah membuat kehidupan rohani kita mengalirkan berkat bagi kehidupan. Termasuk bagi kehidupan alam semesta. Kehidupan kita yang diampuni dan dikuduskan membawa dampak kita hidup melaksanakan kehendak-Nya, melaksanakan rencana-Nya, termasuk rencana-Nya mewujudkan kebahagiaan dan damai sejahtera bagi alam semesta. Efesus 1:3-14 membimbing kita untuk sungguh mengerti bahwa melalui pengampunan dosa, pengudusan, dan bimbingan Roh Kudus yang kita alami, Allah menghendaki kita untuk mengejawantahkan Kabar Baik dalam praktik kehidupan nyata. Kita diajak-Nya turut dalam karya untuk membebaskan umat dan ciptaan-Nya dari perbudakan dan perusakan.

Dalam Pembukaan Bulan Penciptaan ini, kita ditegur, supaya kita yang diselamatkan-Nya melalui karya penebusan Tuhan Yesus di atas kayu salib, harus turut membebaskan alam ciptaan Tuhan yang tertindas dari segala perusakan yang membinasakan. Sebaliknya bagi mereka yang menngaku sudah mengalami pengampunan Tuhan tetapi justru menjadi perusak alam semesta, membuang sampah sembarangan, menebangi alam sembarangan, sebutan anak-anak Allah adalah sebuah kebohongan dan kemunafikan belaka.

Kita yang diampuni diajak-Nya berjuang memelihara ciptaan-Nya sebagai wujud nyata bukti dari hidup yang telah dikuduskan. Kudus berasal dari kata qadosh, artinya berbeda, sehingga bagi setiap kita yang dikuduskan, kita diajak memiliki mutu yang berbeda dengan tingkah laku duniawi. Kita diajak memiliki kualitas yang berbeda dalam merawat alam. Barangsiapa yang bersungguh-sungguh memperjuangkan hal ini, Roh Kudus menjamin untuk menyertai orang tersebut menghadapi segala hal (Efesus 1:13-14).

Jemaat, perubahan bukanlah perubahan sampai terjadi perubahan. Kekuatan Sang Sabda yang telah mencipta alam raya dengan kebaikan itulah sumber tenaga bagi kita manusia rohani yang menerima-Nya untuk merawat karya Sang Bapa. Untuk turut serta berperan melestarikan kebaikan alam raya yang dicipta-Nya.  Bersama kekuatan Sang Sabda, Injil Yohanes mengajak kita mengerti bahwa tanda nyata seseorang mau menerima Sang Sabda, selain percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, adalah dengan mengasihi alam semesta ini.

Itulah perwujudan kita menjadi anak-anak Allah, menjadi manusia yang dipulihkan, menjadi manusia yang diselamatkan. Kita menjadi anak-anak Allah bila kita memiliki karakter Allah Bapa.  Anak-anak Allah harus mencerminkan tindakan Allah Sang Bapa, termasuk tindakan Allah memelihara alam semesta. Allah Bapa telah mencipta dunia ini dengan segala kebaikan-Nya. Masakan kita anak-anak-Nya tidak melanjutkan tindakan Sang Bapa? Karenanya jangan sampai kita mengaku sebagai anak-anak Allah, tetapi justru merusak alam semesta.

Hari ini menjadi Pembukaan Bulan Penciptaan di GKJW. Kiranya Pembukaan Bulan Penciptaan ini membukakan mata hati kita, supaya kita sungguh menjadi anak-anak Allah yang memelihara karya Sang Bapa. Mari mensyukuri dan melestarikan ciptaan Tuhan! Ingatlah: kita diselamatkan untuk menyelamatkan! Dan menyelamatkan lingkungan adalah salah satu tugas kita saat ini. Ingatlah: kita dipulihkan untuk memulihkan! Dan memulihkan alam sekitar adalah salah satu bagian tanggungjawab yang sangat nyata. Selamat memasuki Bulan Penciptaan. Selamat menjadi anak-anak Allah yang sejati! Diberkatilah kita yang sungguh-sungguh memuliakan-Nya! Amin. (WKW)

Simbolisasi Pembukaan Bulan Penciptaan :

  1.  Penanaman Bibit Pohon atau Tananan di Lingkungan Gereja
  2.  Pemberkatan Pohon

Dapat kita lakukan dengan mendoakan pohon-pohon yang ada di sekitar gereja,  pohon-pohon di mata air, pohon-pohon di pinggir jalan, di taman, dan sekitar lingkungan kita, di gunung yang ada di dekat daerah tempat tinggal kita dan sebagainya supaya tumbuh subur.  Bisa juga  mendoakan bibit pohon yang hendak kita tanam untuk menghijaukan lingkungan, bibit pohon kita taruh di altar sebelum kita tanam. Pohon-pohon tersebut sangat berguna untuk kesejukan kita hidup di lingkungan tersebut.

 

(Sumber: Greja Kristen Jawi Wetan)

Komentar